Gratis Berobat dengan Ngaji 1 Juz atau Bayar Pakai Botol Bekas

Gratis Berobat dengan Ngaji 1 Juz atau Bayar Pakai Botol Bekas

  Kamis, 7 June 2018 10:00
SEJAK 2008: Yusuf Nugraha berbincang dengan salah satu staf klinik pada Senin lalu (4/6) di Cianjur. TRI MUJOKO BAYU AJI/Jawa Pos

Berita Terkait

Konsistensi Sedekade Dokter Yusuf Nugraha Berbagi kepada Warga Tidak Mampu

Selain subsidi silang untuk membantu pasien tidak mampu, lewat kliniknya Yusuf Nugraha mengadakan program berbagi pangan untuk tunawisma dan pengolahan plastik yang digawangi para ibu. Bermula dari ruangan 3 x 2 meter dan uang Rp 700 ribu. 

TRI MUJOKO BAYUAJI, Cianjur

BEGITU selesai diperiksa, si pasien langsung merogoh kantong bajunya yang tampak lusuh. Terlihatlah selembar Rp 50 ribu yang hendak dibayarkan kepada Yusuf Nugraha. 

Yusuf, dokter sekaligus pemilik Klinik Harapan Sehat di Cianjur, Jawa Barat, itu, menolak dengan halus. Sebab, sedari awal berdiri, klinik tersebut memang diniatkan untuk memberikan pengobatan gratis bagi warga tidak mampu.

Tapi, respons sang pasien mengagetkan Yusuf. ”Dia bilang, saya sudah kumpulkan uang selama berminggu-minggu, uangnya sudah terkumpul, dan saya mampu,” ujar Yusuf menirukan pasien itu ketika ditemui Jawa Pos Senin lalu (4/6).

”Tamparan” tersebut langsung menyadarkan Yusuf. Tetap perlu seni tersendiri untuk merealisasikan niat baik. Dari sana lahirlah ide mengganti pembayaran bagi warga tidak mampu dengan bacaan satu juz Alquran. 

Responsnya ternyata bagus. Begitu pula halnya ketika, hasil diskusi Yusuf dengan sang istri Dewi Kartika Sari, disodorkan alternatif lain: berobat dengan membayar botol bekas. Hingga tak terasa klinik di Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, itu telah berusia 10 tahun sekarang. Sudah berkembang jauh dalam segala hal. Termasuk bangunan. 

Yusuf telah memperluas klinik tersebut ke depan di bagian resepsionis, bagian rawat jalan, hingga belakang rumah dengan membeli lahan tetangga. Total menempati lahan sekitar 1.000 meter persegi. Tenaga medisnya pun sudah bukan Yusuf sendiri. Sang dokter juga memiliki 50 karyawan. 

Padahal, kali pertama berdiri pada 2008, klinik itu hanya menempati ruangan 3 x 2 meter di salah satu kamar rumah kakak Yusuf di desa kampung halamannya. ”Waktu itu karyawannya cuma saya sendiri, istri, ibu saya, dan satu karyawan obat,” ungkap dokter 36 tahun lulusan Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi tersebut.

Yang tak pernah berubah adalah komitmen membantu warga tidak mampu. Komitmen yang lahir dari kondisi masa kecil Yusuf sekeluarga. Setelah ayah dan ibunya bercerai. Ketika Yusuf, anak bungsu di antara lima bersaudara, masih berusia 5 tahun. 

Sang ibu Duning Burdaningsih mengambil alih tugas merawat kelima anak sendirian. Dengan hanya berbekal gaji sebagai guru sekolah dasar. Dengan segala keterbatasan itu, ibunda Yusuf tetap bercita-cita agar semua anaknya bisa menjadi sarjana. Caranya, setiap awal bulan, Duning selalu menyampaikan penghasilannya kepada kelima anaknya. Dan kemudian membaginya sesuai kebutuhan tiap-tiap anak.

Padahal, gaji Duning ketika itu hanya Rp 750 ribu. ”Dibagi untuk SPP dan kebutuhan hidup lain. Kalau kurang, ibu pinjam koperasi, dicicil, jadi semua transparan. Untuk tambahan, beras jatah PNS juga kami jual,” kenang ayah dua anak, Muhammad Zarbia dan Maraya Zara, tersebut.

Yang jadi persoalan adalah saat ada anggota keluarga yang sakit. Sebab, itu berarti ada tambahan dua biaya sekaligus. Untuk mengobati penyakitnya (dokter dan obat-obatan). Juga untuk membayar biaya perawatan (klinik atau rumah sakit). Padahal, untuk bertahan hidup saja sudah pas-pasan. 

Itulah yang kemudian mendorong Yusuf menjadi dokter. Dan itu dia wujudkan dengan masuk Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani. Namun, persoalan biaya lagi-lagi menghadang. ”Saya sempat mengurungkan niat (jadi dokter, Red). Kalau tidak bisa ya sudah,” katanya. 

