Generasi Terakhir Telinga Panjang dari Kayaan Mendalam

Generasi Terakhir Telinga Panjang dari Kayaan Mendalam

  Sabtu, 1 December 2018 11:11
TRADISI: Fransiska Bo’a, seorang perempuan Dayak Kayaan Mendalam yang memiliki tato dan daun telinga panjang. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Memanjangkan daun telinga merupakan salah satu tradisi masyarakat Dayak Kayaan di Pulau Kalimantan. Tradisi itu mereka sebut telingaan aruu’, yang artinya daun telinga panjang. Fransiska Bo’a adalah salah satunya.

ARIEF NUGROHO, Mendalam

SIANG itu, Rabu (28/11), masyarakat Desa Datah Dian, Mendalam sedang bersuka cita. Dengan mengenakan pakaian adat, mereka berkumpul di tanah lapang untuk merayakan festival budaya. Terik matahari yang membakar kulit sama sekali tak mereka pedulikan. Ratusan penari berjajar rapi sambil bersiap menanti kedatangan tamu. Suara tabuhan gendang dan petikan alat musik sape’ pun mengiringi kemeriahan hari itu.

Di tengah kerumunan para tamu, pandangan saya tertuju pada seorang perempuan paruh baya. Perempuan itu bernama Fransiska Bo’a.  Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Sepintas, ia memang seperti perempuan pada umumnya. Mengenakan anting dan perhiasan lain. Namun, daun telinganya memanjang karena diberi pemberat dari tembaga. Selain itu, kedua tangan hingga jemarinya juga bertato.

Hari menjelang petang. Kemeriahan acara di tanah lapang pun ditutup dengan tarian untuk mengantarkan para tamu pulang. Saya pun menyempatkan diri mengunjungi kediaman Fransiska Bo’a yang ternyata tidak terlalu jauh dari lokasi acara.

Dengan wajah ramahnya, ia mempersilakan saya untuk naik (masuk) ke kediamannya. Saat memasuki rumah, saya disambut dengan beberapa foto yang sengaja dipajang di dinding kayu. Mulai dari foto Fransiska pada masa muda, foto keluarga, dan beberapa foto lain saat ia berlibur ke luar negeri.

Usia Fransiska Bo’a memang tak lagi muda. Namun, kisah perjalanan hidupnya ia ingat betul. Termasuk saat menceritakan bagaimana dia memiliki daun telinga panjang yang merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang.

Sama seperti kebanyakan perempuan lain, Fransiska sudah mengenakan anting-anting sejak masih bayi. Proses penindikan untuk membuat lubang pada daun telinganya juga tidak jauh berbeda, yakni menggunakan jarum.

Pada mulanya, lubang tindikan itu hanya diberi hiasan berupa benang sebagai pengganti anting-anting. Setelah luka akibat tindikan sembuh, benang itu diganti dengan pintalan kayu punuk. Sekitar seminggu sekali, pintalan kayu tersebut diganti dengan pintalan serupa tetapi yang berukuran lebih besar.

‘’Kayu itu akan mengembang saat terkena air, sehingga lubang untuk anting-anting juga semakin membesar,’’ tuturnya. Setelah itu, barulah lubang yang mulai membesar tersebut digantungi sepasang anting-anting berbahan timah.

Anting-anting yang dikenakan itu kemudian terus ditambah, baik berat maupun jumlahnya. Akibatnya, lubang pada daun telinganya pun lama-kelamaan semakin membesar dan melar hingga menyentuh pundak.

Fransiska tidak ingat persis kapan ia menambah satu per satu perhiasan di telinganya itu. Sebab, proses penambahan tersebut berlangsung secara alamiah dan seiring perjalanan usia. “Pertama satu, terus dua. Kalau sudah tidak terasa (berat), ya ditambah lagi. Sampai penuh. Dari timah diganti tembaga,” ceritanya.

Demikian juga dengan rajah tubuh (tato) yang ada di kedua lengan dan ujung kakinya. Menurut Fransiska, saat itu ia baru berusia 10 tahun. Rajah itu dibuat dengan menggunakan alat tato tradisional. Tintanya dari damar dan jelaga. Orang yang menato dirinya bukanlah orang sembarangan melainkan orang khusus. Sebelum membuat tato, orang itu menggelar ritual adat terlebih dahulu. “Pertama di ujung kaki. Terus yang kedua di tangan,” katanya.

Soal motif tato, Fransiska juga punya keunikan. Motif tatonya lain dari perempuan Kayaan pada umumnya. Perbedaan motif itu melambangkan status sosial di masyarakat. “Ada motif burung enggang, bunga uwak pakok, naga dan anjing. Yang menandakan keturunan bangsawan atau raja atau hepi,” terangnya.

“Jadi orang yang bukan keturunan raja, tidak boleh menggunakan tato motif itu. Kalau bukan keturunan raja akan kualat atau tulah atau terkena musibah,” sambungnya.

