Gigolo Afghanistan Bertarif Rp 20 Juta

Gigolo Afghanistan Bertarif Rp 20 Juta

  Sabtu, 10 September 2016 09:30

Berita Terkait

JAKARTA – Petugas imigrasi menangkap sepuluh warga negara asing (WNA) asal Afghanistan dan Pakistan di Batam, Kepulauan Riau. Sebab, mereka ternyata punya pekerjaan sambilan sebagai gigolo.

Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Ronny F. Sompie menyatakan, penangkapan sepuluh WNA itu bermula dari laporan masyarakat yang mencurigai sebuah tempat pusat kebugaran. Tempat itu diduga menjadi ajang WNA menjajakan diri sebagai gigolo.

’’Kasus terungkap berkat informasi dari masyarakat tentang adanya anak muda warga negara asing yang sering berolahraga di suatu pusat kebugaran bersama dengan seorang perempuan Indonesia,’’ kata Ronny pada Kamis (8/9).

Mantan juru bicara Polri tersebut menambahkan, dari hasil pengembangan informasi, WNA yang sering berolahraga bersama perempuan di pusat kebugaran itu diketahui bernama Milad alias Justin. ’’Dia diduga gigolo yang dijual mucikari bernama Boni (WNI) kepada beberapa perempuan dan laki-laki Indonesia,’’ ungkapnya.

Berdasar pengembangan penyelidikan, WNA di Batam yang berprofesi sebagai gigolo ternyata bukan hanya Milad. Sebab, ada sembilan WNA lain asal Pakistan dan Afghanistan yang berprofesi pemuas syahwat. Hal itu diketahui dari postingan mereka di media sosial.

WNA lain yang punya pekerjaan sambilan sebagai gigolo di Batam adalah MYA , MBH, JMN, MIS, MZA,MA, AH dan FH asal Afghanistan. Sementara itu, seorang WNA gigolo asal Pakistan berinisial MA. Dari penyelidikan pihak imigrasi, para WNA tersebut merupakan pengungsi dan pencari suaka. Namun, mereka akhirnya menjadi gigolo melalui perantaraan mucikari ber nama Boni Syahrio.

Menurut Ronny, pelanggan gigolo asal Afghanistan dan Pakistan itu adalah perempuan dan pria warga negara Indonesia. Tarif atas jasa esek-esek mereka bisa mencapai Rp20 juta.

Kabaghumas Ditjen Imigrasi Heru Santoso menambahkan, saat ini sepuluh WNA yang berprofesi gigolo tersebut diamankan di ruang-ruang detensi di Kantor Imigrasi Batam. Sementara itu, si mucikari telah diproses Polres Barelang dan dikenai wajib lapor. Dia disangka melanggar UU Perlindungan Anak.

Secara terpisah, 10 imigran yang diamankan pihak imigrasi itu ternyata sudah tinggal di Hotel Kolekta, Baloi, selama 1–1,5 tahun. ’’Mereka sudah lama berada di sini (hotel),’’ ujar Hendri, petugas hotel, Kamis.

Ahmed, salah seorang imigran asal Afghanistan, mengaku jarang bergaul dengan imigran bermasalah tersebut. Menurut dia, rekan senegaranya yang diamankan tersebut kerap keluar hotel sore. Mereka menuju tempat fitness di kawasan Nagoya. ’’Tempat fi tness-nya seperti di Platinum,’’ ujarnya.

Para imigran atau pengungsi pencari suaka yang ditampung di Hotel Kolekta memang bebas berkeliaran. Mereka tidak diawasi petugas imigrasi serta petugas Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

(opi/put/c5/jpg)

 

Berita Terkait