Ganda Putri Mentok di Perempat final

Ganda Putri Mentok di Perempat final

  Minggu, 10 March 2019 09:34
PUTRI : Bulutangkis ganda putri Jepang, Misaki Matsutomo-Ayaka Takahashi, dalam sebuah turnamen. japantimes.co.jp

Berita Terkait

Ayo Belajar dari Jepang 

BIRMINGHAM – Dalam dua tahun beruntun, ganda putri Jepang mendominasi seluruh pentas turnamen bulu tangkis dunia. Termasuk All England. Sejak 2018, tiga pasangan yang mengisi slot empat besar. Ini merupakan lompatan besar. Karena pada edisi 2017, tidak ada satupun ganda putri Jepang yang lolos ke semifinal.

Tahun ini, Jepang bertekad untuk menghadang satu-satunya ganda yang berada di luar lingkaran mereka yakni Chen Qingchen/Jia Yifan (Tiongkok). ''Saya yakin Jepang bisa tahun ini,'' kata pemain ganda putri Indonesia Greysia Polii.

Greysia dan pasangannya Apriyani Rahayu kalah di perempat final oleh Chen/Jia, 19-21, 17-21. Padahal, performa mereka sangat menjanjikan. Pada game pertama Greysia/Apriyani sempat unggul 19-17. Namun, mereka kehilangan momentum dan akhirnya dilibas.

Game berikutnya, Greysia/Apriyani masih memaksa pasangan Tiongkok bermain ketat. Namun saat kondisi 17-17, mereka kembali kehilangan momen. Greysia mengatakan bahwa dia dan Apriyani gagal untuk bersikap tenang dalam poin-poin kritis. ''Perlahan-perlahan permainan kami hilang. Tidak begitu saja hilang tetapi perlahan-lahan. Ritmenya nggak dapat,'' tutur Greysia. 

''Misalnya begini, kalau sudah unggul jauh, lalu kami melakukan kesalahan, langsung kayak terbebani gitu. Nah, di sana langsung hilang kepercayaan diri sedikit demi sedikit,'' jelas dia. ''Jadi mereka akhirnya bisa bali dengan kualitas yang bagus juga,'' lanjut pemain 31 tahun itu.

Soal dominasi pasangan Jepang, Greysia mengatakan ada satu faktor yang membuat mereka sangat tangguh. Yakni kompetisi domestik yang sangat ketat. Itu yang membuat mereka selalu mampu bersaing terus-menerus dalam level tertinggi. Fenomena itu, kata Greysia sama dengan dominasi Tiongkok antara lima sampai sepuluh tahun lalu.

Turnamen-turnamen domestik yang ketat membuat Jepang bisa menghasilkan banyak sekali ganda putri yang dahsyat. ''Jadi, siapapun yang akhirnya datang ke luar negeri, jadinya pede,'' imbuhnya.

Greysia menambahkan, pemain Indonesia harus banyak belajar kepada pebulutangkis Jepang. Ya sikap pantang menyerahnya, ya tak mau kalahnya, dan selalu bersemangatnya. ''Itu karena di dalam negeri mereka sangat kompetitif. Kita harus bisa seperti itu. Kita harus menyontohnya,'' imbuhnya.

Ganda putri Indonesia lama sekali puasa gelar di All England. Terakhir, pemain yang lolos ke final dan akhirnya menjadi juara adalah Verawaty Fajrin/Imelda Wiguna pada 1979. ''Saya tidak mau melihat itu ya. Bukannya tidak menghargai pemain legend atau apa. Tetapi saya berpikir bagaimana cara untuk mengukir prestasi sendiri,'' ucap Apriyani.

Selain Greysia/Apriyani, Indonesia meloloskan satu ganda putri lain di perempat final. Yakni Ni Ketut Mahadewi Istarani/ Rizki Amelia Pradipta. Namun Jumat malam WIB, mereka sudah kandas di tangan Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto 16-21, 17-21. Sama seperti Greysia/Apri, Ketut/Rizki juga kerap unggul dulu. Namun setelah itu tiba-tiba habis. 

''Mereka sudah mengantisipasi cara main kami. Saat tertinggal, mereka mengubah pola defense. Mereka juga lebih siap,'' jelas Rizky. Setelah ini, Ketut/Rizky akan pulang ke Indonesia. Lalu pada 26-31 Maret mendatang, mereka akan bertanding di India Open. (*/na)​

Berita Terkait