Hati-Hati Hipertensi Usia Dini

Hati-Hati Hipertensi Usia Dini

  Sabtu, 17 February 2018 11:00

dr. Fujiyanto // Dokter Umum

BEBERAPA waktu lalu masyarakat Indonesia dikejutkan kabar meninggalnya kakak artis remaja Dea Imut akibat penyakit hipertensi. Padahal, usianya sangat muda, yakni 29 tahun. Hal itu jadi bukti bahwa penyakit hipertensi alias tekanan darah tinggi ternyata nggak cuma mengintai orang tua. 

Hipertensi? Mungkin sobat Z pernah dengar saat orang tua atau kerabat saat berobat ke dokter. Namun, belum mengetahui apa itu hipertensi. FYI, hipertensi adalah naik atau tingginya tekanan darah yang biasa diukur pada lengan atas. Darah berperan penting bagi tubuh dalam membawa oksigen dan nutrisi yang akan disalurkan ke seluruh tubuh.

Agar darah bisa tersebar ke seluruh tubuh, darah dipompa oleh jantung, bagaikan mesin yang terus bekerja setiap saat. Namun, saat hipertensi, darah yang dipompakan dari jantung mempunyai tekanan yang tinggi. Tekanan yang tinggi inilah yang akan menyebabkan beban kerja dari jantung dan organ lain bertambah.

Begitu juga dengan organ tubuh, yang akan rusak jika terus menghadapi beban tekanan darah yang tinggi. Oleh sebab itu, hipertensi menjadi salah satu faktor utama penyebab komplikasi berbagai macam penyakit. Menurut dr. Fujiyanto, hipertensi erat kaitannya dengan penyakit jantung dan stroke yang menjadi penyabab kematian tertinggi di dunia.

Kini, hipertensi bisa menyerang usia berapa pun, baik usia dini, anak, dan remaja. Namun, prosentasenya masih relatif kecil dan nggak sebanyak orang dewasa. Studi yang dilakukan di Swiss pada kelompok anak berusia 10 sampai 14 tahun menemukan 2,2 persen populasi mengalami hipertensi dan 14 persen diantaranya mengalami kelebihan berat badan, atau obesitas.

“Hipertensi pada anak berbeda dengan yang dialami orang tua. Biasanya disebabkan oleh penyakit lain seperti penyakit ginjal,” ujar Fujiyanto.

Dokter umum RSUD Dr. Soedarso Pontianak ini menuturkan, berbagai penelitian menunjukkan faktor keturunan dapat menjadi pemicu terjadinya hipertensi pada remaja, misalnya pada orang tua, kakek atau nenek yang mengalami hipertensi, maka anaknya atau cucunya berisiko juga mengalami hipertensi. Begitu pula faktor kelebihan berat badan atau yang sering kita kenal dengan obesitas.

Kelebihan berat badan (obesitas) bukan hanya dapat menyebabkan hipertensi pada remaja. Anak yang obesitas memiliki peluang terkena obesitas sampai dewasa. Hal ini semakin membuka peluang untuk terjadi komplikasi di kemudian hari seperti penyakit jantung, diabetes, stroke, dan berbagai penyakit lain akibat hipertensi.

Fujiyanto menuturkan, umumnya pengobatan hipertensi pada remaja dilakukan berdasarkan penyabab utamanya. Contonya, jika hipertensi disebabkan oleh penyakit ginjal, maka pengobatannya diutamakan berfokus pada penyakit ginjal. Namun, yang paling penting untuk diperhatikan adalah pencegahannya karena lebih baik mencegah daripada mengobati.

