Haji Filipina Malu Dipublikasikan Saat Tiba di Bandara Sorkarno--Hatta

Haji Filipina Malu Dipublikasikan Saat Tiba di Bandara Sorkarno--Hatta

  Minggu, 4 September 2016 17:11
Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal (kanan) bersama Duta Besar RI untuk Filipina Johny Lumintang menandatangani serahterima 58 dari 168 WNI korban penipuan haji, Minggu (4/9) di Bandara Soekarno-Hatta, Banten.

Berita Terkait

JAKARTA -- Sebanyak 58 dari 168 calon jamaah haji korban penipuan yang menggunakan paspor Filipina sudah tiba di Terminal I VIP Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (4/9) siang.

Hanya saja mereka tidak mau menampakkan diri ke publik. Mereka meminta kepada pemerintah agar tidak diperlihatkan ke publik lewat media massa.

"Sebanyak 58 calon jamaah yang menjadi korban ini tidak mau diekspos media," kata Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mendampingi Duta Besar RI untuk Filipina Johny Lumintang di Soetta, Minggu (4/9).

Total WNI yang dipulangkan dari Filipina berjumlah 168 dari 177 orang. Mereka diterbangkan dengan pesawat carteran Air Asia XT 982 dari Manila dan tiba di Makassar, Sulawesi Selatan sekitar pukul 10.45 WIB. Seluruh penumpang akan turun dan melakukan proses keimigrasian.

Kemudian, pukul 13.20 pesawat XT 983 take off ke Jakarta membawa 58 WNI dan Dubes RI untuk Indonesia Johny Lumintang  serta Tim Kementerian Luar Negeri. "Mereka sudah tiba di sini bersama-sama Pak Dubes pukul 14.15 di sini (Soetta)," ujar Iqbal.

Ia mengatakan,  110 orang diturunkan di Makassar. Sebab, 95 orang di antaranya memang berasal dari Makassar. Selain itu ada juga 15 WNI asal Kalimantan Timur yang diturunkan. "Jadi total 110 turun di Makassar," kata Iqbal.

Sedangkan 58 WNI yang diangkut ke Soetta berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Banten. Mereka langsung diserahterimakan dengan perwakilan pemerintah daerah masing-masing yang hadir di Soetta. "Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing," katanya.
 

Proses Hukum

Sembilan calon jamaah haji asal Indonesia korban penipuan yang gagal berangkat karena menggunakan paspor Filipina masih berada di negeri yang dipimpin Rodrigo Duterte. Mereka belum dipulangkan bersama 168 calon jamaah haji yang kini sudah tiba di Makassar, dan Banten. 

"Sembilan korban tetap berada di sana untuk mengikuti proses hukum," kata Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mendampingi Duta Besar RI untuk Filipina Johny. Hanya saja Iqbal enggan menyebutkan nama maupun inisial WNI yang masih berada di Filipina itu. "Sembilan orang ini menurut saya adalah pahlawan. Kalau mereka pulang, maka 168 jamaah lain tidak bisa pulang," tambah Johny Lumintang.

Menurut Johny, sembilan WNI itu masih dibutuhkan otoritas Filipina untuk pengembangan kasus hukum ini. Mereka, kata dia, bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris sehingga memudahkan otoritas Filipina untuk melengkapi keterangan.

"Saya salut, hormat dan menghargai tinggi sembilan orang ini," kata Johny. Sebab, lanjut dia, mereka m bersedia pisah dari teman-temannya dalam rangka untuk menyelesaikan dan memberikan informasi tambahan dari peristiwa ini kepada otoritas Filipina.

Johny pun menegaskan, sembilan orang ini sudah tidak ditahan. Mereka sebelumnya sudah dibawa ke Kedutaan Besar RI di Filipina bersama 168 WNI lainnya. "Mereka kini ada di KBRI," tegas Johny.

 

Tidak Manusiawi

Duta Besar Indonesia untuk Filipina Johny Lumintang mengatakan, 177 warga negara Indonesia korban penipuan haji diperlakukan tidak manusiawi saat ditahan otoritas negeri pimpinan Presiden Rodrigo Duterte itu.

Johny mengatakan, ia mendapat informasi dari salah seorang yang menelepon Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina pada Sabtu (20/8). Para WNI itu dikabarkan ditahan karena akan diberangkatkan menjalank ibadah haji menggunakan paspor Filipina.

Keesokan harinya, Minggu (21/8), Johny pun mengecek ke lokasi 177 WNI itu ditahan. "Hari Minggu saya lihat di tahanan, sama sekali diperlakukan tidak manusiawi," kata Johny.

Johny menyesalkan perlakuan tidak manusiawi itu. "Kira-kira kamu sekitar 15 orang ditempatkan di ruangan kecil dengan satu toliet, manusiawi?" kata Johny mencontohkan.

Johny pun bersama otoritas Indonesia berupaya membebaskan para WNI korban penipuan itu. Lalu, Johny berkomunikasi dengan otoritas Filipina apakah para WNI ini bisa dipindahkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di sana. "Saya tanyakan apakah mereka bisa dibawa ke KBRI karena mereka ini korban bukan (pelaku) kriminal. Mereka (otoritas Filipina) mengatakan bisa besok," ujar Johny.

Ternyata, lanjut Johny, keesokan harinya para WNI itu belum bisa dibebaskan. Ada sederetan proses administrasi yang harus dituntaskan. Pendataan masih harus dilakukan. Setelah melewati serangkaian proses administrasi, sebagian WNI itu baru bisa dipindahkan ke KBRI pada Kamis (25/8) pukul 00.00 waktu setempat.

Sebagian atau 39 WNI lain belum bisa dipindahkan. Sebab, mereka harus menyelesaikan proses administari yang belum tuntas. "Ada yang lupa tanggal lahirnya, salah menuliskan nama dan segala macam," ujar purnawirawan TNI berpangkat Letnan Jenderal ini.

Setelah berkoordinasi dengan otoritas di Indonesia termasuk Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, barulah bisa mendapatkan data administrasi lengkap 39 WNI tersebut. "Barulah 39 WNI itu bisa dibawa ke KBRI pada Sabtu (27/8)," papar Johny.(ody)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait