Harus Memutar Lewat Terowongan Bawah Tol yang juga Terendam

Harus Memutar Lewat Terowongan Bawah Tol yang juga Terendam

  Minggu, 10 March 2019 09:32
PERSIAPAN PERNIKAHAN: Kursi diangkut dengan rakit dari batang pisang. RIANA/JAWAPOS

Berita Terkait

Menyiasati Banjir agar Hajatan Mantu Tetap Jalan 

Hajatan mantu Supriyanto harus berhadapan dengan putusnya akses jembatan ke dusun tempat dia tinggal akibat banjir. Kursi, peralatan dekorasi, sampai tukang masak memang bisa diangkut rakit dari batang pisang. Tapi, bagaimana dengan enam ratus tamu undangan yang akan datang?    

EKO HENDRI SAIFUL, Madiun

SELAMA sekitar 10 menit, berkali-kali Patmiasih menjerit. ”Tolong, tolong, tolong,” teriaknya. 

Perempuan 38 tahun itu tengah menyeberangi Sungai Kalimati, anak Bengawan Solo. Dengan mengandalkan getek (rakit) gedebok (batang pisang). 

Yang membuatnya sulit tenang, getek yang ditumpanginya sukar diajak kompromi. Selain lelet, getek sepanjang empat meter itu sulit diarahkan. Bahkan, lebih sering timbul tenggelam.

”Kapok aku. Tapi, piye maneh (kapok saya. Tapi, bagaimana lagi),” kata Patmiasih setelah berhasil turun dari rakit. 

Napasnya masih ngos-ngosan setelah berhasil melewati kali selebar 10 meter itu. Saat didekati, perempuan kelahiran Madiun tersebut sempat meminta waktu untuk menenangkan diri dan menata kata-kata.

”Hari ini (kemarin, Red) saya disuruh kakak belanja ke pasar. Besok ada pernikahan anaknya,” kata Patmiasih. 

Adik kandung Supriyanto itu bercerita bahwa banjir telah membuat saudaranya kelimpungan dan tak bisa tidur nyenyak. Sebab, hajatan yang direncanakan jauh-jauh hari terganggu karena akses ke lokasi resepsi terputus. 

Dusun Kemantren, Desa Bagi, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, terisolasi sejak Kamis (7/3). Sungai Kalimati yang mengelilingi dusun itu dipenuhi air. Dua jembatan yang biasanya dipakai warga untuk menyeberang tak bisa lagi dimanfaatkan. Jangankan untuk jalan, bentuk fisiknya tak lagi terlihat karena terendam air.

Praktis, kondisi itu membuat warga dua RT di Dusun Kemantren kebingungan. Sebanyak 60 kepala keluarga (KK) tak bisa bepergian. Mereka hanya berdiam diri di rumah sambil menunggu ketinggian air sungai berkurang.

Banjir benar-benar dirasakan berat oleh warga. Sebab, sebelumnya tidak sampai separah kali ini. Penduduk dusun benar-benar merasakan terisolasi. Itu juga dirasakan Supriyanto yang sedang mempersiapkan hajatan untuk putrinya.

Penasaran dengan cerita tentang ketua RT 28 Desa Bagi itu, wartawan mencoba menemuinya. Namun, ternyata upaya itu tidak gampang diwujudkan. Untuk menggapai rumahnya, wartawan harus memutar hingga 2,5 kilometer. 

Satu-satunya akses adalah lewat terowongan bawah tol Kertosono–Ngawi yang dikenal sebagai jalur sepi. Hambatan masih sempat menghantui. Terowongan yang gelap gulita saat malam itu masih dipenuhi air. Tingginya sekitar 30 sentimeter. 

”Seharusnya hari ini (kemarin, Red) semua persiapan sudah selesai. Namun, hingga saat ini terop dan dekorasi baru bisa dipasang,” tutur Supriyanto di rumahnya. 

Bapak dua anak itu mengaku pusing. Acara resepsi yang sudah disusun rapi terganggu karena bencana alam.

Bahkan, keluarga Supriyanto sempat menunda beberapa kegiatan. Acara selamatan (tasyakuran) yang seharusnya digelar Kamis malam diundur Jumat malam. Terpaksa 140 surat undangan disebar ulang karena kondisi jembatan tak memungkinkan untuk dilewati. 

”Saya anggap ini takdir. Sekarang saya dan istri terus mencoba menenangkan anak,” kata Supriyanto.  Lelaki berusia 48 tahun itu menjelaskan bahwa musibah membuat anaknya sedih. Bahkan, Yensi, anaknya, sering mengeluh dan menangis di kamarnya karena hari bahagianya tak berjalan sesuai rencana. ”Tapi, dia (Yensi, Red) sudah mulai mengerti. Calon suaminya juga memotivasinya,” tambah Supriyanto.

Hingga kemarin, hati bapak dua anak itu belum tenang. Salah satu yang dipikirkan adalah akses untuk undangan yang akan mendatangi resepsi hari ini pukul 10.00. Sebanyak 600 tamu tak mungkin diangkut rakit satu per satu.

”Terpaksa sebagian akan dilewatkan terowongan tol. Saya meminta bantuan tetangga untuk mengaturnya,” kata Supriyanto. 

Dia terus berdoa agar cuaca membaik. Setidaknya, air di Kalimati surut dan jembatan bisa normal dan dilewati.

Meski masih waswas, Supriyanto mengaku bersyukur. Banyak keluarga dan tetangganya yang menaruh simpati. Secara sukarela, mereka bekerja keras membantu persiapan hajatan. Warga bergotong royong menyiapkan pesta pernikahan yang rencananya juga dihadiri banyak tamu dari Surabaya.

Supriyanto mengaku trenyuh saat warga berinisiatif membuatkan getek dari batang pisang. Rakit itu diandalkan selama kegiatan persiapan pernikahan. Kemarin moda transportasi tradisional itu dipakai untuk mengangkut kursi dan peralatan dekorasi. Tidak hanya mengusung peralatan, tapi juga juru masak hajatan.

”Ada lima orang yang saya minta tolong untuk memasak. Kemarin mereka diangkut satu per satu naik rakit,” kata Supriyanto, lantas tertawa. 

Lingkungan tempat tinggalnya memang terisolasi. Namun, dia masih bersyukur karena genangan air di rumahnya sudah menghilang.

Sebelumnya, pada Rabu, air memang sempat masuk ke lingkungan tempat tinggalnya. Muncul genangan setinggi 15 sentimeter di sekitar rumahnya. Beruntung, ketinggian air terus menyusut dan tak mengganggu persiapan pernikahan. (*/c10/ttg) 

Berita Terkait