Herman Tewas Ditangan Ibu Sendiri

Herman Tewas Ditangan Ibu Sendiri

  Kamis, 21 January 2016 10:01
Foto Wahyu Ismir/Pontianak Post

Berita Terkait

MEMPAWAH-Ditengah kesibukan dalam menangani persoalan eks Gafatar di wilayahnya, Polres Mempawah berhasil mengungkap kasus kematian Hermansyah, 28 warga Jalan A. Rani Rt 09 Rw 05 Desa Kuala Secapah Kecamatan Mempawah Hilir. Korban yang semasa hidupnya dikenal tempramental dan dianggap durhaka itu tewas di tangan ibu kandungnya sendiri. Korban tewas akibat dipukul dengan kayu.

Kapolres Mempawah, AKBP Suharjimantoro, S.Ik melalui Kasat Reskim, AKP Prayitno mengungkapkan kejadian bermula ketika ibu korban, Fatmawati Sood, 43 menasehati adik korban pada Minggu (17/1) sekitar pukul 18.00 WIB.Ibunya menasehati agar si adik bersikap lebih sopan jika ingin meminjam motor milik bibinya. Namun, nasehat ibunya itu justru membuat korban yang juga berada didalam rumah menjadi tersinggung.

Korban merasa nasehat sang ibu justru menyindir dirinya. Korban yang terkenal tempramental itu lantas marah dan pergi dari rumah. Sekitar pukul 21.00 WIB, korban pulang kerumah dan melanjutkan kemarahannya pada sang ibu.Bahkan ketika itu korban tak segan-segan melemparkan asbak ke arah ibunya. Beruntung, asbak tidak mengenai orang yang telah melahirkan dan membesarkannya itu. Tidak puas sampai disitu, korban pun mengangkat kursi dan hendak mengantamkannya kepada si ibu. Meski si ibu hanya pasrah, ternyata niat korban menghujamkan kursi itu pun urung dilakukan.

Sesaat emosi korban pun mereda. Korban pun berlalu dan menonton televisi dengan posisi duduk. Si ibu lantas masuk kedalam kamar dan meminum obat penurun panas untuk menghilangkan rasa demam di tubuhnya. Usai meminum obat, si ibu keluar kamar dan ikut bersama menonton televisi dengan posisi tepat di belakang korban.Dari situlah muncul niat si ibu untuk melampiaskan emosinya. Si ibu lantas mengambil sebatang kayu persegi yang digunakan untuk penyekat antara ruang televisi dan ruang tamu tak jauh dari posisinya duduk.

Entah setan apa yang merasukinya hingga si ibu menghantamkan kayu tepat di bagian tengkuk korban. Mendapatkan hantaman benda keras dari arah belakang, korban pun tersungkur.Namun, korban masih sempat berusaha untuk berdiri dan melakukan perlawanan. Tetapi belum sempat melawan, si ibu kembali menghujamkan kayu tersebut sebanyak lima kali kearah kepala, wajah, punggung, dan tangan. Mendapatkan pukulan bertubi-tubi korban pun tumbang dan tewas berlumuran darah.

Tak lama setelah kejadian itu, adik korban pulang kerumah dan melihat korban sudah tergeletak bersimbah darah. Si ibu sempat meminta anaknya yang masih duduk dibangku kelas II SMA itu membantu membersihkan darah yang berceceran dilantai. Namun, permintaan tersebut tidak dituruti. Bahkan dia pergi kerumah neneknya. Pelaku lantas membersihkan seluruh bercak darah dilantai dengan menggunakan minyak tanah untuk membersihkan jejak kematian korban.

Setelah keesokan harinya Senin (18/1) pukul 05.00 WIB, pelaku meminta adik korban menyampaikan kepada Ketua RT tentang kematian korban. Ketika itu si ibu membuat alibi korban pulang kerumah tengah malam dalam keadaan luka dan meninggal dunia.Sebelumnya, koran ini juga sudah memberitakan mengenai tewasnya Hermansyah.

