Goreskan Cerita Serunya Pengalaman Mengajar di Perbatasan

Goreskan Cerita Serunya Pengalaman Mengajar di Perbatasan

  Minggu, 4 September 2016 09:48
INSPIRASI BUKU: Abdul Latif saat menunjukkan buku Aku Mengabdi Karena Cinta, karyanya, di ruang kantor guru SD Al Madani, Sabtu (3/9). Seorang guru honorer di SD Al Madani Pontianak ini menuliskan pengalamannya mengabdi di ujung negeri untuk menginspirasi para guru, khususnya di Kalbar. MIFTAH/PONTIANAK

Berita Terkait

​“Menjadi guru bukan soal materi, tetapi soal hati,” kata Abdul Latif saat menggambarkan buku hasil karyanya. Pengalamannya mengajar di ujung negeri tersebut ingin ia bagikan kepada semua guru dalam sebuah tulisan. Ia menulis saat ia tergugah melihat pendidikan di perbatasan.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

MEJA kantornya dipenuhi buku-buku. Di sampingnya sebuah laptop sedang menyala. Ia sedang membaca tulisannya sendiri, berusaha mencari kesalahan di sana. Satu dua foto ia tunjukkan dari pengalaman mengabdinya di Desa Binebas, Tabukan Selatan, Kepualauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, 2013 silam.

Sepulang dari sana ia telah membawa pengalaman yang telah mengubah cara pandangnya dalam dunia pendidikan. Yakni perbedaan kondisi dan budaya pendidikan antara di sana dan di Kalbar. “Atau bahkan di pedalaman sekali pun masih sedikit lebih baik dari kondisi di sana,” kata Latif, panggilan karibnya.

Pengalaman itu ialah satu perjalanan yang dalam program sarjana mengajar di daerah terdepan, terluar, tertinggal (SM3T). Bersama 17 rekan seangkatan itu, mereka tersebar di Sulawesi Utara dan di NTT. Ia dan satu rekannya ditempatkan di Binebas. “Awalnya tak ada niat menulis buku tentang pengalaman di sana,” ungkapnya. 

Akan tetapi, setelah mendapatkan saran untuk mengabadikan apa yang ia alami selama satu tahun tinggal di sekolah, ia pun terpikirkan untuk menulis.

Dari sanalah, pikiran menuliskan pengalaman dalam sebuah buku terus terngiang dalam kepalanya. Terlebih lagi, menurutnya kondisi pendidikan di sana sangat berbeda dengan yang ada di Kalimantan Barat, walaupun itu di pedalaman. Ia mengatakan, perbedaan mungkin dari budaya yang juga berbeda, ikut memperngaruhi sistem pendidikan di sana. “Sayang sekali jika pengalaman mengajar di sana dibiarkan saja, tanpa ada jejaknya,” imbuh Latif yang kini menjadi guru honorer di SD Al-Madani Pontianak.

Setelah beberapa hari memulai cerita barunya di Benibas, kata-kata mulai diurainya dalam satu tulisan setiap harinya dalam satu tahun pengabdian. Buku itu ialah kumpulan cerita yang ia tulis tiap kali ada momen menarik dalam pengabdian itu.

Buku yang berisikan kesehariannya dalam mengajar di pedalaman itu diceritakannya dalam tulisan yang menggambarkan secara detil bagaimana hari-hari murid di sekolahnya. Ada banyak hal yang belum sampai dengan gamblang pada masyarakat di kota, bahwa sebagian besar muridnya harus berjuang hanya untuk sampai ke gedung sekolah tempat ia mengajar waktu itu.

Bahkan, ada siswa yang berangkat sekolah menggunakan perahu kecil. Ia menyeberang lautan dari pulau seberang. Ia melewati gelombang tinggi untuk pergi bersekolah. Semangat seperti itu sangat layak untuk disampaikan, agar ia tertular pada anak-anak yang masih enggan bersekolah, padahal mereka memiliki fasilitas yang serba lebih.

Siswa kelas IV SD harus mengayuh perahu setiap hari untuk pergi sekolah. Ia selalu datang paling awal, tak pernah bolos walaupun sedang musim gelombang tinggi. Di pulau seberang ia tinggal yang hanya dihuni empat hingga lima rumah, sehingga anak-anak harus menyeberang ke pulau Sangihe.

Banyak anak-anak yang sekolah tidak menggunakan sepatu atau bahkan tidak menggunakan alas kaki, banyak anak-anak yang menggunakan seragam sekolah satu pasang dari Senin sampai Sabtu. Melihat itupun latif sangat terkagum pada tekad anak-anak di sana. Kondisi fisik bangunan sebenarnya sudah layak menurutnya, bahkan sudah bagus. Akan tetapi, buku-buku sangat kurang. Buku paket hanya dipegang guru, atau bahkan tidak ada sama sekali. Sangat sulit baginya untuk menyesuaikan kondisi kekurangan itu.

Latif menuturkan, sasaran dari tulisannya yang berjudul ‘Aku Mengabdi Karena Cinta’ itu memanglah kepada para guru dan calon guru. “Mereka yang sebenenarnya bisa membaca buku ini,” katanya. Tetapi yang lebih ingin disampaikan kepada mereka ialah, sebenarnya menjadi guru bukan soal materi belaka. Jika melihat para guru di perbatasan, dengan gaji hanya Rp300 ribu saja mereka tetap mengabdi, walaupun gaji itu mereka dapatkan tiga bulan sekali, itupun belum tentu mereka dapatkan. “Mereka bisa bertahan bertahun-tahun dengan gaji yang bisa dibilang tidak layak untuk profesi guru,” timpalnya lagi.

Tetapi walaupun dengan kekurangan itu, kemauan mereka mengajar sangatlah besar. Jangan sampai guru-guru yang sudah memiliki gaji tetap, apalagi yang sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil di Kota ini, masih bermalas-malasan. Paling tidak, menurutnya, pengabdian yang berasal dari hati. Bukan hanya soal bekerja saja. Tetapi kemauan dari hati untuk mengabdi di dunia pendidikan. Bukan juga hanya karena lokasi, jika melihat banyak guru yang meminta pindah setelah bertugas di daerah pedalaman.

Ia pun berharap, semua guru dan murid di perbatasan atau daerah terluar di negeri ini bisa mendapatkan perhatian yang lebih. “Perhartian dari siapapun,” katanya. Bukan hanya dari pemerintah, cukup dengan memberikan mereka motivasi untuk terus melanjutkan apa yang mereka lakukan selama ini. “Mereka yang telah mengabdi, mereka yang mungkin saja telah merasa suntuk mengajar di perbatasan. Jelas sekali mereka membutuhkan motivasi. Baik secara materi dan moril,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait