Gafatar Kapuas Hulu Sudah Bubar

Gafatar Kapuas Hulu Sudah Bubar

  Sabtu, 16 January 2016 10:19
PERTEMUAN : Seluruh eks anggota gafatar dikumpul di Gor Kecamatan Putussibau Selatan oleh Muspika Kecamatan Putussibau Selatan untuk mendengarkan pengarahan. MUSTA’AN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PUTUSSIBAU—Mantan pengurus Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) di Kapuas Hulu, Ponidi mengaku tertarik bergabung dengan gafatar lantaran programnya jelas, kerja nyata, aksi sosial donor darah, kerja bakti dan nilai-nilai positif lainnya. Selain itu program ketahanan pangan juga sangat jelas bagi petani, tidak heran setiap hasil pertanian dan kebun selalu dibagi-bagikan kepada warga sekitarnya.

“Gafatar secara nasional 20 April 2015 sudah dibubarkan. Termasuk di Kapuas Hulu otomatis bubar,” kata  Ponidi mantan pengurus Gafatar Kapuas Hulu pada pertemuan Muspika Putussibau Selatan dan kelompok Gafatar Kapuas Hulu, di GOR kecamatan Putussibau Selatan, pada Jumat (15/1) siang. Anggota Gafatar menginjak kan kakinya di Bumi Uncak Kapuas September 2014.

Waktu itu keseluruhan anggota bermukim pada 3 lokasi."Waktu itu kami tinggal di lokasi kontrakan pak Gawat, pak Soleh di jalan Baong. Ini ngontrak selama 1 tahun. Ada 12 kepala keluarga," ujarnya. Ponidi mengaku, keseluruhan anggota yang masuk Gafatar ini berasal dari Jakarta dan Tanggerang. Hal yang membuat tertarik kepada Gafatar adalah kerjanyata, aksi sosial, kerja bakti dan nilai positif.

Dikatakan Ponidi, ada juga pandangan tentang petani yang dibentuk Gafatar yakni untuk ciptakan kekuatan pangan.

"Saya dulu kerja pabrik selama 3 tahun, saya merasa susah dan banyak tekanan. Jadi saya merantau ke Kapuas Hulu. Sampai disini kami dengan sadar dengan suka rela kesini dengan pendampingan Ketua Gafatar pak Junaidi. Jadi tidak ada paksaan masuk gafatar waktu itu," tuturnya.

Ponidi mengaku sudah melapor organiasasi Gafatar ke Kesbangpol Sekda Kapuas Hulu. Permintaan dari kesbangpol coba dipenuhi.  “Tanggal 20 April 2015, Gafatar dibubarkan dari pusat. Termasuk di Kapuas Hulu otomatis bubar. Kami tidak ada ikatan lagi dengan Gafatar," terangnya. Ketua Gafatar Kapuas Hulu Junaidi juga sudah pergi ke Pontianak, pada September lalu setelah istrinya melahirkan.

Dari 12 kepala keluarga mantan anggota Gafatar, 2 kepala keluarga sudah tinggalkan Kapuas Hulu. “Dua kepala keluarga sudah pulang, sisanya  masih bertahan di Kapuas Hulu untuk bertani," beber Ponidi, dihadapan Camat Putussibau Selatan, Iwan Setiawan, Danramil 06/Putussibau, Kapten Inf Hari Sudibyo, perwakilan Polsek Putussibau Selatan, Kades Tanjung Jati dan Lurah Kedamin Hulu.

Selaku mantan pengurus Gafatar, Ponidi mengatakan, dalam peribadahan organisasinya tidak ada tekanan. Sebab itu hubungan pribadi, manusia dengan pusat. "Mau sholat atau tidak terserah, Gafatar cuma organiasi yang bergerak di bidang sosial dan pertanian," tuturnya. Untuk pendidikan, Ponidi, mengaku memang ada homescholing Gafatar. Dari itu ajarkan tentang nilai-nilai kebaikan.

“Yang ngajar juga adalah orang tua anak masing-masing. Karena di keadaan rill ada narkoba dan tauran. Jadi home schooling," katanya. Menurut, Ponidi, pendidikan nonformal sangat penting menanamkan sifat-sifat yang ditanamkan tuhan yang maha esa. "Pendidikan nonformal, tergantung orang tua masing-masing, mau sekolahkan atau tidak," ungkap lulusan SMK Otomotif Kelaten ini.

pada pertemuan dengan Muspika Putussibau Selatan, sebagai pendatang, Ponidi memohon maaf karena sudah membuat resah. "Kami mohon maaf kepada masyarakat dan aparat. Kami bersedia jika dipanggil lagi untuk memberi keterangan," tutur Pondini. Sementara itu, Camat Putussibau Selatan, Iwan Setiawan mengatakan, mediasi bersama warga yang tergabung pada Gafatar memang perlu dilakukan. “Mediasi ini jangan ditunda, karna sudah jadi fokus masyarakat secara luas,” tegas Iwan.

Kemudian untuk memastikan, anggota gafatar di Kapuas Hulu tidak merupakan orang-orang yang hilang di tingkat pusat. Dan bergabung ke Kapuas Hulu. Ini yang mau dipastikan oleh Muspika dan pemerintah daerah Kapuas Hulu.Gafatar sebenarnya gerakan sosial dibidang pertanian. Namun pada internal Gafatar ada aliran Ahmad Musadiq, yang mengaku sebagai nabi. Anggota banyak yang ikut.

"Kami ingin tahu apakah disini, pengikut Ahmad Musadiq, untungnya tidak ada. Karena sudah bubar Gafatar, semua konsep Gafatarnya harus dihilangkan," pinta Iwan. Untuk pendidikan anak-anak mantan anggota Gafatar, harus masuk pendidikan formal. Agar bergaul dengan masyarakat, dan mendapat jaminan pendidikan. "Di negara ini pemerintah wajibkan pendidikan 12 tahun," serunya.

Sementara Danramil 06/Psb, Hari menambahkan, masyarakat yang keluar dari Gafatar Kapuas Hulu harus kembali membaur dengan masyarakat dan memeluk kepercayaan yang tidak menyimpang, memegang teguh persatuan bangsa dan ideologi Indonesia. "Dalam pepatah, dimana bumi di pijak disitu langit di junjung. Artinya tidak boleh egois, harus sesuaikan diri dengan lingkungan,” katanya.

Heri juga meminta eks gafatar ikuti adat istiadat setempat yang tidak bertentangan dengan agama. “Interaksi sosial juga penting," pesan Danramil. Kehadiran di masyarakat harus beguna dan tidak membuat masyarakat resah. "Jangan sampai kedatangan menjadi perpecahan, harus menyatu dengan masyarakat," pintanya dihadapan seluruh eks anggota gafatar Kapuas Hulu yang hadir.(aan)

Berita Terkait