Gengsi Memicu Kepalsuan

Gengsi Memicu Kepalsuan

  Kamis, 1 November 2018 10:25

Berita Terkait

NONGKRONG di tempat berkelas, menghamburkan uang, foto-foto barang branded bergabung bersama kaum bourjuis. Keren kan? Gaya hidup ini seolah sudah menjadi cita-cita beberapa anak muda. Apalagi anak muda zaman sekarang gencar mencari pengakuan melalui setiap postingan media sosial. Sayangnya, demi mendulang popularitas nggak sedikit anak muda yang memalsukan hingga memaksakan gaya hidup mereka.

Fenomena yang memprihatinkan ini membuat Rosdaniar, M.Psi angkat bicara. “Umur remaja memang lagi haus-hausnya akan pengakuan dari lingkungan. Sedih rasanya jika dalam kehidupan bersosialisasi, tidak dilihat. Kebanyakan anak muda menggunakan cara yang salah supaya setara atau bahkan lebih dari komunitasnya. Salah satunya dengan memalsukan gaya hidup mereka,” ujar psikolog klinis di Badan Narkotika Nasional Provinsi ini.

Pengakuan dari lingkungan didorong dengan rasa gengsi adalah pemicu utama orang rela memalsukan kehidupannya. Berteman dengan kaum borjuis membuat dirinya itu mendapatkan kaca mata palsu dari orang lain sehingga dipandang ‘Oh, orang ini keren ya nongkrongnya sama anak hedon. Pasti orang kaya nih!’

Sebenarnya tidak ada yang salah bergabung dengan lingkungan mana pun. Selama kamu bisa mengontrol gengsi dan berperilaku sesuai budget. “Sayangnya, terkadang manusia tidak mampu seperti itu. Godaan liburan, godaan belanja dari teman yang hedonis, semua memberikan efek. Jadi, saran saya sebaiknya pilih kelompok yang menurut kamu cocok dengan kamu dari segi hobi, visi dan misi,” saran psikolog yang tergabung dalam himpunan psikologi wilayah Kalimantan Barat.

Menurut Rosdaniar, kebiasaan memalsukan gaya hidup mendorong beberapa gangguan psikologis seperti depresi dan emosional tak stabil karena ketidakmampuan untuk menyetarakan dirinya dengan teman-temannya.

Lebih parah lagi hal ini juga bisa memicu compulsive buying disorder atau yang lebih kerap dikenal shopaholic. Yap! Kebiasaan seseorang yang tidak mampu menahan hasrat untuk berbelanja, meskipun barang yang dibeli tidak selalu dibutuhkan. Nah, kebanyakan jika sudah mengidap gangguan psikologis ini seseorang cenderung tutup mata dan memaksakan kehendak.

Hayo, sudah mulai sadar? Betapa bahayanya memiliki gaya hidup penuh kepalsuan ini. Lebih baik kita tersenyum ‘apa adanya’ daripada senyum palsu yang terkesan ‘ada apanya’. Stop be fake person! Kalau memang kamu sudah terlanjur masuk dalam lingkungan demikian, segeralah sadarkan diri. Masih ada waktu untuk berubah. “Terima dirimu apa adanya, berikan apresiasi penuh. Unconditional love. Tanpa syarat,” pungkas Rosdaniar. (dee)

 

Berita Terkait