Gubernur Minta Satu Harga

Gubernur Minta Satu Harga

  Jumat, 4 January 2019 09:22
BERBINCANG: Gubernur Kalbar, Sutarmidji dan Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono berbincang akrab sesaat setelah melepas operasi pasar di Perum Bulog kemarin. Operasi pasar ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga beras di pasaran.

Berita Terkait

Operasi Pasar Beras Medium Bulog

Perusahan Umum Badan Urusan Logistik Divisi Regional (Perum Bulog Divre) Kalimantan Barat (Kalbar) memulai operasi pasar ketersediaan pasokan dan stabilitas harga beras medium tahun 2019. Untuk itu disiapkan stok beras medium yang tidak terbatas hingga akhir maret nanti. 

Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengungkapkan, operasi pasar diperlukan dalam rangka antisipasi kekurangan kebutuhan masyarakat, sampai masa panen raya di bulan April mendatang. "Panen perkiraan  nanti lagi di April, menjaga masa tidak panen ini beras harus tersedia di pasaran. Yang perlu kami jaga beras medium," ungkapnya usai membuka kegiatan tersebut, Kamis (3/1). 

Gubernur berharap, beras medium dengan kualitas patahan (broken) 15 persen ini bisa dijual satu harga. Sama untuk seluruh daerah di provinsi ini. Lalu untuk kualitasnya juga harus dijamin jangan sampai broken melebihi 15 persen.  "Jangan sampai dijual broken 25 persen. Saat ini karena (beras) tidak ada penyumbang inflasi artinya model (operasi pasar) seperti ini bagus," katanya. 

Ia mengatakan pemerintah daerah bersama pihak terkait seperti TNI dan Polri serius mengawal ketersediaan pangan. Kebutuhan masyarakat harus selalu terpenuhi sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang sampai memicu inflasi.  Sementara itu, Kepala Perum Bulog Divre Kalbar Sabaruddin Amrullah memastikan beras yang dijual dari operasi pasar ini bisa satu harga. Ini berlaku untuk seluruh gudang bulog yang tersebar di daerah, mulai dari Kota Pontianak, Singkawang, Ketapang, Sintang, Sanggau dan Putussibau. 

Untuk harga jual dari operasi pasar ini, kemasan 50 kilogram dihargai Rp8.600 per kilogramnya. Sementara kemasan 10 kilogram, harganya Rp9.050 per kilogram. Kemudian untuk penjulannya sampai ke konsumen akhir wajib di bawah harga eceran tertinggi (HET) Kalbar. Yaitu untuk beras medium HET di angka Rp9.950 per kilogram.

"Jadi memang harus ditekankan karena fungsinya stabilisasi, harus satu harga di seluruh wilayah Kalbar. Jadi kami harus melepas di bawah HET itu sehingga harga stabil," harapnya.  Operasi pasar ini dimulai dari Kota Pontianak, kemarin di empat pasar yakni Pasar Mawar, Flamboyan, Dahlia dan Kemuning. Satu pasar satu truk, masing-masing per truk membawa tujuh ton beras. 

"Ini karena hari ini (kemarin) baru launching, tapi kami di daerah-daerah juga bersama-sama tim di sana, bekerja sama dengan Kodim dan Polres melakukan hal sama. Ini Operasi pasar ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga sampai 31 Maret," paparnya.  Tidak ada batasan kuota untuk operasi pasar ini. Berapa pun permintaan pasar akan dilayani, karena stok yang ada juga masih cukup. Sampai saat ini stok yang dimiliki bulog sekitar 12 ribu ton untuk 14 kabupaten/kota, dan bakal terus ditambah. 

Diharapkan dengan program ini, bahan pangan beras tidak lagi menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kalbar. Adapun syaranya ada tiga, pertama ketersediaan stok, kedua ketersebaran dan ketiga operasi pasar.  "Kami untuk sebaran sekitar 11 lokasi gudang kami di seluruh Kalbar. Operasi pasar terus dilakukan perintah dari Kementerian Perdagangan sampai 31 Maret. Karena di April sudah masuk waktu panen raya. Saat itu biasanya harga beras relatif stabil," terangnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Kalbar Didi Haryono menyatakan siap memantau distribusi bahan pangan di pasaran. Lewat Satgas Pangan, pihak kepolisian dibantu beberapa stakeholder, salah satunya pihak Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalbar. 

"BI yang selalu update tingkat inflasi dan sumber masalah naiknya inflasi itu. Dari sana kami lihat sumber masalahnya, makanya satgas pangan kami dalam rangka menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan semua bergerak," paparnya. Kinerja Satgas Pangan di Kalbar menurutnya sudah terbukti baik, bahkan mendapat apresiasi terbaik se-Indonesia di tahun 2018. "Alhamdulillah sampai 400 persen dibandingkan dengan Satgas Pangan lainnya. Kami dapat apresiasi dari pimpinan di pusat. Kalbar paling tinggi se-Indonesia kepedulian tentang pangan paling tinggi," tutupnya.(bar) 

Berita Terkait