Gambar Rancangan Lambang Negara RI Karya Sultan Hamid II Jadi Cagar Budaya

Gambar Rancangan Lambang Negara RI Karya Sultan Hamid II Jadi Cagar Budaya

  Kamis, 31 January 2019 09:18
SERTIFIKAT: Yeti Djamilah Alkadrie (kiri) dan Sany Alkadrie dengan sertifikat Gambar Rancangan Lambang Negara Asli karya Sultan Hamid II di Jakarta, (26/1). Akbar Budi/INDOPOS & IST

Berita Terkait

Keluarga Teruskan Perjuangan, Rencana Bangun Museum 

Sultan Hamid II merupakan perancang lambang negara, Garuda Pancasila. Melalui perjuangan keluarga, akhirnya gambar rancangan asli lambang negara Indonesia itu menjadi benda cagar budaya nasional. 

Akbar Budi Prasetia, Jakarta

”Kemendikbud memberi sertifikat cagar budaya peringkat nasional untuk Rancangan Lambang Negara Asli karya Sultan Hamid II dan Insya Allah Komplek Istana Kadriah (Pontianak, Kalimantan Barat, Red) juga akan mendapat sertifikat tahun ini. Ini adalah buah karya perjuangan ayahanda, (alm) Max Jusuf Alkadrie (Syarif Max Yusuf Alkadrie, Red). Semoga kita semua dapat meneruskan dan menjaganya”. Demikian isi status Sany Alkadrie, putra (alm) Max Jusuf Alkadrie di akun Facebook (FB)-nya, Senin (28/1).

Gambar Rancangan Lambang Negara Asli karya Sultan Hamid II itu telah sah diakui Pemerintah Indonesia sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional pada 26 Agustus 2016. Penetapan tersebut ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 204/2016. 

Namun pada Senin, 24 September 2018, Ketum Yayasan Sultan Hamid II, yakni Anshari Dimyati yang diutus Max Jusuf Alkadrie, ketua Dewan Pembina Yayasan Sultan Hamid II, yang menerima plakat atau sertifikat Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional untuk Lambang Negara karya Sultan Hamid II ini. Penyerahan tersebut dilakukan oleh Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Triana Wulandari mewakili Mendikbud Muhadjir.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, Garuda Pancasila, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sementara lambang negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Istana Kadriyah, Pontianak.

Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung pada 1974, sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan ‘ide perisai Pancasila’ muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Seiring berjalannya waktu, anak sulung Sultan Hamid II, Max Yusuf Alkadrie meninggal dunia tepatnya pada Senin, (21/1) lalu. Yeti Djamilah Alkadrie, istri Max Yusuf Alkadrie mengatakan bahwa sebelum meninggal dunia, suaminya berpesan agar sertifikat yang telah diperjuangkan sejak 2000 dapat dipasang di rumahnya. ”Saya mendapat pesan agar melanjutkan jerih payah almarhum (Max, Red). Almarhum bilang, ‘sebelum saya sehat, sebelum kembali ke rumah, tolong pasang (sertifikat, Red)’ kayak plakat. Bahwa kita memberitahu, yang asli ini ada di rumah kita. Ini jerih payah dia (Max, Red) sejak 2000 hingga akhirnya pada 2018 barulah terwujud menjadi benda cagar budaya,” katanya saat didampingi sang putra, Sany Alkadrie kepada INDOPOS belum lama ini. Yeti menambahkan, suaminya pernah bilang kepadanya, bahwa dia tidak pernah meminta royalti.

Di tempat yang sama, Staf Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud Yogi Abdi Nugroho mengatakan, sertifikat yang diberikan merupakan amanah Undang-Undang (UU) Nomor 11/2010 tentang Cagar Budaya. Lambang negara tersebut merupakan warisan atau sejarah bangsa Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan. ”Kewajiban di UU tentang Cagar Budaya itu mengamanahkan setelah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional, kami berkewajiban untuk mengeluarkan surat keterangan status cagar budaya dan surat keterangan kepemilikan. Jadi yang tadi dipanjang di rumah alm Max ini adalah sertifikasi cagar budaya peringkat nasional yang bagian dari surat keterangan status cagar budaya. Itu merupakan kewajiban pemerintah pusat, dalam hal ini Kemendikbud untuk memberikan tahapan perlindungan kepada lambang negara,” ujarnya.

Setelah diberikan sertifikat, kata Yogi, Kemendikbud akan melestarikan cagar budaya lambang negara tersebut agar diperlihatkan ke masyarakat Indonesia. ”Setelah cagar budaya itu ditetapkan, maka selanjutnya tindakan pelestarian berupa pengembangan dan pemanfaatan. Pemanfaatan itu bisa macam-macam, bisa berupa publikasi yang tadi disampaikan pihak keluarga, bahwa ada rencana untuk membuat museum. Ini adalah insiatif yang sangat bagus. Karena keluarga alm Max merasa bahwa lambang negara perlu dipublikasikan ke khalayak, sehingga rencananya dibangun museum oleh keluarga,” paparnya.

Inipun direspon dengan baik pihak keluarga alm Max yang akan mempublikasikan plakat lambang negara yang sudah ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya nasional. ”Terutama kepada anak sekolah. Makanya, saya akan pasang di depan, supaya bisa dilihat lambang negara ini adalah ciptaan Sultan Hamid II yang berasal dari Pontianak,” tandas Yeti. 

Perlu diketahui, Sultan Hamid II lahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie. Putra sulung dari Sultan Pontianak keenam, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie dan Syecha Jamilah Syarwani. Sultan Hamid II lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913. Saat menjabat sebagai Menteri Negara Zonder Portofolio, dia ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang, dan merumuskan gambar lambang negara. Pada 8 Februari 1950, rancangan final diajukan kepada Soekarno, namun ada masukan dari Partai Masyumi. Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan yang telah disempurnakan, sehingga tercipta bentuk rajawali yang menjadi Garuda Pancasila. (*)

Berita Terkait