Harga Kamar Hotel Capai Puluhan Juta Rupiah

Harga Kamar Hotel Capai Puluhan Juta Rupiah

  Jumat, 27 July 2018 10:00
BERBENAH: Stadion Sultan Syarif Abdurahman terlihat dari udara lebih tertata rapi kemarin. Dalam waktu dekat, stadion ini akan digunakan untuk acara Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional 2018 yang akan digelar besok.

Berita Terkait

Jelang Gelaran Pesparawi di Pontianak

PONTIANAK – Menjelang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional ke-12, harga sewa kamar hotel di Kota Pontianak melonjak berlipat-lipat. Bahkan, di sejumlah situs Online Travel Agent (OTA), harganya tidak masuk akal. Ada yang mencapai puluhan juta rupiah.

Terutama pada hari pelaksanan Pesparawi 29 Juli-4 Agustus, serta beberapa hari sebelum dan sesudah acara. Di situs Traveloka misalnya, harga kamar standar untuk sejumlah hotel bintang tiga dan bintang empat di Pontianak berkisar enam juta sampai puluhan juta. Bahkan ada Hotel Maestro harga kamarnya tembus Rp80 juta rupiah, untuk junior suite room. Di media sosial, tangkapan layar harga sewa kamar hotel tersebut menjadi viral.  

Hotel di Kota Pontianak dan sekitarnya memang sudah dipastikan tidak akan mampu menampung jumlah tamu Pesparawi. Jumlah peserta dan tamu event akbar ini diperkirakan mencapai sembilan ribu hingga belasan ribu orang. Sementara, jumlah kamar hotel di Pontianak hanya 4.500 unit. Sisa kebutuhan kamar diambil dari asrama pemerintah dan homestay. 

Pontianak Post kemudian mengonfirmasi kebenaran tentang harga selangit ini kepada Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta para general manager hotel. Ketua PHRI Kalbar, Yuliardi Qamal membenarkan daftar harga yang tercantum di situs tersebut. Namun, kata dia, sebetulnya kamar  tersebut tidak ada atau tidak tersedia. 

“Harganya benar tetapi bukan riil. Karena kamarnya sudah penuh semua. Karena kesalahan sistem di aplikasi,” jelasnya. Yuliardi menerangkan, dalam aplikasi OTA bersangkutan, sedianya pihak hotel hendak menutup pemesanan tetapi gagal. Untuk menyiasatinya, kemudian harga dimainkan. 

“Kamar-kamar di hotel itu sudah full semua. Sedangkan di aplikasi untuk booking online-nya tidak bisa di-close. Maka dikasihlah harga seperti itu. Dengan harga tersebut harapannya tidak ada konsumen yang akan beli (pesan, red) kamar tersebut,” paparnya.

Dia sendiri sudah meminta penjelasan dan berkoordinasi dengan seluruh pimpinan hotel yang harganya gila-gilaan itu. “Ternyata memang kendala di penyedia aplikasinya. Kalau harga di aplikasi tidak dinaikkan, orang pasti akan tertarik membeli. Padahal kenyataannya kamar sudah habis. Jadi terpaksa harga ditinggikan sekali agar orang tidak mau beli sama sekali,” tukasnya.

Hal tersebut juga disebutkan General Manager Hotel Grand Mahkota, Mochamad Rizal Razikan. Ia menyebutkan, sebagian hotel yang bekerjasama dengan OTA bersangkutan tidak bisa melakukan penutupan pemesanan. Di aplikasi kamar tertulis masih tersedia. Padahal nyatanya sudah penuh. Lantaran status ketersediaan tidak bisa diubah, akhirnya Hotel Grand Mahkota menjual kamar dengan harga Rp8 juta untuk kelas standar. 

“Harga kamar yang ter-posting memang benar. Karena full booked, jadi kami sengaja mem-posting harga itu. Harapannya supaya tidak di-booking orang. Itu alasannya. Kami tidak bisa menutup atau memblokir begitu saja di aplikasi karena kami sudah kontrak dengan OTA,” urainya.

Namun pengalaman setiap hotel berbeda-beda. Tidak semua hotel mendapatkan kendala yang sama. Hotel Aston Pontianak misalnya. Hasil yang muncul di pencarian tertulis ‘kamar tidak tersedia’. “Kamar kami penuh sampai 5 Agustus. Ada 165 kamar yang dipesan untuk Pesparawi. Kami kebagian rombongan dari Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara. Sementara 30 kamar lain di-booking tamu non-rombongan,” papar Arifin, Humas Hotel Aston Pontianak.

Hal serupa dialami Hotel Harris Pontianak. Di aplikasi Traveloka, status ketersediaan kamar penuh dan harga yang tertera normal. “Harris sepertinya tidak ikutan harganya seperti itu di aplikasi ya,” kata Director of Sales Hotel Harris Pontianak, Adi. 

Menurutnya, kamar Hotel Harris sebagian besar dipesan oleh Panitia Pesparawi. Harga yang diberikan juga sesuai kesepakatan dengan panitia. “Dari awal komitmen sama harga jual. Dan sudah konfirmasi harga sesuai dengan kontrak dari Panitia Pesparawi,” ungkapnya.

Dedi, salah seorang pegiat wisata menilai masalah harga tampilan yang selangit di situs dan aplikasi OTA tentu dapat merusak citra pariwisata di Pontanak. Apalagi di era sekarang banyak orang menggunakan OTA sebagai sarana review tempat, pembelian tiket bepergian hingga akomodasi hotel. “Apalagi situs itu bisa dilihat orang di seluruh dunia. Kalau harga kamar kita tertulis sampai puluhan juta kan jadi jelek kesannya,” kata dia. (ars)

 

Berita Terkait