Gadis Kubu Raya Diperbudak di Tiongkok

Gadis Kubu Raya Diperbudak di Tiongkok

  Selasa, 11 June 2019 09:26

Berita Terkait

Diduga Jadi Korban Kawin Pesanan 

PONTIANAK – Seorang gadis asal kecamatan Teluk Pakedai, Kubu Raya diduga menjadi korban perdagangan orang dengan modus kawin pesanan di Tiongkok. Malangnya, perempuan berinisial MN alias Ol itu kini diperbudak di negeri Tirai Bambu. Informasi ini disampaikan teman korban, Alberta, pada Pontianak Post, Senin (10/6). 

Menurut Alberta, korban meminta bantuan agar bisa dipulangkan ke Indonesia.  “Dia menghubungi saya dan menyampaikan bahwa ia kerap dipukul dan saat ini lari dari rumah mertuanya,” ungkap Alberta. 

Nasib buruk yang dialami korban bermula saat perempuan berusia 23 tahun itu bertunangan dengan seorang pria asal Tiongkok berinisial HT di Singkawang. Pertunangan itu terjadi atas bantuan seorang mak comblang. Dialah yang menguruskan sejumlah dokumen agar korban bisa menikah dan kemudian berangkat ke Tiongkok bersama suaminya. 

Alberta mengaku mengenal dekat korban. Sebelum berangkat ke Tiongkok, Ola tinggal di sebuah rumah kontrakan di Gang Teluk Betung, Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Siantan Hilir, Pontianak Utara. Saat itu, korban sering berkunjung ke rumah kontrakan Alberta yang berada di Gang yang sama. 

Pada September 2018, korban meminta Alberta menemaninya ke Singkawang. Korban mengatakan bahwa ia akan melaksanakan pertunangan. Sebagai teman Alberta pun menyanggupi permintaan itu. Setibanya di Singkawang, korban bersama seorang wanita bernama Mak Ayud pergi ke rumah seorang perempuan yang diduga sebagai mak comblang antara korban dan calon suaminya.

Alberta menerangkan, setelah melakukan pertemuan itu, ia bersama korban, Mak Ayud dan si Mak Combang bersama calon tunangan pergi ke sebuah studio foto untuk melakukan foto bersama. Seolah-olah sudah melaksanakan pernikahan.  

“Saat itu Mak Comblang dan Mak Ayud meminta saya untuk mengaku sebagai ibu kandung korban,” ucapnya. 

Alberta menuturkan, setelah foto di studio ada pula foto-foto pesta yang dilaksanakan di sebuah rumah makan. Pada malam harinya dia ketika berada di rumah mak comblang di singkawang, dia diberi uang sebesar Rp300 ribu untuk uang makan. Saat itu, kata Alberta, dia tidak menyadari jika dirinya telah dimanfaatkan sindikat perdagangan orang. 

“Selesai urusan di Singkawang saya dan Mak Ayud pulang ke Pontianak. Sementara korban tidak ikut karena akan ke Mempawah,” sambungnya. 

Setelah tiga hari dari acara di Singkawang, lanjut Alberta, korban datang ke rumahnya dan menyampaikan bahwa ia sedang menunggu surat nikah yang sedang diurus Mak Comblang. Lalu pada seminggu kemudian korban kembali datang memberi kabar akan berangkat ke Jakarta.  “Ketika datang ia meminjam tas koper untuk berangkat,” tuturnya.

Alberta mengatakan, setelah pertemuan itu dirinya tidak mengetahui secara pasti kapan korban berangkat ke Jakarta maupun ke Tiongkok. Dia baru mendapat kabar setelah korban berada di Tiongkok. 

“Saat pertama menghubungi, ia menyatakan dalam keadaan baik-baik saja. Lalu tiga bulan kemudian ia kembali menghubungi saya. Dia menyampaikan bahwa mertuanya jahat, ia kerap dipukul dan saat itu ia lari dari rumah,” ungkapnya. 

Setelah mendapat kabar tidak menyenangkan itu, Alberta menyampaikan kepada Mak Ayud mengenai korban. Namun, Mak Ayud hanya meminta agar korban bersabar karena sudah menerima uang. 

“Setelah mendapat kabar itu saya bingung mau berbuat apa. Hingga akhirnya saya meminta bantuan kepada Serikat Buruh Migran Indonesia untuk membantu memulangkan korban,” ucapnya. 

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Cabang SBMI Mempawah, Mahadir mengatakan, pada 24 April 2019, ibu kandung korban mendatangi posko SBMI di Sungai Pinyuh. Ia mengajukan permohonan pendampingan pemulangan anaknya, MN, yang berada di Tiongkok. Ibu korban menduga anaknya menjadi korban perdagangan orang. 

Mahadir menjelaskan, berdasarkan penelusurannya, MN adalah korban bisnis kawin pesanan. Kejahatan tersebut melibatkan sindikat perdagangan orang. Pelakunya warga asing yang bekerjasama dengan warga lokal. “Dalam kasus ini, kami kesulitan untuk memulangkan korban,” ujar Mahadir. 

Menurut Mahadir, secara administrasi ternyata korban mengantongi dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Ducapil) Kabupaten Mempawah.

Dia menjelaskan, seperti akta perkawinan yang dimiliki korban diketahui adalah akta asli yang dikeluarkan Dukcapil Mempawah. Padahal kenyataannya korban tidak pernah menghadap atau mengurus akta nikah di Dukcapil. Selain itu, pihak yayasan di Sungai Pinyuh mengaku tidak pernah menfasilitasi pernikahan antara korban dan warga negara Tiongkok. 

“Menurut korban, dokumen-dokumen itu sudah langsung jadi karena ada yang mengurusnya,” ucapnya. 

Mahadir menuturkan, akibat dokumen asli yang dimiliki korban, pihaknya kesulitan untuk melakukan pemulangan. Karena klaim yang dilakukan warna negara Tiongkok atas statusnya dengan korban sangat kuat. “Dengan adanya keterangan Alberta dan telah dikeluarkannya surat pembatalan akta nikah oleh Dukcapil Mempawah dapat membantu mempercepat proses pemulangan korban,” tuturnya. 

Mahadir menyatakan, pihaknya sudah berkomunikasi lewat sambungan telpon dengan korban yang berada di Tiongkok. Kepada Mahadir korban bercerita bahwa pada awalnya korban dijanjikan untuk dijadikan istri. Namun setelah berada di Tiongkok dia justru dipekerjakan secara tidak manusiawi. Bahkan dia kerap mengalami kekerasan fisik. “Korban sering dipukul oleh mertuanya,” kata Mahadir. “Salah satu pengakuan korban, ketika sedang haid ia malah ditelanjangi,” lanjutnya. 

Korban dipekerjakan sejak pagi hingga malam sebagai penganyam bunga. Namun upahnya diambil oleh pihak suami sebagai bayaran utang atas biaya nikah yang telah dikeluarkan. “Korban di sana diperbudak,” ungkapnya. 

Mahadir menyatakan, saat ini pihaknya sudah berkomunikasi dengan Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri. Pihaknya telah menyurati KBRI Beijing untuk memulangkan korban.

“Informasi terbaru yang kami dapatkan, kepolisian Tiongkok sedang berusaha membujuk keluarga suami korban untuk menyerahkan paspor korban. Paspor ini penting agar yang bersangkutan dapat dipulangkan,” ujarnya. 

Mahadir menyatakan kasus perdagangan orang dengan modus pesan kawin itu bukanlah yang pertama kali terjadi di Kalimantan Barat. Catatan pihaknya sejak Maret hingga Mei tahun ini telah terjadi delapan kasus. Dan target korbannya tidak hanya wanita asal suku Cina tetapi telah merambah wanita dari suku lain.

“Kasus perdagangan orang dengan modus kawin pesanan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Korbannya terus bertambah. Terbaru kami menerima permintaan pendampingan dari warga Sanggau, dimana ada empat wanita satu masih di bawah umur menjadi korban bisnis kawin pesanan,” pungkasnya. (adg)

 

Berita Terkait