Format 24 Tim untuk Euro 2020

Format 24 Tim untuk Euro 2020

  Senin, 11 July 2016 09:30
Theodore Theodoridis

Berita Terkait

PARIS – Ketika awal bergulir di Prancis pada 1960, Euro hanya melibatkan empat negara. Pada 1980, peserta bertambah menjadi delapan negara. Enam belas tahun berselang, tepatnya pada edisi 1996 di Inggris, Euro diikuti 16 negara. 

Nah, pada Euro 2016, UEFA (Asosiasi Sepak Bola Eropa) membuat gebrakan dengan menambah kontestan menjadi 24 negara. Pro-kontra mencuat. Ada yang menyebut bertambahnya peserta mengurangi atmosfer persaingan. Di sisi lain, penambahan negara peserta menarik secara bisnis. Pertandingan bertambah. Penonton meningkat.

’’Saya kira 24 tim terlalu banyak,’’ kata pelatih timnas Jerman Joachim Loew dalam wawancara dengan ZDF. ’’Piala Dunia akan menambah peserta menjadi 40 tim (sekarang 32 tim) dan akan terus bertambah. Itu akan menjadi masalah di masa depan,’’ lanjutnya.

Euro 2016 ini disebut memberikan ’’kelonggaran’’ buat banyak negara yang kualitasnya biasa-biasa saja. Lihat saja, dari 55 negara anggota UEFA, hampir separonya lolos ke putaran final. Dengan format baru, hanya 31 negara yang tersisih. Sebelumnya, dengan format 16 tim, yang tidak lolos adalah 39 negara.

Dengan format 24 tim, jumlah pertandingan menjadi 50 kali. Sedangkan format 16 negara selesai dalam 31 laga. Euro 2012 yang diikuti 16 tim selesai dalam 23 hari. Sedangkan Euro 2016 lebih panjang, yakni 31 hari.

Meski begitu, UEFA menegaskan format 24 tim tetap dipakai untuk Euro 2020. ’’Baru pada Euro 2024 akan ditinjau kembali mengenai format turnamen. Akan ada diskusi yang mempertimbangkan plus serta minus apakah turnamen kembali kepada 16 negara atau berkembang menjadi 32 negara,’’ ucap Theodore Theodoridis, sekretaris jenderal ad interim UEFA. 

Pria asal Yunani itu menggarisbawahi persiapan 24 tim yang lolos ke Euro 2016 ini juga ditinjau sejak fase kualifikasi. Artinya, apakah dengan pembagian ke dalam sembilan grup masing-masing negara tidak mengalami kelelahan dalam berkompetisi. Theodoridis mengatakan, ada opsi menggelar Euro dengan format 32 negara. Itu berarti sama dengan kontestan Piala Dunia. 

’’Jika Anda bertanya kepada saya apakah 32 negara akan kompetitif, saya akan menjawab ada lebih dari 32 negara anggota UEFA yang bisa bersaing,’’ tuturnya. Akan tetapi, format 32 negara akan sangat menyiksa para peserta. Terutama dari sisi jadwal main dan hari istirahat yang pendek. 

Terkait menurunnya kualitas dengan format 24 negara, hal itu tidak sepenuhnya benar. Di antara lima debutan di Euro 2016, hanya Albania yang tidak lolos dari penyisihan grup. Sementara itu, Wales, Slovakia, Irlandia Utara, dan Islandia melenggang ke fase knockout. Wales, yang kembali ke major tournament setelah 58 tahun absen, malah bisa menembus semifinal.

Direktur Turnamen Euro Martin Kellen menyatakan, pengembangan partisipasi menjadi 24 negara dianggap sangat positif. Negara-negara yang semula dianggap sebelah mata sangat antusias mengikuti Euro. ’’Akan ada ’ledakan’ dari negara-negara di Eropa yang semula melihat sepak bola sebagai minoritas. Kita akan melihat lebih banyak anak kecil bermain sepak bola,’’ ujar Kellen kepada BBC. 

Kellen mencontohkan bagaimana bergairahnya Wales dan Islandia yang lolos ke Euro untuk kali pertama. Di Wales, rugbi yang sebelumnya menjadi olahraga nomor satu kini disamai sepak bola.

The Guardian menulis bahwa ekspansi peserta Euro memberikan angin segar buat perkembangan sepak bola. Di Cardiff, ibu kota Wales, penjualan merchandise The Dragons –julukan timnas Wales– laris manis. 

Sementara itu, berbicara keuntungan, Bloomberg mencatat, pemasukan Euro 2016 mencapai angka yang sangat menggiurkan. Yakni, EUR 830 juta atau sekitar Rp 12 triliun. Jumlah itu naik tajam dibandingkan empat tahun lalu. Pada Euro 2012, UEFA mendapat pemasukan sekitar EUR 537 juta (sekitar Rp 7,7 triliun). 

Senior Vice President UEFA Angel Maria Villar mengatakan, satu-satunya yang layak mendapat penghargaan terkait kesuksesan itu adalah mantan Presiden UEFA Michel Platini. Sebab, Platini-lah peletak kebijakan soal pengembangan jumlah peserta dari 16 negara menjadi 24 negara. (dra/c17/ca)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait