Harga Naik Akibat Tingginya Permintaan, Bukan Ulah Spekulan

Harga Naik Akibat Tingginya Permintaan, Bukan Ulah Spekulan

  Selasa, 30 April 2019 10:22
PANTAU HARGA: Menjelang Ramadan, tim gabungan meninjau harga bahan pokok di sejumlah ritel modern di Pontianak, Senin (29/4). HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Melihat Harga Kebutuhan Pokok Menjelang Puasa dan Lebaran

Kementerian Perdagangan memastikan harga bahan di Kota Pontianak relatif stabil meski terjadi kenaikan untuk beberapa komoditas. Hal itu dipastikan setelah melakukan identifikasi bahan pokok menjelang puasa dan lebaran di Hypermart dan Transmart, Senin (29/4) malam. Para pengusaha diharapkan tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan.

----

KEPALA Biro Organisasi dan Kepegawaian Kementerian Perdagangan Budi Santoso mengatakan harga-harga kebutuhan pokok yang dipantau di dua retail modern tersebut tidak jauh berbeda. Hal itu karena sudah ada ketetapan Harga Eceran Pemerintah (HET).

“Artinya bahwa mereka (retail modern) sudah menerapkan aturan dari pemerintah untuk harga bahan pokok,” kata Budi saat diwawancarai Pontianak Post, malam kemarin. 

Meski demikian, ia tak menampik memang terjadi kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti ayam, cabai rawit, bawang merah, bawang putih hingga telur. Namun, dipastikannya bahwa kenaikan harga itu karena faktor permintaan dan bukan ulah spekulan. 

Ia mencontohkan pada telur. Kenaikan harga itu disebabkan tingginya permintaan. Masyarakat membutuhkan telur untuk membuat aneka produk makanan. Sedangkan untuk stok dipastikan jumlahnya tidak turun dan tetap stabil. “Jadi naik karena permintaan tinggi dan bukan karena penimbunan,” sebut Budi. 

Begitu juga untuk bawang merah dan bawang putih. Budi meyakini harga dua komoditas itu akan kembali turun. Bawang merah misalnya, saat ini sedang panen. Sedangkan bawang putih sudah mulai masuk dari impor. 

Ia mengingatkan agar pengusaha tidak nakal dan mempermainkan harga sehingga menimbulkan gejolak di pasar. Ancaman berupa pencabutan izin jika menimbun bahan pokok. 

AKP Tri Prasetyo, Kanit Tindak Krimsus Polda Kalbar memastikan pemantauan harga terus dilakukan. Meski terjadi kenaikan namun belum menimbulkan gejolak di pasar. “Kami pantau terus di 14 kabupaten/kota,” kata dia.

Diakuinya harga daging mengalami kenaikan, terutama di Kapuas Hulu. Harganya bahkan lebih tinggi dari HET yang sudah ditetapkan pemerintah. “HET daging itu Rp125 ribu. Sedangkan di sana (Kapuas Hulu.red), harga daging Rp140 ribu, tetapi masyarakat tidak komplain karena melihat kondisi yang jauh sehingga berpengaruh pada tingginya harga,” jelas Tri di sela-sela Identifikasi bahan pokok menjelang puasa dan lebaran di dua retail modern, kemarin malam. 

Menurutnya, sewaktu-waktu operasi pasar akan dilakukan jika terjadi kenaikan harga jauh di atas HET. Operasi pasar itu dimaksudkan untuk memotong mata rantai distribusi pangan. “Caranya mendekatkan dan menghadirkan produsen di pasar,” katanya. 

“Kami mengajak seluruh pelaku usaha untuk ikut menstabilkan harga ketika terjadi kenaikan agar tidak terjadi gejolak di pasar,” ajak Tri. (mse)

Berita Terkait