Film Pendek Garapan Pemuda Sambas Menangi Kompetisi Video Nasional

Film Pendek Garapan Pemuda Sambas Menangi Kompetisi Video Nasional

  Senin, 20 May 2019 09:24
PEMAIN LOKAL: Sutradara film ‘Jamban’, Achmad Subhi, bersama para pemain di tengah proses produksi. Dokumen Achmad Subhi

Berita Terkait

Sempat Dikomplain Istri, Lahir dari Kegundahan Perpolitikan  

Film "Jamban" dinobatkan sebagai pemenang Kumparan X Youtube Video Competition.  Film pendek berdurasi 4 menit 58 detik tersebut karya anak-anak muda Sambas. Film yang disutradarai Achmad Subhi ini mampu mengalahkan 600 peserta lain.

FAHROZI , Sambas

“Alhamdulillah, kemenangan ini untuk masyarakat Sambas,” kata Achmad Subhi membuka perbincangan dengan Pontianak Post, kemarin. Achmad Subhi adalah produser dan sutradara Film Jamban yang menjuarai Kumparan X Youtube Video Competition.

Menurut Subhi, film Jamban, semuanya khas Sambas. Mulai dari para pemain, bahasa, hingga setting lokasi. 

Dalam kesehariannya, suami dari Maya Januarti ini merupakan aparatur sipil negara (ASN) di Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sambas ini memiliki hobi membuat film-film daerah. Dua dunia berbeda yang harus dilalui: sebagai seorang ASN dan menjadi Sineas yang selalu siap memproduksi film. Harus siap tidak tidur dari pagi ke pagi di saat hari libur. 

Hobinya membuat filam sempat mendapatkan pertentangan dari sang istri. Namun lambat laun, karena sejumlah prestasi, istrinya pun memberikan dukungan. “Istri awalnya kurang senang dengan hobi saya, terutama kalau lagi sedang produksi film dan video klip. Karena waktu untuk keluarga akan tersita. Tapi dua tahun terakhir karena sering juara tingkat lokal dan nasional alhamdulilah istri mulai mengerti dan  bahkan memberikan dukungan,” katanya.

Lantas, bagaimana Subhi bisa membuat film bertajuk Jamban? Awalnya, Subhi membaca di sebuah Instastory temannya tentang Event Kumparan X YouTube Video Competition dengan tema #JernihMemilih. Lantaran, saat itu memang menjelang pelaksanaan pesta demokrasi, yakni Pemilu Serentak 2019 yang pencoblosannya dilangsungkan pada 17 April 2019. 

Setelah mendapatkan informasi tersebut, warga Desa Dalam Kaum ini memutuskan berpartisipasi. Dari situlah, proses, ide dan rencana memproduksi Film yang ke sepuluh dimulai.

Ide film Jamban lahir dari kegundahan dan rasa prihatin pada kondisi politik dan sosial bangsa. Sebagai pemilih yang sudah melewati fase demi fase Pemilu, Pilkada, Pileg tahun demi tahun Subhi menilai tidak adanya perbaikan sistem perpolitikan. Selalu dipenuhi praktik money politic, suara rakyat diperjualbelikan seperti ikan di pasar. Lebih parahnya akan ada kerusakan sosial setelah Pemilu itu berlangsung. Banyak caleg yang meminta pemberiannya kembali yang berisiko pada ketimpangan hubungan sosial kemasyarakatan. Fenomena itu terekam dari tahun ke tahun sebagai pil pahit yang selalu ditelan tanpa tahu kapan berhentinya. 

Lewat Film Jamban dengan setting di Desa Sumber Harapan, Subhi ingin menyampaikan tentang sistem politik bangsa ini yang harus segera diperbaiki, dengan mengambil beberapa kejadian nyata di daerah tentang caleg yang gagal. 

Film jamban bercerita tentang Karakter Pak Mustahil yang mengambil kembali pemberiannya ketika gagal menempati kursi Legislatif. Lewat sudut pandang penceritaan tokoh Utama, Ammin dan Indra, Subhi ingin menggambarkan dimensi yang berbeda dari sikap masyarakat ketika terjerat praktik money politic dan politik transaksional. “Karya ini, dibuat dengan keterbatasan dana dan peralatan,” kata Subhi. 

Biaya pembuatan film ini menggunakan dana pribadi eksekutif produser. Subhi juga harus meminjam peralatan pembuatan  filam. “Alat sebagian punya Kress Studio Selakau. Tapi karena satu Komunitas yakni Kofisas (Komunitas Film Sambas), jadi boleh minjam, tanpa sewa. Ini

sangat membantu,” katanya. 

Proses pembuatan film ini melibatkan kurang lebih 14 orang. Di antaranya Ammin Oger, Indra Syahnilam, Irwansyah, Ahmad Nur, Majinur Darlisanto, Reza Pahlevi, Reza, Eldi, Sheeva, Wanda serta beberapa warga Desa Sumber Harapan. 

“Alhamdulillah, saat shooting berlangsung, warga juga antusias, ramai berdatangan

menyaksikan shooting pada sore hari,” katanya. 

Saat penggarapan film ini Subhi sempat mengalami kendala karena alat recorder rusak sebelum shooting.  Meski begitu, dia bisa menyelesaikan pembuatan film Jamban. 

Selesai diproduksi, Subhi segera mengirimkan film ini ke panitia. “Awalnya masuk nominasi 10 besar. Lalu dipilih tiga pemenang yaitu juara 1 dan 2 dan Juara Favorit. Alhamdulillah film Jamban meraih juara pertama,”  ujarnya. 

Sebagai pemenang, Subhi mendapatkan hadiah mengunjungi kantor Youtube di Amerika Serikat dan uang tunai sebesar Rp40 juta. 

Usai meraih prestasi ini, masih banyak mimpi Subhi dan komunitasnya. “Insyaallah kami sedang menyiapkan strategi agar film lokal tembus industri nasional, tayang di bioskop dan sukses,” katanya. (*)

Berita Terkait