Harga Ayam Tembus Rp55 Ribu Per Kilogram

Harga Ayam Tembus Rp55 Ribu Per Kilogram

  Kamis, 26 July 2018 10:00

Berita Terkait

Tak Ada Dana Operasi Pasar

MEMPAWAH- Harga jual ayam potong di Pasar Sebukit Rama Mempawah terus meroket mencapai Rp 55 ribu perkilogram. Kenaikan harga diikuti pula dengan kelangkaan komoditi tersebut. 

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja (Perindagnaker) mengaku telah melaporkan kondisi itu kepada Pemerintah Provinsi Kalbar.

“Setiap hari kami melaporkan situasi dan perkembangan harga komoditi di Kabupaten Mempawah kepada Dinas Perdagangan Pemprov Kalbar,” aku Kepala Bidang Perdagangan, Perindagnaker Mempawah, Lely Harminsih kepada Pontianak Post, Rabu (25/7) di Mempawah.

Menurut Lely, lonjakan harga jual komoditi daging ayam potong dan telur tidak hanya terjadi di wilayah Kabupaten Mempawah, melainkan juga skala nasional. Hampir di setiap daerah di Indonesia mengalami permasalahan serupa.

“Kami tidak bisa melakukan intervensi terhadap pasar. Yang dapat kami lakukan dalam menyikapi situasi ini adalah melaporkan kepada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dinas terkait di tingkat provinsi. Secara berjenjang, laporan ini akan disampaikan ke tingkat kementrian,” terangnya.

Meski demikian, Lely mengaku pihaknya bisa saja melakukan suatu tindakan atau kebijakan dalam menyikapi lonjakan harga komoditi di pasar. Yakni dengan melaksanakan kegiatan operasi pasar. Tujuannya untuk menstabilkan harga jual komoditi tersebut.

“Sebenarnya kita bisa saja melakukan operasi pasar. Namun, untuk melaksanakan kegiatan itu harus ditunjang dengan dana yang mencukupi. Tetapi hal itu tidak bisa kita lakukan, sebab kami tidak memiliki anggaran untuk kegiatan operasi pasar,” akunya.

Ditanya penyebab terjadinya lonjakan harga jual daging ayam potong, Lely menjelaskan dikarenakan beberapa faktor. Salah satunya dipicu kenaikan harga dan kelangkaan Day Old Chicken (DOC). Kondisi itu menyebabkan penambahan cos modal para peternak ayam pedaging.

“Kami sudah menanyakan kepada peternak ayam tentang kondisi ini. Mereka mengaku saat ini sulit mendapatkan DOC. Dan kalau pun DOC tersedia, harganya melambung tinggi mencapai Rp 500-700 ribu per box,” paparnya.

Kondisi itu, lanjut Lely diperparah dengan kenaikan komponen lainnya seperti harga jual pakan ayam yang juga melonjak. Serta, keterbatasan stok atau ketersediaan pakan membuat petani semakin sulit mengembangbiakan ayam peliharaannya.

“Disamping semua faktor itu, peternak juga mengaku saat ini ayam yang mereka miliki belum cukup umur untuk dipanen. Sebab, ayam yang tersedia di kandang baru diternak sejak pasca Idul Fitri lalu,” sebutnya.

“Dan, kondisi iklim atau cuaca yang belakangan terjadi antara musim hujan dan kemarau menyebabkan terjadinya perbedaan suhu yang tinggi. Hal ini memicu kematian pada ternak ayam milik masyarakat. Jadi banyak faktor yang memicu terjadinya kenaikan harga jual tersebut,” pungkasnya. 

Pedagang Menjerit

Sejumlah pemilik rumah makan pun mengeluhkan kondisi ini. Beberapa warung makan memilih tutup sementara, seraya menunggu kondisi pulih.

Wagiman misalnya. Pedagang ayam geprek di bilangan jalan Ampera Pontianak menyebutkan dia terpaksa menghentikan operasional warungnya. Menurutnya, dengan harga yang terus membumbung, membuat dia kesulitan untuk menjual dengan harga normal (sebelum kenaikan).

‘’Ndak bisa. Kalau dipaksakan malah rugi. Apalagi selama ini dijual di bawah harga pasar pun masih susah. Pilihannya memang ada dua, ukuran diperkecil atau harga dinaikkan. Tetapi, untuk menaikkan harga agak susah. Sebab, pelanggan saya kebanyakan kalangan menengah ke bawah,’’ katanya. Mungkin, mereka tak akan protes, tetapi pasti akan bertanya kenapa harga dinaikkan. Atau ukuran diperkecil.

Karenanya, dia pun memilih untuk menutup warungnya, seraya menunggu daging ayam turun. (wah)
 

Berita Terkait