Foxtrot Six, Film Lokal Rasa Hollywood

Foxtrot Six, Film Lokal Rasa Hollywood

  Jumat, 1 March 2019 10:41
FILM ACTION: Film action Indonesia Foxtrot Six digarap sekelas film Hollywood. Adegan action disuguhkan cukup intens dengan diimbangi efek visual yang cukup bagus. MD PICTURES-RAPID EYE

Berita Terkait

ACTION-NYA ENGGAK NANGGUNG

Film action Indonesia menunjukkan progres yang makin bagus. Terlebih saat ada campur tangan produser dari Hollywood. Salah satunya tergambar pada Foxtrot Six.

-------------

FILM karya sutradara Randy Korompis ini berlatar Indonesia pada 2031. Saat itu terjadi pergolakan sosial politik. Partai penguasa, Piranas, mengambil alih pemerintahan di tengah krisis bahan pangan. Karena itulah, Angga (Oka Antara), mantan perwira Marinir yang kini menjadi anggota dewan, bertekad melakukan aksi penyelamatan rakyat.

Namun, di tengah rencananya, Angga sadar bahwa ada yang tidak beres di internal Piranas. Dia lantas bergabung dengan Reform, gerakan pemberontakan yang dipimpin kekasihnya, Sari (Julie Estelle). Bersama Reform serta kelima kawannya sesama pasukan khusus, Angga pun berjuang mengakhiri tirani Piranas.

Mario Kassar, produser Amerika Serikat yang dikenal dengan filmya, Rambo, ikut serta dalam proyek tersebut. Keterlibatannya dalam memberi masukan dan insight tecermin lewat film. Foxtrot Six tidak hanya bertabur bintang, tetapi juga visual yang mengagumkan. Menonton film itu serasa menyaksikan film-film action sekelas Hollywood. Hanya, film tersebut berlatar Indonesia.

Randy mengungkapkan, universe atau latar tempat Foxtrot Six merupakan hasil imajinasinya. Dia memang ingin membuat film aksi yang menghibur sekaligus membuat penonton belajar sebuah hal baru. ’’Saya juga ingin bikin penonton belajar tentang optimisme dan menjadi pahlawan dengan cara yang baru,’’ kata Randy.

Dia menyatakan, setiap adegan action atau perkelahian memang dirancang cukup seram. Maksudnya, ada banyak adegan yang cukup sadis dan berdarah-darah. Melibatkan senjata api dan senjata tajam yang banyak pula. ’’Soalnya, kalau dibikin nanggung, nanti kurang terasa nuansa misi berbahayanya,’’ ujar Randy.

Aspek action yang ditawarkan cukup intens. Enam cast utama pemeran pasukan khusus –Oka, Chicco Jerikho, Mike Lewis, Rio Dewanto, Arifin Putra, dan Verdi Solaiman– sudah berlatih selama enam bulan agar bisa memperagakan adegan perkelahian yang estetis dan realistis. Karena bukan atlet bela diri, keenam aktor utama secara khusus dilatih Uwais Team untuk koreografi bertarungnya.

Adegan action yang intens lantas diimbangi dengan efek visual yang cukup bagus. Yang paling menarik perhatian adalah Kodiak, robot yang digunakan untuk menyerang. Desain dan penampilannya mirip dengan robot di film-film macam Transformers atau Pacific Rim.

Oka sebagai tokoh utama mengakui, Foxtrot Six adalah salah satu film tersulit yang dibintanginya. Dia kebagian cukup banyak adegan bertarung dan berdarah-darah. Dia juga dituntut matang dari segi akting drama. ’’Soalnya, selain action, unsur drama film ini cukup kuat,’’ ucap Oka.

Pernyataan Oka memang benar. Di tengah aksi yang brutal dan sadis, Foxtrot Six sebenarnya menawarkan kisah humanistis. Menunjukkan bahwa pasukan khusus yang gagah berani juga punya sisi melankolis dan kegalauan. Apalagi kalau menyangkut orang terkasih.

Di bagian akhir film, penonton akan mendapat definisi baru tentang pahlawan. Siapa pun bisa menjadi pahlawan dengan cara yang tidak terduga sekaligus unik. ’’Saya mau penonton bisa melihat potensi diri, sama dengan para tokoh di film ini,’’ tutur Randy. (len/c14/nor)

Berita Terkait