Hoax Tsunami, Warga Ngungsi

Hoax Tsunami, Warga Ngungsi

  Rabu, 2 January 2019 09:42
MENGUNGSI : Warga menaiki truk terbuka menuju ke tempat yang lebih tinggi. Warga mengungsi karena ada isu tsunami akan menerjang wilayah Sungai Tengar. Namun, info tersebut hoax.

Berita Terkait

KENDAWANGAN - Suasana suka cita memperingati malam pergantian tahun berubah menjadi kepenikan. Warga Dusun Sungai Tengar Desa Mekar Utama Kecamatan Kendawangan, mendapatkan informasi akan ada tsunami menerjang daerah mereka. Warga pun berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Kepala Dusun Sungai Tengar, Aguslan Siregar, mengatakan informasi akan adanya tsunami tersebut tidak diketahui dari mana sumbernya. Namun pada Selasa (1/1) sekitar pukul 01.15 WIB, warga sudah berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. "Ada yang menggunakan truk, banyak juga yang pakai sepeda motor," katanya, kemarin (1/1).

Warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Ada yang mengungsi ke Dusun Sukaria, banyak juga yang mengungsi ke PT BGA. Namun, warga yang tidak mempercayai informasi tersebut memilih untuk menetap di rumah. "Entah info darimana datangnya akan ada tsunami menerjang dusun kami, sehingga warga panik keluar rumah untuk mengungsi," jelasnya.

Dia yang tidak meyakini informasi tersebut memilih untuk menetap di rumah. "Dalam hati saya ini informasi ini tidak benar, karena belum ada informasi resmi dari BMKG. Saya sendiri tidak ikut mengungsi karena pihak Polsek Kendawangan juga menginformasikan bahwa berita akan ada tsunami itu Hoax," ungkapnya.

Pada malam pergantian tahun baru kemarin air laut memang pasang. Menurutnya, hal itu biasa karena memang sudah lumrah terjadi setiap tahun. "Tapi cuaca malam itu memang ekstrim, karena hujan campur angin kencang dan petir melanda dusun kami. Tapi itu bukan tsunami," papar Aguslan.

Mengetahui informasi tersebut tidak benar, dia mengimbau agar warganya kembali kerumah masing-masing. Sekitar pukul 04.00 WIB, warga mulai kembali ke rumah, namun ada juga yang masih bertahan di tempat yang lebih tinggi dan kembali kerumah pada siang harinya.

"Kami berharap kepada pemerintah daerah, khususnya BMKG untuk situasi seperti ini agar menginformasikan ke warga. Update data terbaru terkait cuaca, karena maklum kami masyarakat pesisir pantai sering dihantui bencana tsunami seperti yang terjadi di daerah lain seperti Banten, apalagi tsunami tanpa ada peringatan terlebih dahulu," harapnya.

Camat Kendawangan, Asdewi, mengatakan warga Sungai Tengar mengungsi karena panik terhadap gelombang laut tinggi ditambah lagi adanya informasi adanya potensi tsunami di daerah itu. Namun dia menegaskan, informasi tersebut tidak benar dan disebarkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab.

Menurutnya, pada saat itu air laut memang sedang pasang, ditambah lagi dengan gelombang tinggi. Hal itu disebabkan angin kencang. Terlebih lagi, pada saat sekarang ini air laut memang pasang. "Hanya saja gelombang pasang tidak sampai masuk ke pemukiman warga. Tapi karena adanya informasi hoax soal potensi tsunami itu yang membuat warga panik dan mengungsi, padahal itu tidak benar," tegasnya.

Menururnya, pada Selasa (1/1) pagi warga sudah kembali kerumah masing-masing. Pihak Polsek, Koramil dan kecamatan memberikan penjelasan kepada warga jika informasi yang beredar itu tidak benar. "Jangan percaya info yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Masyarakat jangan panik. Selalu waspada, terutama kepada para nelayan yang melaut, karena kondisi saat ini kemungkinan gelombang tinggi di laut masih ada," imbaunya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas III Rahadi Oesman Ketapang, Aqil Ihsan, meminta agar masyarakat tidak panik dan tetap tenang. Masyarakat diminta untuk tidak mudah termakan isu yang tidak benar yang beredar di media sosial mengenai adanya potensi tsunami di wilayah Kendawangan.

Menurutnya, untuk potensi tsunami tidak ada, hanya gelombang tinggi dan angin kencang saja. "Untuk gelombang tinggi dan angin kencang itu memang berpotensi ada, dan sudah kita imbau sebelumnya. Hanya saja untuk isu tsunami atau gelombang pasang akibat tsunami itu tidak benar dan tidak ada," tegasnya, kemarin (1/1).

Dia menjelaskan, masih banyak masyarakat yang salah paham mengenai gelombang tinggi akibat adanya tsunami dan gelombang tinggi merupakan fenomena alam berbeda. Beberapa hari lalu, untuk wilayah pesisir Kalbar terdapat gelombang maksimum mencapai 2,5 meter dan berpotensi terjadinya pasang maksimum pada tanggal 24-27 Desember lalu.

"Kalaupun ada pasang sampai kerumah warga itu merupakan efek dari banjir rob karena gelombang tinggi. Itu biasanya terdampak pada wilayah pesisir pantai dan berdekatan dengan sungai saat pasang maksimum terjadi," jelasnya.

Aqil meminta kepada masyarakat untuk tidak panik dan terpengaruh dengan isu potensi tsunami, karena itu tidak benar. Dia juga meminta para nelayan untuk selalu waspada terhadap potensi gelombang tinggi, khsusunya nelayan yang menggunkan kapal kecil. "Kalau bisa jangan melaut dulu beberapa hari sampai kondisi cuaca membaik," tutupnya. (afi)

Berita Terkait