Hasil DNA Positif Santoso

Hasil DNA Positif Santoso

  Sabtu, 23 July 2016 10:25
Santoso alias Abu Wardah

Berita Terkait

JAKARTA – Polisi telah menyelesaikan proses tes DNA terhadap Santoso alias Abu Wardah. Hasilnya dipastikan jenazah yang ditembak oleh tim Satgas Tinombala itu adalah Santoso, pimpinan kelompok teror di Poso, Sulawesi Tengah. "Hasil DNA sudah keluar, dan positif Santoso," terang Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Jumat (22/7) di Mabes Polri.

Terkait dengan pemakaman Santoso, Tito menuturkan pihaknya akan menyerahkan hal itu ke Kapolda Sulteng Brigjen Rudy Sufahriadi dan otoritas setempat. "Soal pemakaman saya serahkan ke Kapolda dan Otoritas setempat di sana," tambahnya.

Terkait teknis pemakaman nanti, mantan Kapolda Metro Jaya itu mengingatkan jagnan sampai menimbulkan kegaduhan. "Saya hanya pesan pada waktu pemakaman jangan sampai muncul kegaduhan, dan jangan ada kesan heroik karena dia itu pelanggar hukum," bebernya, Jumat (22/7) di Mabes Polri.

Diketahui, Santoso tewas usai terlibat baku tembak di Tambarana, Poso Pesisir Utara pada Senin (18/7) lalu. Dia tewas tertembak di perut dan punggung oleh tim Satgas Tinombala.

Saat baku tembak itu, ada dua orang pria tewas, yakni Santoso dan anak buahnya, Muchtar. Sedangkan tiga lainnya kabur yakni satu pria dan dua wanita. Polisi menduga tiga orang yang kabur yakni Bas‎ri, dan dua perempuan ialah istri Basri dan istri Santoso.

Semakin Melemah

Kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso alias Abu Wardah Asy Syarqi alias Kombes alias Pakde semakin melemah. Apalagi setelah Santoso dipastikan tewas ditembak anggota Raider Kostrad dalam Operasi Tinombala. Jumlah mereka pun diprediksi hanya sisa 19 orang. Mereka masih bersembunyi di hutan belantara Sulawesi Tengah.

Kapolri Tito Karnavian menegaskan, setelah Santoso tewas maka kelompoknya semakin melemah. "Santoso kan difigurkan sebagai pimpinan, sudah pasti melemah," tegas Tito di Kejaksaan Agung, Jumat (22/7).

Sebelum Santoso, sudah ada beberapa bos MIT yang tewas ditembak Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Antara lain Sabar Subagyo alias Daeng Koro, yang juga mantan anggota Kopassus TNI AD pada April 2015 lalu. Bahkan, sejumlah kurir maupun kaki tangan Santoso sudah banyak yang ditangkap maupun ditembak mati. "Kini mereka tinggal 19 orang," kata mantan Kepala Densus 88 Antiteror Mabes Polri itu. Namun demikian, Tito tidak mau menganggap remeh meski anggota MIT tinggal 19 orang.

Sebab, Tito menjelaskan, dalam kelompok itu masih ada sosok yang difigurkan bisa mengganti Santoso.  Antara lain Basri dan Ali Kolara. Mereka dinilai punya kemampuan dan militansi yang tinggi sebagai teroris.

Karenanya, Tito menegaskan, operasi penumpasan kelompok Santoso tidak akan dihentikan. Dia menekankan, operasi harus bisa menangkap Ali dan Basri maupun belasan orang lainnya yang buron. "Oleh karena itu jangan sampai buru-buru dicabut operasi ini," katanya.

Menurut Tito, Operasi Tinombala gabungan TNI dan Polri ini sangat efektif. Sejak  Operasi Tinombala digelar, tidak ada masyarakat maupun anggota Polri serta TNI yang menjadi korban.

Kelompok MIT yang sebelumnya mendikte polisi dan melakukan serangan di mana-mana sudah tidak terlihat.  Operasi Tinombala berhasil melemahkan kelompok MIT secara bertahap.

Karenanya, kata dia, kalau operasi dihentikan dikhawatirkan MIT bisa melakukan regrouping dan muncul lagi dengan kekuatan baru.

Menurut Tito, kini saat yang tepat untuk terus menekan kelompk MIT. Ini supaya tokoh utama MIT saat ini yakni Ali Kalora dan Basri bisa segera ditangkap. "Ali Kalora dan Basri misalnya, kita harus lakukan tekanan saat sekarang ini dan jangan kendur," tegasnya.

Tito tidak mengimbau mereka menyerahkan diri. Sebab, kata Tito, menyerahkan diri merupakan hal yang haram bagi kelompok teroris. Namun, Tito mengimbau agar mereka yang masih ada di atas gunung untuk segera turun mengikuti proses hukum. "Kami akan bantu mereka kalau mereka turun sendiri. Itu akan menjadi faktor yang meringankan hukuman mereka," kata mantan Kapolda Metro Jaya dan Papua itu. (Ody)

Berita Terkait