Keluarga pun berkumpul. Ibu dan keempat kakak Yusuf akhirnya sepakat mendukung niat dan cita-citanya. Diputuskan menggadaikan rumah yang mereka tempati untuk biaya kuliah Yusuf. 

Merasa memiliki tanggung jawab, Yusuf pun tepat waktu menyelesaikan kuliah. Sembari bekerja untuk menambal kekurangan biaya. Mulai berjualan teh botol sampai tas dokter buatan sendiri. Selama kuliah, Yusuf tinggal di asrama. Biayanya Rp 600 ribu setahun. Untuk makan, dia dibekali uang Rp 20 ribu tiap bulan dan beras. 

Segala pahit getir itulah yang kian menggumpalkan niat Yusuf untuk berbagi kepada sesama. Kepada mereka yang berada dalam posisinya dulu: serba kekurangan. Senin lalu itu Jawa Pos menyaksikan sendiri perhatian Yusuf kepada para pasien. ”Kenapa hari ini, Ibu?” tanya Yusuf sambil mendekap seorang ibu berjilbab hijau itu.

Ibu tersebut menyatakan hendak melakukan kontrol rutin kadar kolesterol. Sebab, selama ini kadar kolesterolnya memang tinggi. Merasa penasaran, Yusuf bertanya berapa kadar kolesterol ibu itu.”Di atas 200, Dokter,” ucap ibu tersebut malu-malu.

”Memang Ibu habis makan apa?” tanya Yusuf lagi.

”Kebetulan ikut puasa, makannya ada santannya, Dok,” jawab ibu itu.

Yusuf pun tersenyum simpul mendengar jawaban ibu tersebut. Kepada ibu dan anaknya, Yusuf mengingatkan agar terus menjaga pola makan. Apalagi, kondisi ibunya yang sudah lanjut usia rentan terserang sakit.”Nanti banyak makan sayur dan buahnya saja ya, Bu. Jangan banyak santan,” tuturnya. 

Di bagian depan klinik juga masih terpampang spanduk bertulisan ”Gratis Berobat dengan Mengaji 1 Juz”. Seorang petugas parkir mengatakan kepada Jawa Pos bahwa spanduk itu sudah lama terpasang. ”Kalau saat Ramadan kami tutup jam 5 sore, buka kembali jam 8 malam. Karena klinik ini pendekatannya ibadah, para karyawan saya minta buka puasa dan ibadah dulu,” kata Yusuf.

Klinik tersebut dibuka Yusuf setelah bertugas dulu selama setahun ke Nusa Tenggara Timur pada 2006. Sekaligus mengambil sertifikasi izin praktik. Setelah berdiskusi dengan sang ibu, Yusuf pun mendirikan klinik di rumah mereka sendiri. Modal awal mendirikan klinik waktu itu hanya Rp 700 ribu. Sebagian besar uang tersebut dibelikan Yusuf obat-obatan. Sisanya untuk stetoskop dan peralatan pendukung. ”Saya juga beli meja rongsokan waktu itu. Saya perbaiki sedikit untuk jadi meja dokter,” kenangnya lalu tertawa. 

Komitmen membantu warga tidak mampu terjaga berkat sistem subsidi silang. ”Biaya dari pasien mampu saya gunakan untuk membantu pasien tidak mampu,” ujarnya.

Mekanisme pembayaran dengan botol bekas melibatkan komunitas. Botol bekas diserahkan warga ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang sudah memasang spanduk Klinik Harapan Sehat. Mereka lantas mendapatkan voucher.Kini dalam sebulan bisa terkumpul 180 ribu botol bekas. Hasil penjualannya lantas dibagikan Klinik Harapan Sehat untuk membantu para pemulung di sekitar Cianjur. 

Ada pula program berbagi pangan kepada kaum tunawisma setiap Jumat malam. Juga pengolahan plastik yang digawangi para ibu dan pembangunan MCK untuk masyarakat sekitar. Termasuk pula program duta anti-seks bebas dan antinarkoba untuk kelompok anak SMA. Semua dirangkum dalam Gerakan Bagi Senyum Ibu Pertiwi.

Bagi Yusuf, semua ikhtiar itu adalah jawaban untuk mereka yang sempat meragukan bahwa kliniknya akan berusia panjang. Klinik Harapan Sehat, terang dia, memiliki slogan Pasti Mudah. Slogan tersebut diambil dari hadis riwayat Imam Bukhori yang berbunyi barang siapa memudahkan orang yang kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan di akhirat. 

Yusuf sebagai muslim memercayai hal itu. Sekaligus berharap ada klinik lain yang bisa menjalankan sistem serupa. ”Saya dengan sistem ini masih bisa jalan-jalan dengan keluarga ke luar negeri. Makanya, jangan takut dengan sistem ini bakal membuat rugi,” tuturnya.

Penghargaan klinik terbaik se-Cianjur dan se-Jawa Barat dari pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi tahun lalu juga jadi bukti keberhasilan. ”(Penghargaan) itu bonus dari yang kami kerjakan selama ini,” ujar Yusuf. (*/c9/ttg) 

 

Berita Terkait