Hasil Sidang Isbat, Lebaran Serempak Besok

Hasil Sidang Isbat, Lebaran Serempak Besok

  Selasa, 4 June 2019 05:14
HILAL: Seorang perempuan menggunakan teleskop untuk melihat hilal, yang menjadi penanda akhir bulan Ramadan. Pemerintah melalui sidang isbat, memutuskan awal Lebaran jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019. CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP

Berita Terkait

Tuntaskan Penyatuan Kalender Hijriah

JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) menuntaskan sidang isbat tadi malam (3/6). Hasilnya, pemerintah memastikan bahwa 1 Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu besok (5/6). Dengan begitu, bisa dipastikan bahwa Idul Fitri tahun ini dirayakan serentak. Sebelumnya, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah mengumumkan bahwa besok adalah 1 Syawal.

Berdasar hasil pengamatan petugas rukyat pada 105 titik di seluruh wilayah Indonesia, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan bahwa sampai kemarin hilal belum tampak. ”Bahwa dari seluruh wilayah di tanah air, hilal berada di bawah ufuk,” tutur dia. Keterangan tersebut diungkap Lukman setelah mendengarkan laporan dari seluruh petugas rukyat dari seluruh provinsi.

Dari semua petugas itu, tidak ada yang melaporkan melihat hilal kemarin. ”Jadi, tidak ada satu pun yang berhasil melihat hilal,” ujar pejabat yang biasa dipanggil Lukman tersebut. Karena itu, dia menyampaikan bahwa Ramadan tahun ini genap menjadi 30 hari. ”Dan, 1 Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019,” tambahnya. 

Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher menyambut baik keputusan Kemenag. Dia menyebutkan bahwa hisab maupun rukyat menuntun pemerintah untuk menentukan 1 Syawal esok. Selanjutnya, dia berharap pemerintah bersama MUI segera menuntaskan kajian kalender Hijriah bersama. Tujuannya, ke depan tidak ada lagi perbedaan penanggalan kalender Hijriah.

”DPR terus mendorong pemerintah untuk mengkaji pembuatan kalender bersama,” ungkap Ali. Kajian terkait hal itu, diakui Menag, bukan barang baru. Pihaknya sudah jauh hari mengambil langkah-langkah strategis. ”Berbagai pertemuan sudah sering kita lakukan untuk mencari titik temu kriteria yang disepakati sehingga kita punya acuan yang sama,” paparnya.

Menurut dia, penyatuan kalender Hijriah penting. Namun, itu bukan perkara mudah. Sebab, mensyaratkan dua hal yang harus disepakati semua pihak. ”Pertama, kesepakatan kriteria pada posisi hilal seperti apa. Yang kita bersepakat hilal itu ada atau tidak ada atau tidak bisa dilihat,” jelasnya. ”Kedua, kesepakatan siapa pihak yang dapat otoritas untuk melakukan isbat,” lanjut dia.

Lukman berharap, ikhtiar melalui kajian kalender Hijriah bersama segera tuntas. Dalam waktu dekat, dia menyatakan bahwa MU bersama sejumlah ahli dan pakar akan melaksanakan kajian ilmiah untuk mewujudkan hal itu. ”Mudah-mudahan kita bisa bersepakat berapa sebenarnya kriteria hilal yang bisa dilihat,” imbuhnya. Dengan begitu, keinginan untuk tidak ada lagi perbedaan dalam penanggalan bulan Hijriah akan terwujud. 

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Yusnar Yusuf menuturkan, langkah-langkah yang diambil Kemenag untuk menentukan tanggal 1 Syawal sudah sesuai dengan ketentuan. Karena itu, 1 Syawal 1440 H besok disepakati bersama. Masyarakat Indonesia tidak perlu lagi meragukan keputusan itu. ”Yang dinyatakan Menag, 1 Syawal jatuh pada 5 Juni 2019,” jelasnya. 

Pakar astronomi dari tim falakiah Kemenag Cecep Nurwendya pun menyampaikan hal serupa. Cecep menyebutkan bahwa sampai kemarin tidak ada referensi empiris visibilitas atau ketampakan hilal awal Syawal tahun ini yang bisa teramati dari seluruh wilayah Indonesia. ”Semua wilayah Indonesia memiliki ketinggian hilal negatif. Hilal terbenam terlebih dahulu dibanding matahari,” terang dia. Meski demikian, secara hisab, awal Syawal memang sudah ketahuan. Tanggalnya sesuai dengan yang sudah diumumkan Lukman.

Serupa dengan pemerintah, para perukyat dari Lajnah Falakiyah PB NU dan pengurus cabang di 99 titik pemantauan hilal se-Indonesia melaporkan tidak bisa melihat hilal. Ketua PB NU Robikin Emhas menyatakan, sesuai perhitungan (hisab), posisi hilal berada di titik 1 derajat. Posisi itu berada jauh di bawah posisi imkanur rukyat atau batas terendah bisa dilihatnya hilal. Karena itu, PB NU mengeluarkan ikhbar resmi bahwa umur Ramadan tahun ini adalah 30 hari atau dikenal dengan istilah istikmal. (syn/tau/c10/oni)

 

Berita Terkait