Giving and Sharing di Ramadhan

Giving and Sharing di Ramadhan

  Senin, 20 May 2019 10:33
Dr. Budi Iswanto, MM

Berita Terkait

BEBERAPA negara muslim dan negara barat heran dengan keagamaan muslim Indonesia tingkat generocity (kemurahan dan kedermawanan hati) paling tinggi 86 %, Bandingkan dengan Arab Saudi hanya 68% turki 42 % tingkat generocity (kemurahan dan kedermawanan hati). Orang Indonesia sangat yakin dan didorong semangat keagamaan untuk giving and sharing.  Hal ini dapat di lihat setiap tahun pihak BI selalu menyediakan uang tunia untuk kebutuhan ramadhan dan lebaran selalu meningkat. Tahun ini menurut BI memperkirakan kebutuhan uang tunai pada periode Ramadan dan Lebaran 2019 akan mencapai Rp 217,1 triliun (KONTAN.CO.ID News Data Financial Tools- JAKARTA. 10 mei 2019) itulah nanti yang dibagi dan yang dibawa mudik, untuk paket lebaran, di bagi ketetanga, untuk zakat infaq, sodaqoh dan yang benilai ibadah sosial. 

Meskipun puasa Ramadhan merupakan bagian dari ibadah mahdlah, namun pada prakteknya, puasa ini telah memberikan dampak secara ekonomi. Karena, bulan Ramadhan biasanya akan menstimulus kenaikan tingkat konsumsi, belanja masyarakat serta ibadah sosial juga meningkat. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan tingkat belanja masyarakat untuk memenuhi kebutuhan.

Di bulan Ramadhan konsumsi meningkat karena untuk berbagi, kalau hari-hari biasanya keluarga di rumah hanya menyiapkan makanan secukupnya buat anggota keluarga. Kalau Ramadhan orang berbelanja konsumsi di bagi untuk orang yang berpuasa. Keyakinan akan hadits Rasulullah akan pahala memberi makan orang yang berpuasa “ orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia kan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya” (HR. At-Tarmdzi no 807) . 

 

Jadi, semagat kedermawanan  umat muslim untuk berbagi di bulan Ramadhan sangat tinggi sekali, inilah yang menumbuhkan kohesi sosial / integrasi sosial diantara umat muslim, berbagi makan sahur, mengirim iftar ke masjid, ke tetangga, ke panti asuhan, nanti ada paket lebaran dan sebagainya dan ini lah yang membanggakan muslim di Indonesia.

Meningkatnya konsumsi dikalangan masyarakat kita bukan berarti konsumerisme, ini penting di garisbawahi. Dalam Ramadhan memang konsumsi meningkat, tapi bukan untuk hura-hura, melainkan untuk menyantuni, memberi dan membagi.  

Dalam fikih ekonomi Umar Radhiyallahu Anhu telah mengisyaratkan dengan jelas tentang tujuan konsusi seorang muslim, yaitu sebagai sarana penolong dalam beribadah kepada Allah swt. dalam hal ini, Umar Radhiyallahu Anhu berkata “Hendaklah kamu sederhana dalam makanan kamu, karena sesungguhnya kesederhanaan lebih dekat kepada perbaikan, lebih jauh dari pemborosan, dan lebih menguatkan dalam beribadah kepada Allah swt” (Fikih ekonomi umar  bin al-khathab hal. 139). dalam halini  kaum muslimin di bulan ramadhan kepekaan sosial kedermawanan hendaknya semangkin meningkat, seiring meningktnya nilai-nilai ibadah dan ganjaran pahala.

Praktek kedermawanan / ibadah sosial giving and sharing ini dibulan Ramadhan sudah di contohkan oleh Rasulullah dalam hadis : “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, kedermawanan beliau melebihi angin yang berhembus “(.H.R Buhari No. 6). Bagi umat Muslim hadits ini menjadi rujukan dan dasar untuk meningkatkan ibadah sosial giving and sharing di bulan Ramadhan walau hanya satu bulan tapi pahalanya dapat berlipat ganda, dan wajar umat muslim berlomba dalam meningkatkan konsumerisme di segala aspek ekonomi dengan ikhlas dan didasari rasa Iman dan taqwa.

 

*Penulis Doktor Ekonomi Islam UIN Alauddin Makasar, Ketua Prodi Pascasarjana S2 IAIS Sambas.

Berita Terkait