Fisioterapi Sesudah Operasi Caesar

Fisioterapi Sesudah Operasi Caesar

  Jumat, 13 April 2018 11:00

Berita Terkait

Sesudah menjalani operasi caesar (sectio caesarea) biasanya terdapat beberapa persoalan yang dirasakan pasien. Diantaranya nyeri pada daerah sayatan atau incisi, potensial terjadinya Deep Vein Trombosis atau DVT, penurunan kekuatan otot perut, kekuatan otot dasar panggul, serta kemampuan aktivitas sehari-hari (ADL). Terapi fisioterapi pun bisa jadi pilihan untuk mengatasinya. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Fisioterapi merupakan proses rehabilitasi melalui serangkaian pencegahan dan penanganan dalam menangani gangguan fisik pada tubuh akibat cedera atau penyakit. Fisioterapi berperan dalam pengembalian kebugaran, kemandirian dalam aktivitas, seperti lebih cepat bangun, duduk, jalan, dan lainnya. Serta, membantu mencegah komplikasi paskaoperasi, seperti caesar (melahirkan). 

Fisioterapi Agustinus Hendro Ellyantoro, SST. FT menuturkan paskapembedahan caesar, ibu cenderung mengalami penurunan kebugaran dan penurunan aktivitas. Oleh karena itu, fisioterapi dapat membantu meningkatkan kebugaran, serta kemampuan ibu untuk beraktivitas kembali pascamelahirkan melalui operasi. 

Sebagaimana kasus kehamilan pada umumnya, perlu adanya pengembalian kekuatan otot-otot yang selama ini teregang, khususnya otos perut dan otot dasar panggul. Selain itu, perlu juga peregangan otot-otot di bagian belakang. Hal ini dikarenakan selama kehamilan otot belakang lebih banyak bekerja untuk menyangga perubahan postur tubuh.  

“Adanya fisioterapi dapat mengembalikan kekuatan dan elastisitas tulang belakang ibu,” ujarmya.

Fisioterapi yang dilakukan juga dapat mencegah efek samping paskaoperasi pada fungsi pernafasan dan aliran darah. Contohnya, Deep Vein Trombosisis (DVT). Fisioterapi Rumah Sakit Daerah Dr. Soedarso Pontianak mengatakan fisioterapi juga dapat membantu saat ibu mengalami keluhan nyeri pinggang myogenic, termasuk mengembalikan kedua tungkai bengkak (oedema).

Hendro mengungkapkan fisioterapi paskaoperasi dapat dilakukan mulai dari rawat inap dan rawat jalan. Saat rawat inap, seorang fisioterapi akan memberikan latihan setelah sadar. Latihan yang diberikan dimulai dari gerakan pasif, pernafasan, gerek free aktif, hingga fungsional aktivitas. Gerakan aktif berfungsi untuk kebugaran daya tahan otot dan kekuatan ototnya. 

“Sedangkan, gerakan pasif untuk meningkatkan elastisitas otot (peregangan) dan membantu aliran darah balik (mencegah deep vein trombosis dan oedema),” tambahnya. 

Gerakan disesuaikan dengan keadaan pasien. Gerakan selama rawat inap meliputi gerakan aktif, latihan pernafasan, latihan penguatan otot dasar panggul, peregangan tungkai, khususnya otot calf muscle atau betis dan dilanjutkan latihan aktif. Kemudian latihan fungsional miring kanan dan kiri, latihan duduk, berdiri dan jalan. Untuk rawat jalan gerakan yang dilakukan adalah senam paskanifas.

Fisioterapi RSIA Anugerah Bunda Khatulistiwa Pontianak menjelaskan ibu akan menjalani fisioterapi di seluruh tubuh, khususnya latihan aktif dan pernafasan. Kemudian otot dasar punggung dan belakang tungkai. Namun, proses latihan fisioterapi juga bergantung pada tahapan kondisi, serta keluhan yang dirasakan ibu. Latihan berlangsung selama 30 menit dalam satu sesi.

“Waktu latihan bisa kurang atau lebih sesuai keluhan dan jenis latihannya,” jelas Hendro.

Meski memiliki ragam manfaat, tak ada dampak berbahaya yang dapat ditimbulkan jika paskaoperasi caesar ibu tak melalukan fisioterapi. Pada dasarnya, fisioterapi lebih pada memberikan asas manfaat dan mencegah komplikasi yang dapat terjadi. Namun, perlu diperhatikan bahwa latihan yang tak sesuai assement dapat menimbulkan keluhan baru. 

“Karena terkadang orang awam atau keluarga memberikan aktivitas sebelum tahapannya,” pungkasnya.**

 

 

Berita Terkait