Hal-hal Menarik Dibalik Kinerja Statistik

Hal-hal Menarik Dibalik Kinerja Statistik

  Rabu, 9 January 2019 10:35
KUNJUNGAN : Perbincangan santai di meja bundar antara BPS Kalbar dan Pontianak Post. Kunjungan kerja BPS itu dilaksanakan pada Selasa (8/1) Siang. ISTIMEWA

Berita Terkait

Dari Ancaman, Iming-iming hingga Sulitnya Gali Informasi

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat melakukan kunjungan ke Harian Pontianak Post di Gedung Graha Pena, Selasa (8/1) Siang. Rombongan yang dipimpin langsung oleh Kepala BPS Kalbar, Pitono, itu, disambut hangat oleh Direktur Pontianak Post, B Salman. Sejumlah hal dibahas dalam diskusi santai di meja bundar, khas  milik redaksi harian terbesar di Kalbar itu.

SITI SULBIYAH, Pontianak

PITONO memulai perbincangan itu dengan kisahnya saat bekerja di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun  90an. Pekerjaannya waktu itu tidaklah mudah. Hampir-hampir kepalanya akan disembelih, karena kerja-kerja statistik yang ia lakukan di sana. 

“BPS mengeluarkan data soal kemiskinan, yang mana satu desa terkategorikan sebagai desa miskin, sementara desa di sebelahnya tidak termasuk. Mereka marah dikatakan miskin,” cerita Pitono.

Pitono yang saat itu sudah sangat dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai petugas BPS, menjadi sasaran. Orang-orang di desa itu, kata dia, hampir saja memenggal kepalanya. Untungnya, pihaknya diberikan kesempatan untuk menjelaskan persoalan tersebut. “Saya jelaskan, bahwa desa miskin itu bukanlah orang-orangnya yang miskin, tapi fasilitasnya. Coba bandingkan dengan desa sebelah,” jelas Pitono kepada masyarakat di sana, saat itu. 

Beruntung, mereka paham tentang apa yang dijelaskan. Mereka pun, kata dia, dapat menerima akan hal tersebut. Bahkan, tak lama setelah itu, mereka justru berterimakasih, lantaran status miskin yang tersemat itu, membuat desa mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah senilai Rp20 juta.

Namun sebaliknya, kondisi ini malah tidak disenangi oleh desa yang ada di sebelah, karena mereka tak mendapatkan jatah bantuan. “ Mereka (desa sebelah) malah marah, karena tak dapat bantuan. Saya jadi serba salah,” kenangnya, sambil tertawa. 

Pengalaman lainnya adalah saat melakukan pengecekan terhadap lahan pertanian. Kendati pihaknya mendapatkan data tersebut dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang, namun pengecekan harus tetap dilakukan. Mengacu pada citra satelit yang didapat datanya dari kementerian itu, pihaknya mendatangi sejumlah lokasi yang mungkin keadaannya tidak sesuai.

“Kadang kami temui, saat di cek ternyata bukanlah lokasi pertanian, tapi justru malah sungai,” tuturnya.

Daerah-daerah pedalaman pun, tak luput dari hitungan lembaga ini. Menempuh perjalanan berhari-hari, di pedalaman, bermalam di hutan, bahkan tersesat pun pernah dirasakan oleh petugas statisitik.

BPS, lanjut dia, melakukan kerja statistik berdasarkan pengakuan narasumber atau respondennya. Tidak mudah memang menggali informasi dari responden. Kadang, petugas BPS bertemu dengan responden yang sulit memberikan keterangan. Ada pula yang pernah dimarahi oleh responden. Tidak sedikit pula yang berusaha menutupi hal yang ingin digali oleh petugas.

“Karenanya kami diajari teknik menggali informasi agar mereka responden mengatakan yang sebetulnya,” jelasnya.

Pitono menceritakan, kerja-kerja statistik tidaklah mudah dan wajib berhati-hati. Karena data yang akan mereka keluarkan, akan menjadi acuan banyak orang, lembaga, maupun pemerintah. Sudahlah sulit, tak jarang pihaknya mendapat intervensi dari berbagai pihak, agar mau merubah data dan fakta yang mereka dapat di lapangan.

Ancaman maupun iming-iming juga pernah menghampiri. “Data itu kan menarik, terutama soal data-data yang menyangkut isu kemiskinan,” ucapnya.

Pitono berharap, agar masyarakat, dari kalangan manapun dapat memanfaatkan data BPS untuk berbagai keperluan positif. Sejauh ini, kata dia, akademisi, pemerintah, dan konsultan, yang lebih banyak menggunakan data-data dari BPS. Kalangan pengusaha sendiri diakuinya, masih sangat minim. “Kami sudah melakukan survey, sangat disayangkan bila data-data kami ini tidak dimanfaatkan,” pungkasnya. (**)

Berita Terkait