Gawai Nyelapat Taun

Gawai Nyelapat Taun

  Senin, 20 May 2019 10:34
GAWAI: Wakil Bupati Sintang, Askiman membuka acara gawai nyelapat taun di Desa Lundang Baru Kecamatan Dedai, Sabtu (18/5). FIRDAUS/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Bersyukur dengan Hasil Panen yang Didapat

SINTANG-Gong dipukul sebanyak 7 kali, menandakan pelaksanaan gawai Dayak Nyelapan Taun di Desa Lundang Baru, Kecamatan Dedai resmi dibuka. 

Bertempat di halaman kantor Desa Lundang Baru, Wakil Bupati, Askiman berkesempatan untuk membuka acara tersebut. Didampingi Sekretaris Dewan Adat Dayak Kabupaten Sintang Herkulanus Roni, Yohanes RJ tokoh masyarakat, Pastor Paroki Pandan Romo Sabinus Amir, Pr dan ratusan warga. 

Pada kesempatan itu, Askiman mengajak masyarakat untuk senantiasa bersyukur karena sudah melewati musim berladang dengan baik. Ia juga menuturkan bahwa Gawai Nyelapat Taun merupakan cara bersyukur atas panen dengan cara adat budaya. 

“Mari kita jaga hubungan baik dengan masyarakat suku lain. Kita bangun relasi yang harmonis. Budaya saling menghargai satu dengan yang lainnya harus terus diperkuat,” pesan Askiman, Sabtu (18/5).

Tak hanya itu, ia juga memberitahu bahwa pada 25 Juli mendatang, akan ada peringatan perjanjian Tumbang Anoi di Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah. 

“Itulah momentum penghapusan budaya ngayau antar sub suku Dayak. Setelah itu seluruh suku Dayak di Kalimantan bisa bersatu tanpa sekat sub suku yang ada. Kita juga sudah memiliki perwakilan bangsa Dayak di Perserikatan Bangsa-Bangsa,” terangnya lagi.

Wakil Bupati Sintang ini juga berharap untuk acara gawai ini mempu  menjadi bentuk pembinaan kepada sanggar dan para pecinta seni budaya Dayak di seluruh pelosok Kabupaten Sintang.

Pada kesempatan yang sama, Herkulanus Roni selaku Sekretaris DAD Kabupaten Sintang menyampaikan bangga karena masyarakatnya Dayak di Desa Lundang Baru boleh bersyukur atas proses berladang tahun lalu sudah berjalan baik dengan hasil yang layak disyukuri. Pemerintah sudah mengakui keberadaan masyarakat adat. Pemkab Sintang sudah mengesahkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2015 tentang pengakuan terhadap masyarakat adat dan lembaga adat yang ada. 

“Bersyukur atas panen padi dengan segala proses berladang sudah dilaksanakan sejak turun temurun harus dilaksanakan. Gawai Nyelapat Taun diharapkan bukan saja milik Suku Dayak tetapi seluruh masyarakat desa Lundang Baru karena ini cara mengucapkan syukur atas panen. Menjaga gawai ini tugas masyarakat adat Dayak,” ucap Herkulanus Roni

Begitupun dengan Ismail selaku Ketua Panitia Gawai Nyelapat Taun Desa Lundang Baru menyampaikan gawai Nyelapat Taun merupakan agenda rutin masyarakat Suku Dayak di Lundang Baru. 

“Gawai ini untuk mengangkat budaya dan memupuk hubungan baik antar suku di desa kami,” ujar Ismail.

Tak ketinggalan, Juwali Kepala Desa Lundang Baru menyampaikan desa Lundang Baru sangat majemuk sehingga pelaksanaan gawai Nyelapat Taun ini dimaksudkan untuk memperkuat silaturahmi. 

“Bagi masyarakat Dayak disini, gawai ini untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang sudah didapat,” ungkap Juwali. (fds)

Berita Terkait