Gabung ke Komunitas untuk Lepas dari Jeratan Narkotika

Gabung ke Komunitas untuk Lepas dari Jeratan Narkotika

  Jumat, 25 May 2018 10:00
DISKUSI: Diskusi edukasi terkait banyaknya kasus kekerasan yang dialami perempuan pengguna napza. MARSITA RIANDINI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Diskusi Komunitas Persaudaraan Korban Napza Indonesia

Sepuluh perempuan pengguna narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza) dan mantan pengguna napza  hadir dalam diskusi Penguatan Kapasitas Perempuan Pengguna Napza yang digelar Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI).  Mereka ingin bisa lepas dari jeratan narkotika yang telah menghabiskan harta benda. 

MARSITA RIANDINI, Pontianak

SEBUT saja U, wanita berusia empat puluh tahun ini sudah beberapa tahun menjadi pengguna narkotika.  U mengaku awalnya hanya mengonsumsi minuman keras. Meskipun berteman dengan banyak pengguna narkotika, U tidak berkeinginan mengonsumsinya. Tapi, semuanya berubah ketika persoalan rumah tangga menimpanya. Bercerai dengan suami, orang tua meninggal dunia, anak pergi dari rumah menjadi musibah yang beruntun dialami U. Ia tidak sanggup menahan beban yang diderita. Pelan-pelan, ia mulai mengenal narkotika. “Awalnya saya gunakan inex, lalu lanjut ke sabu,” ujarnya yang bercerita dengan mata yang berkaca-kaca mengenang masa lalu. 

Meski belum sampai pada tahap adiksi, namun U mengaku sulit melepas barang tersebut. Ia menggunakan untuk stamina. Setiap harinya, U harus bekerja keras. Ia seorang buruh kasar. Memikul banyak beban berat, yang memaksanya harus kuat. “Saya ingin lepas,” ujarnya berharap. 

Beragam cara yang dilakukan wanita ini untuk melepas jeratan narkotika. Jika U mengalihkannya dengan minuman keras, lain lagi dengan K. Dia mengaku untuk mengalihkan pikiran dan keinginan untuk memakai sabu dengan pergi ke rumah orang tuanya. “Saya ke rumah emak saya. Kalau disana kan tidak berani menggunakan,” paparnya.  

Focal Point PPKNI Kota Pontianak, Merry Natalia mengatakan PKNI hadir untuk merangkul perempuan pengguna napza untuk pemberian informasi dan edukasi terkait adiksi, hak-hak pengguna napza, kesetaraaan gender dan banyaknya kasus kekerasan yang sering dialami khususnya oleh perempuan pengguna napza. “Kami mengundang pengguna dan mantan pengguna napza,” lanjutnya. 

Konsentrasi saat ini, kata dia bukan pada jenis zat yang dominan melainkan pada individu yang menggunakan, menyalahgunakan dan kecanduan.  “Perempuan pengguna napza sangat rentan menjadi korban kekerasan, eksploitasi seksual dan mengalami trauma,” ujar Merry. 

Ketika mengalami trauma, lanjut dia menjadi tantangan perempuan pengguna napza untuk dapat menjalani pemulihan ketergantungan. Ditambah lagi kurangnya fasilitas rehabilitasi khusus perempuan. “Ini menjadi salah satu tantangan bersama pemerintah, LSM IPWL dan masyarakat dalam pengadaaan rehabilitasi khusus untuk perempuan pengguna napza baik itu rehabilitasi sosial ataupun rehabilitasi medis,” jelasnya. 

Merry mengatakan untuk merangkul perempuan pengguna napza cukup sulit. Rata-rata pengguna napza di Pontianak sangat tertutup. Pada awal pertemuan, kata Merry hanya di hadiri oleh tiga orang. Namun, usaha tidak berhenti begitu saja untuk bisa merangkul sebanyak-banyaknya. 

 “Dengan adanya kita mempertemukan teman-teman disini, dalam satu komunitas ini, masing-masing teman akan menarik teman lainnya yang pengguna narkotika untuk bergabung dalam komunitas ini,” ujarnya. 

Dikatakan Merry, hadirnya komunitas ini berharap bisa membawa perubahan lebih baik bagi pengguna narkotika. Diakuinya, mengubah perilaku seseorang itu tidaklah mudah. Apalagi jika sudah candu. “Setidaknya untuk diri sendiri, dari kesadaran diri sendiri. Mereka sadar ada untungnya tidak menggunakan narkotika. Dalam komunitas ini bisa termotivasi untuk berhenti,” ucapnya yang juga mengundang mantan pecandu narkotika untuk berbagi pengalaman baik. 

Dia berharap, bersama teman-temannya bisa  memperjuangkan hak-hak  perempuan, untuk hidup bebas dari kriminalisasi dan diskriminasi akibat kebijakan, peraturan dan perlakuan aparat serta masyarakat yang menstigma pengguna napza.(*)

Berita Terkait