Satu hal yang harus diketahui, kebiasaan yang baik sejak remaja akan diteruskan sampai dewasa dan usia tua. Oleh sebab itu, alumnus Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya ini menuturkan, mulailah melakukan kebiasaan dan pola hidup sehat sedari remaja untuk mencegah terjadinya hipertensi dan berbagai macam penyakit penyertanya. (ghe)

Hati-Hati Hipertensi Usia Dini

dr. Fujiyanto // Dokter Umum

BEBERAPA waktu lalu masyarakat Indonesia dikejutkan kabar meninggalnya kakak artis remaja Dea Imut akibat penyakit hipertensi. Padahal, usianya sangat muda, yakni 29 tahun. Hal itu jadi bukti bahwa penyakit hipertensi alias tekanan darah tinggi ternyata nggak cuma mengintai orang tua. 

Hipertensi? Mungkin sobat Z pernah dengar saat orang tua atau kerabat saat berobat ke dokter. Namun, belum mengetahui apa itu hipertensi. FYI, hipertensi adalah naik atau tingginya tekanan darah yang biasa diukur pada lengan atas. Darah berperan penting bagi tubuh dalam membawa oksigen dan nutrisi yang akan disalurkan ke seluruh tubuh.

Agar darah bisa tersebar ke seluruh tubuh, darah dipompa oleh jantung, bagaikan mesin yang terus bekerja setiap saat. Namun, saat hipertensi, darah yang dipompakan dari jantung mempunyai tekanan yang tinggi. Tekanan yang tinggi inilah yang akan menyebabkan beban kerja dari jantung dan organ lain bertambah.

Begitu juga dengan organ tubuh, yang akan rusak jika terus menghadapi beban tekanan darah yang tinggi. Oleh sebab itu, hipertensi menjadi salah satu faktor utama penyebab komplikasi berbagai macam penyakit. Menurut dr. Fujiyanto, hipertensi erat kaitannya dengan penyakit jantung dan stroke yang menjadi penyabab kematian tertinggi di dunia.

Kini, hipertensi bisa menyerang usia berapa pun, baik usia dini, anak, dan remaja. Namun, prosentasenya masih relatif kecil dan nggak sebanyak orang dewasa. Studi yang dilakukan di Swiss pada kelompok anak berusia 10 sampai 14 tahun menemukan 2,2 persen populasi mengalami hipertensi dan 14 persen diantaranya mengalami kelebihan berat badan, atau obesitas.

“Hipertensi pada anak berbeda dengan yang dialami orang tua. Biasanya disebabkan oleh penyakit lain seperti penyakit ginjal,” ujar Fujiyanto.

Dokter umum RSUD Dr. Soedarso Pontianak ini menuturkan, berbagai penelitian menunjukkan faktor keturunan dapat menjadi pemicu terjadinya hipertensi pada remaja, misalnya pada orang tua, kakek atau nenek yang mengalami hipertensi, maka anaknya atau cucunya berisiko juga mengalami hipertensi. Begitu pula faktor kelebihan berat badan atau yang sering kita kenal dengan obesitas.

Kelebihan berat badan (obesitas) bukan hanya dapat menyebabkan hipertensi pada remaja. Anak yang obesitas memiliki peluang terkena obesitas sampai dewasa. Hal ini semakin membuka peluang untuk terjadi komplikasi di kemudian hari seperti penyakit jantung, diabetes, stroke, dan berbagai penyakit lain akibat hipertensi.

Fujiyanto menuturkan, umumnya pengobatan hipertensi pada remaja dilakukan berdasarkan penyabab utamanya. Contonya, jika hipertensi disebabkan oleh penyakit ginjal, maka pengobatannya diutamakan berfokus pada penyakit ginjal. Namun, yang paling penting untuk diperhatikan adalah pencegahannya karena lebih baik mencegah daripada mengobati.

Satu hal yang harus diketahui, kebiasaan yang baik sejak remaja akan diteruskan sampai dewasa dan usia tua. Oleh sebab itu, alumnus Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya ini menuturkan, mulailah melakukan kebiasaan dan pola hidup sehat sedari remaja untuk mencegah terjadinya hipertensi dan berbagai macam penyakit penyertanya. (ghe)