Final Penuh Gelora

Final Penuh Gelora

  Minggu, 15 July 2018 08:24

Berita Terkait

Prancis vs Kroasia 

MOSKOW – Seandainya Stadion Luzhniki, Moskow, mampu menampung 4,5 juta penonton, Ivan Rakitic meyakini semua kursi bakal terisi. Oleh para pendukung Kroasia dalam final Piala Dunia melawan Prancis malam ini WIB. 

“Final ini bukan sekedar tentang 23 pemain dan para staf, melainkan 4,5 juta warga Kroasia,” kata gelandang Kroasia itu dengan penuh gelora dalam jumpa pers kemarin (14/7), seperti dikutip Daily Telegraph. 

Campur aduk antara antusiasme, kebanggaan, dan nasionalisme itu bisa dipahami. Sebab, inilah untuk kali pertama negeri yang baru memproklamirkan kemerdekaan pada 8 Oktober 1991 itu lolos ke final Piala Dunia. Ajang sepak bola terbesar di dunia. Ajang yang paling menyedot perhatian warga bumi. 

Bahkan Kroasia merupakan wakil Eropa Timur pertama yang bisa sampai ke partai puncak Piala Dunia dalam hampir enam dekade terakhir. Atau sejak Cekoslovakia melakukannya pada edisi 1962. Yang berakhir dengan kekalahan 1-3 di hadapan Brasil. 

Selain itu, inilah kesempatan terbaik membalas kekalahan dari Prancis di semifinal ajang yang sama dua dekade silam. Les Bleus—julukan timnas Prancis—ketika itu bablas menjadi juara. Gelar Piala Dunia pertama sekaligus satu-satunya Negeri Anggur itu.

“Kalian harus merasakan bagaimana membuncahnya kesenangan warga Kroasia dalam satu bulan terakhir. Kesenangan, kebersamaan, dan kebanggaan bercampur menjadi satu,” kata Rakitic yang bermain di Barcelona itu.

Rakitic memang sedang membangkitkan nasionalisme suporter Kroasia melalui sepak bola. Seperti ditulis Franklin Foer di How Soccer Explains The World, sepak bola di Balkan memang tidak bisa lepas dari faktor politik, sosial, budaya, atau isme-isme lainnya. 

Pemain 30 tahun itu menambahkan, Kroasia jauh lebih ambisius ketimbang Prancis untuk menjadi juara kali ini. Gelar pertama yang bakal jadi kebanggaan luar biasa bagi negeri kecil di tepian Laut Mediterania itu.

“Saya tak berkata kalau spirit menang kami lebih superior dari Prancis maupun Rusia. Kami memiliki ikatan yang unik, ketika kami mengenakan jersey Kroasia, maka kami akan melakukan apapun agar nama bangsa ini harum,” ucap Rakitic. 

 Kroasia menempuh perjalanan yang jauh lebih “berkeringat” dari Prancis di fase knock out. Mulai 16 besar, perempat final, sampai semifinal, Vatreni harus bermain sampai 120 menit untuk menentukan kelolosannya. 

Baik Kroasia maupun Prancis diprediksi akan memakai formasi 4-2-3-1 sebagai senjata andalan. Kekuatan keduanya sangat berimbang di semua lini. Mulai kiper sampai penyerang. 

Prancis dan kiper Hugo Lloris kebobolan satu gol lebih sedikit. Hanya jebol empat kali dalam lima pertandingan. Sedangkan di sektor belakang, dua pemain yang menjadi finalis Liga Champions 2017-2018 akan kembali berseteru. Raphael Varane, bek Prancis dan Real Madrid, akan beradu tangguh dengan Dejan Lovren, bek Kroasia dan Liverpool. 

Pertarungan sengit tak terhindarkan di lini tengah. Ivan Rakitic dan Luka Modric sudah pasti menjadi motor serangan buat Krosia. Keduanya sama-sama dinamis, pintar mengatur tempo, dan presisi dalam melepas umpan. 

Tapi, poros ganda N'Golo Kante dan Paul Pogba juga kian solid, terutama sejak memasuki fase gugur. Mereka jago menghentikan serangan lawan. Sekaligus juga piawai mengawali serangan ke pertahanan lawan. 

“Tanpa ragu saya akan menyebut (N'Golo) Kante sebagai pemain terbaik Prancis di turnamen Piala Dunia ini. Perannya menyetop bola kemudian menyodorkan kepada pemain lain tak tergantikan,” tutur pundit BBC Alan Shearer. 

Sedangkan di unit penyerangan, Prancis mengandalkan trio Kylian Mbappe-Antoine Griezmann-Blaise Matuidi sebagai bayang-bayang penyerang Olivier Giroud. Kelenturan, kecepatan trio Mbappe-Griezmann-Matuidi sejauh ini sudah menghasilkan enam gol buat Prancis. 

Sedangkan di kubu Kroasia, dua winger mereka, Ante Rebic di kanan dan Ivan Perisic di kiri, menghadirkan kedinamisan. Perisic yang menjadi man of the match di semifinal ketika lawan Inggris merupakan winger yang cepat, tak gampang jatuh, dan bernaluri gol tinggi. Pemain Inter Milan yang diincar Manchester United itu telah mengoleksi tiga gol. 

Bursa Asian Handicap memang mengunggulkan Prancis dengan voor 0:1/2. Tapi, Euro 2016 bisa jadi tempat berkaca Prancis. 

Berstatus tuan rumah, berhasil mengandaskan juara dunia Jerman di semifinal, tapi di final malah menyerah 0-1 dari Portugal yang lolos ke fase gugur tanpa sekalipun mencatat kemenangan di fase grup. 

“Kami berpikir sudah menang sebelum kami ada di final (di Euro 2016). Kami mengalahkan Jerman di semifinal yang membuat kami berpikir kami sudah juara, padahal itu sama sekali tak benar,” kata Pogba, seperti dikutip The Guardian. 

Sudahkah Prancis belajar dari kesalahan itu? Atau malah mengulangi kesalahan yang sama di final malam ini. (dra/ttg)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait