Harga Gabah Terkerek Turun

Harga Gabah Terkerek Turun

  Senin, 7 Agustus 2017 09:44
MERONTOKKAN PADI: Petani padi di kawasan Kabupaten Kubu Raya sedang melakukan proses perontokan padi usai melakukan panen, kemarin. Para petani mengeluhkan harga gabah yang terus turun. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK – Isu perberasan mencuat dalam beberapa waktu belakangan ini. Terutama pasca penggerebekan gudang beras PT IBU di Jakarta yang memproduksi beras Makyuss dan Ayam Jago. Isu ini ternyata berdampak bagi penjualan gabah di Kalimantan Barat. Di antaranya dirasakan para petani di Kabupaten Sambas. 

Guntur Sp, Sekretaris Komisi II DPRD Kalbar mengatakan, harga gabah di tingkat petani di Kabupaten Sambas turun tajam. Hal ini diketahuinya usai bertatap muka dengan kelompok tani di Kabupaten Sambas. ”Harga gabah turun tajam, tetapi tetap saja tak ada yang mau beli. Petani terancam kehilangan pendapatan,” katanya kepada Pontianak Post, kemarin.

Guntur mengatakan, pada 2016, harga gabah di Sambas sempat menyentuh level Rp5.000/kg. Namun pada sekarang harganya menurun tajam menjadi hanya Rp3.000/kg. “Turunnya harga gabah ini sangat memukul para petani,” kata Guntur. 

Guntur tidak mengetahui pasti penyebab turunnya harga gabah tersebut. Namun dari berdasarkan informasi, hal ini karena para tengkulak kini tengah menahan diri untuk membeli gabah petani. Di Kecamatan Jawai Selatan, Kabupaten Sambas misalnya, gabah petani yang jumlahnya sangat banyak, hingga puluhan ton tidak tertampung. ”Para penampung, tengkulak atau cangkau justru hilang ditelan bumi. Gabah petani tak dibeli. Alasan mereka takut ditangkap,” katanya.

Politisi PAN Kalbar ini menjelaskan bahwa stok gabah di Sambas pada masa sekarang kabarnya cukup melimpah. Para petani padi baru saja melakukan panen dalam jumlah besar. Mereka berharap harga gabah kembali dinormalkan atau pemerintah daerah memberikan subsidi. 

”Misalnya membeli gabah mereka, supaya ada perputaran kembali. Petani bisa lagi membeli bibit, pupuk dan bercocok tanam kembali,” ujarnya. ”Jangan dibiarkan seperti begini. Harus dicarikan solusi, jika tak ingin petani enggan ke sawah lagi,” timpal dia.

Bupati Sambas, H Atbah Romin Suhaili Lc mengatakan, saat ini produksi padi petani Sambas cukup melimpah. Bahkan, saking melimpahnya padi terutama memasuki masa panen, petani di Sambas sampai kesusahan untuk menjual gabahnya. “Gabah susah

dijual kalau sudah masuk musim panen. Belum lagi harga yang turun. Kondisi inilah yang menyebabkan, petani di Sambas harus menjual gabahnya ke pembeli dari luar Sambas dengan harapan padinya laku dengan harga yang tinggi,” katanya.

Masalahnya, kata Atbah, seringkali beras yang dijual dari Sambas itu kembali lagi ke daerah itu dengan merek luar. “Bisa saja padi yang dijual ke luar itu masuk lagi ke Sambas dengan merek khusus,” katanya.

Sementara itu, hal senada juga dialami para petani di Kabupaten Kubu Raya. Harga gabah yang rendah dikeluhkan para petani. Misalnya disampaikan oleh Sulaiman dan Sutina, petani asal Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya. “Harga padi susah naik,” kata Sulaiman. Padahal, jika harga gabah tinggi petani bisa sedikit bernapas lega. “Kalau harga padi naik petani bisa mendapat tambahan pendapatan,” tambahnya.  ‘

Hal senada disampaikan Ahmad, petani dari Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Ahmad memiliki lahan seluas dua hektare wilayah Jeruju Besar. Saat panen biasanya para pengepul datang untuk membeli. ”Harganya gabahnya masih di bawah Rp5.000 per kilogram,” katanya. 

Dia berharap harga padi bisa naik di atas Rp5000/kg. Sehingga dia bisa merasakan hasil dari menggarap sawah. Kalau harganya terlalu rendah, petani bisa dikatakan hanya mendapat keuntungan tipis. “Semoga harga gabah ini bisa lebih tinggi lagi. Sehingga bisa menguntungkan para petani,” harapnya. (den)

Berita Terkait