Edisi 19 Januari tersebut menyebutkan kalau Fatimah menjumpai anaknya yang tidur di ruang tengah, kemudian ditemukan tewas dengan darah di ruang tengah.“Setelah mendapatkan laporan dari warga terkait kematian korban, kami melakukan pengecekan dan olah TKP. Tidak ditemukan ceceran darah lantaran sudah dibersihkan oleh pelaku. Namun, kami mendapatkan sebatang kayu dengan bercak darah didekat rumahnya. Kami menduga kayu itulah menjadi senjata pelaku memukul korban hingga tewas,” terang Prayitno, Rabu (21/1) kepada wartawan.

Polisi lantas membawa mayat korban ke RSUD Rubini Mempawah untuk dilakukan visum luar. Alhasil, ditemukan adanya luka pada bagian tengkorak kepala belakang, lengan dan leher korban. Untuk memperdalam penyelidikan, pihaknya pun berkoordinasi dengan Polda Kalbar untuk melaksanakan otopsi.“Hasil otopsi yang dilakukan dr Hasibuan menyimpulkan kematian korban disebabkan tulang tengkorak retak. Hingga mengakibatkan lapisan keras otak bocor dan lapisan lunak otak mengalami pendarahan. Selain itu, juga ditemukan luka pada bagian leher, mulut, tangan kanan dan punggung akibat hantaman benda tumpul,” papar Prayitno.

Berbekal data itulah, kepolisian melakukan pengembangan penyelidikan. Polisi melakukan investigasi lebih mendalam dengan meminta keterangan pada ibu dan adik korban yang ada dirumah. Polisi pun menyimpulkan keterangan yang disampaikan pelaku cocok dengan penyebab kematian korban sesuai hasil otopsi.“Motif pembunuhan disebabkan korban berperilaku tidak sopan kepada orang tua. Korban yang juga pengangguran ini dikenal memiliki sifat tempramental hingga sering mencaci maki orang tuanya. Karena emosi yang memuncak, pelaku pun memukul korban hingga tewas. Pelaku dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan ancaman pidananya 15 tahun penjara,” sebutnya.

Sementara itu, pelaku yang juga ibu korban, Fatmawati mengaku khilaf telah melakukan pemukulan hingga menyebabkan anak sulungnya itu tewas. Ibu tiga anak ini merasa menyesal telah menghabisi nyawa darah dagingnya sendiri.“Memang dia (korban) sering membuat onar. Semua keluarga sudah tahu dengan sikap dan sifatnya yang tempramental. Sama sekali tidak ada niat saya untuk membunuhnya,” lirih Fatmawati penuh penyesalan.

Dia menuturkan, korban memiliki kepribadian yang tidak baik. Suka membuat ulah dengan berkelahi hingga mabuk-mabukan. Korban juga penggurangan hingga sering meminta uang kepada ibunya dengan cara paksa. Jika keinginannya tidak terpenuhi, maka korban tak segan melayangkan pukulan bahkan senjata tajam.“Kadang dia (korban) baik, tetapi kadang langsung berubah menjadi kasar dengan saya maupun adik-adiknya. Kalau meminta sesuatu harus segera diberikan. Kalau marah suka mau menusuk pakai senjata. Bukan hanya dengan saya, dengan orang lain juga seperti itu,” ujar wanita yang berprofesi jualan kosmetik keliling ini.

Pelaku pun mengaku selama belasan tahun hidup satu rumah bersama korban, dirinya kerap merasa terancam dan tertekan. Hanya dia tetap bertahan dan harus menghadapi kenyataan memiliki anak dengan sikap tempramental.“Saya gugup dan takut. Saya sangat menyesal telah melakukan perbuatan ini. Walau pun dia sering melakukan kekerasan dan kasar, tetap saja dia anak saya. Selama ini saya sudah mengalah hingga akhirnya puncak emosi itu tidak terbendung lagi,” ucapnya sembari beristighfar penuh penyesalan. (wah)

Berita Terkait