Di Desa Datah Dian Mendalam, Fransiska Bo’a saat ini menjadi satu dari beberapa perempuan Kayaan yang masih berpegang teguh pada tradisi itu.

Menurutnya, ada beberapa perempuan lain yang juga masih memiliki telinga panjang. Namun, tidak sedikit dari mereka yang sengaja memotong daun telinganya agar seperti sedia kala. Memiliki daun telinga panjang dan tato merupakan adat nenek moyang yang diwariskan turun-temurun. Hanya orang terpilih yang mampu meneruskan tradisi itu.

“Saya anak perempuan tertua dari empat bersaudara. Adik ada tiga. Dua perempuan dan satu laki-laki. Dua adik perempuan saya tidak seperti saya. Karena waktu itu ayah saya tidak menghendaki,” paparnya.

Namun demikian, ia tidak pernah merasa terbebani dengan kekhasan yang ada pada dirinya. Ia justru mengaku bangga karena berbeda dari perempuan pada umumnya. Apalagi di zaman sekarang. “Tidak. Saya tidak malu. Malah bangga,” katanya sembari tersenyum.

Menurut Fransiska, setelah dirinya tidak ada nanti (meninggal dunia), tidak ada lagi yang akan menjadi penerus tradisi telingaan aruu’. “Saya pernah minta cucu saya yang kecil untuk meneruskan tradisi ini. Tapi dia tidak mau. Malu katanya.”

Suku Dayak Kayaan Mendalam adalah suatu identitas kelompok yang terdiri dari tiga suku kecil. Mereka berdiam di sekitar Sungai Mendalam, Kecamatan Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu. Suku ini berada di tiga desa, yakni Desa Padua, Desa Teluk Telaga dan Desa Datah Dian. Wilayah perkampungan mereka meliputi Kampung Sungai Ting, Kampung Tanjung Karang, Kampung Teluk Telaga dan Kampung Datah Dian.

Temenggung Mendalam, Yosep Yusuf menyebutkan, di tiga desa tersebut, masyarakatnya memiliki adat istiadat yang berbeda dan memiliki tiga bahasa, yaitu bahasa umak puling, bahasa pagung dan bahasa Datah Dian.

Ia berharap kepada generasi muda agar adat istiadat Dayak Kayaan ini dapat terus dilestarikan. Jangan sampai tradisi yang menjadi identitas dan ciri khas ini hilang, misalnya bertato dan bertelinga panjang.  Saat ini di desa itu hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bertelinga panjang.

Sementara dikutip dari laman Peladangkata.com, Telingaan aruu’ sebenarnya juga berlaku bagi kaum laki-laki. Namun, kebiasaan ini lebih sering dilakukan kalangan perempuan. Tradisi tersebut terancam punah karena ahli warisnya sudah sangat langka.

Di Mendalam, hanya Fransiska dan dua warga lainnya yang masih melestarikan tradisi telingaan aruu’. Keturunan atau generasi sesudah mereka tidak ada satu pun yang berdaun telinga panjang.

‘’Jadi tinggal tiga orang lagi di kampung kami yang melestarikan tradisi ini. Mereka semuanya sudah berusia lanjut,’’ ujar Uyub, peneliti. Tradisi memanjangkan daun telinga juga dikenal dalam budaya subetnik Dayak lain. Subetnik tersebut berasal dari kelompok rumpun Ibanik, Tamanik, dan Kayaanik. Misalnya, pada subetnik Dayak Mualang, yang masuk rumpun Ibanik.

Tradisi pemasangan anting-anting diawali dengan ritual adat nucuk penikng, yakni prosesi penindikan pada daun telinga bayi sebelum dipasang anting-anting. Namun, budaya memanjangkan daun telinga itu kini sudah tidak lagi dilakukan oleh komunitas adat yang bermukim di Kabupaten Sekadau tersebut.

‘’Nucuk penikng masih ada, tapi tradisi memanjangkan daun telinga sudah tidak ada lagi sejak 1940-an,’’ kata peneliti lainnya Elias Ngiuk. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa subetnik Dayak lain. Fakta ini merujuk pada survei yang dilakukan Sujarni, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalbar, yang telah menyusuri beberapa wilayah komunitas adat. Sujarni meneliti keragaman bahasa dan subetnik Dayak.

‘’Pelestari tradisi memanjangkan daun telinga di Kalbar saat ini diperkirakan tidak lebih dari 20 orang. Rata-rata mereka berusia di atas 50 tahun,’’ ungkap Sujarni yang juga tim penulis buku Mozaik Dayak di Kalimantan Barat itu.

Arus modernisasi serta kemajuan ilmu pengetahuan teknologi menjadi penyebab utama mengapa identitas budaya lokal tersebut terancam punah. Selain itu, penyebaran agama juga turut menggerus pelestarian telingaan aruu’  kendati tidak semua ajaran agama melarang tradisi ini. (**)

 

 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait