Festival Balon, Jalan Tengah untuk Melestarikan Tradisi dan Menjaga Keamanan Penerbangan

Festival Balon, Jalan Tengah untuk Melestarikan Tradisi dan Menjaga Keamanan Penerbangan

  Jumat, 14 June 2019 10:14
WARNA-WARNI: Puluhan balon udara beraneka bentuk dan warna tercatat mengikuti Festival Balon Udara 2019 di lapangan Nongkodono, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Rabu (12/6). BAGAS BIMANTARA/RADAR PONOROGO

Berita Terkait

Asal Aman, Bisa Jadi Destinasi Wisata Baru 

Festival di Ponorogo dan Pekalongan berlangsung tanpa melanggar aturan tentang balon udara. Jadi ajang adu kreativitas dan mempererat keguyuban. 

NUR WACHID, Ponorogo

RIBUAN warga bersorak tatkala balon udara berbentuk Doraemon raksasa mengangkasa. Disusul dengan replika reog yang perlahan mulai melayang. 

Tak lama kemudian, teriakan warga kembali menggema di lapangan Nongkodono, Kauman, Ponorogo, Jawa Timur, tempat diselenggarakannya Festival Balon Udara 2019 kemarin (12/6). Ketika dua balon tersebut kehabisan napas terbang. Beberapa pemuda yang menerbangkannya pun bergegas lari, mengambil balon tersebut untuk diisi lagi dengan asap.

Sedikitnya 49 balon udara dengan berbagai bentuk karakter dan warna memenuhi lapangan. Satu balon diawaki tujuh pemuda dengan tugas masing-masing. Lima pemuda bertugas memegang erat balon saat diisi asap dari pembakaran daun kelapa kering. Dua lainnya berperan memegang tambatan tali yang ditentukan sepanjang 150 meter. 

”Festival ini merupakan cara melestarikan tradisi tanpa menimbulkan efek berbahaya,” kata Danlanud Iswahjudi Marsma TNI Widiago Ikoputro yang hadir dalam Festival Balon Udara di Ponorogo kemarin kepada Jawa Pos Radar Ponorogo.

Di Jakarta, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana B. Pramesti menjelaskan bahwa balon udara yang diterbangkan secara bebas melanggar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Juga melanggar Peraturan Menteri Nomor 40 Tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara pada Kegiatan Budaya Masyarakat. ”Kami tidak menghalangi budaya, tapi menyelaraskan agar menjaga keselamatan,” tutur dia. 

Bagi mereka yang melanggar, sanksi tidak main-main. Setidaknya kurungan maksimal 2 tahun dengan denda Rp 500 juta. Ditjen Perhubungan Udara juga menggandeng kepolisian untuk melakukan penindakan. PPNS Ditjen Perhubungan Udara pun diturunkan. 

Melepasliarkan balon udara yang jadi tradisi di sejumlah tempat, terutama saat Lebaran, memang sempat menjadi sorotan luas karena bisa membahayakan penerbangan. Ahmad Nurdin Aulia, direktur teknik AirNav Indonesia, mengatakan bahwa tahun ini sedikitnya ada 28 pilot report yang menyaksikan balon udara di jalur penerbangan. Laporan tersebut diterima sejak hari pertama Lebaran. 

Dia menambahkan, laporan tersebut diterima dari jalur penerbangan yang melintas di Jogjakarta, Semarang, dan Solo. Karena itu, jalur tersebut selalu dihindari saat Lebaran. Mengakibatkan penerbangan dialihkan melalui jalur udara Laut Jawa. Sehingga biaya yang dikeluarkan maskapai untuk bahan bakar pesawat lebih besar. ”Banyak sekali kerugian yang dirasakan maskapai penerbangan,” papar Ahmad.  

Karena itu, festival seperti yang dihelat di Ponorogo atau Pekalongan, Jawa Tengah, kemarin merupakan jalan tengah. Semacam kompromi. Melestarikan tradisi tanpa menimbulkan efek berbahaya. Sebab, balon udara diterbangkan tanpa melanggar aturan yang ada. Di antaranya, seperti diatur dalam Permenhub 40/2018, balon harus ditambatkan minimal dengan tiga tali dan tidak boleh dilengkapi peralatan berupa bahan yang mengandung api, mudah meledak, dan atau membahayakan lingkungan. 

”Harapannya, warga juga menjadi bagian penting untuk mengawasi kegiatan menerbangkan balon udara liar tanpa awak,” kata Widiago. 

Widiago menambahkan, sejauh ini di wilayah penerbangan Lanud Iswahjudi belum ada laporan khusus tentang gangguan balon udara. Kendati demikian, dia mengatakan bahwa balon udara yang berukuran raksasa memang dapat menjelajah angkasa hingga ketinggian lebih dari 10 ribu kaki. Itu berarti sampai ketinggian jelajah pesawat. 

Balon udara dengan sumbu api yang menyala dapat tersedot mesin pesawat dan mengancam keselamatan. Karena itu, festival tersebut diselenggarakan untuk mengakomodasi tradisi balon udara yang menjadi karifan lokal.

Di Pekalongan, festival balon udara yang berlangsung di Stadion Hoegeng merupakan hasil rembukan antara Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. 

Prinsipnya sama dengan di Ponorogo: asal tak sampai melanggar peraturan yang ada. ”Ini destinasi wisata baru di Kota Pekalongan. Karena semua balonnya menarik, kreasinya bagus-bagus dengan ciri khas Pekalongan,” kata Ganjar yang hadir di Pekalongan kemarin. 

Diikuti 105 peserta, festival tersebut merupakan bagian dari tradisi Syawalan. Seperti dilansir Radar Pekalongan, balon udara yang diterbangkan dibuat dengan berbagai model. Di antaranya, model bus. 

Selain itu, festival tersebut menggambarkan keguyuban warga. Bukan hanya dalam proses pembuatan, tapi juga ketika hadir untuk menerbangkan balon. Semua peserta mengenakan kostum yang beragam. Dengan dukungan penuh suporter masing-masing. 

Dirut AirNav Indonesia Novie Riyanto Rahardjo mengatakan, kompromi yang dilakukan sehingga festival di Pekalongan bisa dihelat adalah tetap menerbangkan balon, tapi tali ditambatkan di tanah. 

Hal itu sesuai dengan Permenhub Nomor 40 Tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara pada Kegiatan Budaya Masyarakat. ”Tradisi tetap berjalan, namun penerbangan tetap aman,” katanya. 

Tahun ini merupakan edisi kedua. Di edisi pertama, gaung balon tambat memang belum moncer dan menarik minat masyarakat. Mungkin karena warga setempat masih terbiasa melepasliarkan balon.

Karena itu, AirNav memutuskan untuk memberikan stimulan. Jajaran pemerintah dilibatkan, hadiah disiapkan, dan masyarakat dikumpulkan. Ternyata, dengan begitu, minat masyarakat naik, bahkan lebih dari dua kali lipat. 

Tahun lalu festival hanya diikuti 38 peserta, tahun ini meningkat menjadi 105 peserta. ”Festival ini menyediakan hadiah Rp 70 juta, paket umrah, tiket pesawat, dan beragam door prize,” ujarnya.

Namun, di Ponorogo, kemeriahan festival tetap dirasa kurang oleh Barno. Kepala Desa Bringinan, Jambon, Ponorogo, itu merupakan penggemar sekaligus pembuat balon udara sejak kecil. 

Dia menghargai penyelenggaraan festival, tapi merasa ada kebebasan yang terenggut. ”Kenapa tidak diatur ukuran balon maksimal. Misalnya, 7 meter, boleh menggunakan sumbu api tapi harus ditambatkan dengan ketinggian tertentu,” katanya.

Sebelum Lebaran, seperti dikatakan oleh Kapolres Ponorogo AKBP Radiant, para kepala desa se-Ponorogo memang dikumpulkan untuk sosialisasi dan edukasi soal balon udara. Hasilnya, menurut Radiant, jumlah balon udara liar menurun drastis. Setidaknya dilihat dari jumlah yang dirazia polisi. Tahun lalu polisi merazia 150 balon, tahun ini hanya 59 balon. 

Jalan lain untuk terus melestarikan tradisi balon udara tanpa membahayakan penerbangan ditawarkan oleh Asri Santoso, direktur Navigasi Penerbangan Kemenhub. Pihaknya bakal bekerja sama dengan Kemendagri, Polri, TNI-AU, dan Kemendikbud untuk memasukkan materi tentang bahaya balon udara di kurikulum pendidikan. Mulai jenjang sekolah dasar hingga SMA. 

”Asalkan dipenuhi aturannya, balon udara selain tradisi juga berpotensi sebagai wisata. Terpenting, jangan membahayakan,” katanya. (lhr/alf/thd/ida/c11/ttg)

Berita Terkait