Fenomena Sugar Daddy & Sugar Baby

Fenomena Sugar Daddy & Sugar Baby

  Rabu, 12 September 2018 10:00

Berita Terkait

Fenomena sugar daddy ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia sejak pertengahan tahun 2018. Begitu pula sugar baby, juga marak dibicarakan. Hadirnya media sosial makin mempermudah akses keduanya. Lantas, bagaimana seharusnya remaja dan orang tua menghadapi fenomena ini?

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Apa sebenarnya sugar daddy? Sugar daddy adalah istilah slang untuk menyebut pria yang menawarkan dukungan finansial maupun materiil kepada seseorang yang lebih muda. Sementara menurut kamus Merris-Webster, sugar daddy merupakan sebutan untuk pria dewasa kaya yang menghabiskan uangnya demi membelanjakan kekasih maupun simpanannya berbagai barang. Kekasih atau simpanan tersebut biasanya berusia jauh lebih muda. Sedangkan sugar baby adalah wanita yang berusia muda mencari pasangan yang jauh lebih tua diatasnya. Biasanya para sugar baby lebih tertarik menjalin hubungan dengan hanya untuk mendapatkan materi dan kesenangan.

Banyak alasan yang perempuan berusia di bawah 20 tahun menjadi sugar baby. Salah satunya, sebut saja Bibie, perempuan berusia 19 tahun. Bermodalkan gadget dan media sosial, Bibie mulai mempromosikan dirinya di dunia maya. Jika dihitung, sudah belasan pria yang ia kencani. Bibie menuturkan sugar relationship ibarat simbiosis mutualisme.

Bibie mendapatkan apa yang diinginkannya, begitu pula dengan sugar daddy yang dikencaninya. Menurut Bibie, ada sensasi tersendiri ketika mengencani pria lebih tua dari dirinya. Selain itu, pria lebih tua dianggap sudah matang dan mapan. Hal inilah yang membuatnya sudah tak tertarik lagi pada pria seusianya. 

Psikolog D. Islamiyah, M.Psi mengatakan faktor ekonomi jadi alasan terbanyak para remaja menjadi sugar baby. Sugar baby akan mencari sugar daddy untuk memenuhi dan mencukupi seluruh kebutuhannya. Misalnya, membayar biaya kuliah, makan sehari-hari, sampai ke gaya hidup yang mungkin tak bisa didapatkan dari orang tuanya. 

Menurut D. Islamiyah, beberapa penelitian menyebutkan remaja akan merasa ketagihan menjadi sugar baby bukan hanya karena terpenuhnya kebutuhan dan materi, tetapi karena para sugar daddy juga bisa jadi teman berbagi (sharing) yang baik dan lain sebagainya. Jika dinilai dari kewajaran, perilaku sugar baby bukanlah hal yang dibenarkan. Bahkan, tergolong dalam perilaku tak wajar. 

Terlebih Indonesia terkenal akan adat ketimuran yang sangat kental. Sehingga, remaja yang menjadi sugar baby sama saja artinya dengan menjadi ‘simpanan’. Psikolog Psyche Indonesia ini menuturkan selain dapat merugikan diri sendiri, juga dapat merusak keluarga sugar daddy. Dilihat dari segi psikologis, bisa juga berkaitan dengan masalah pada kepribadian remaja tersebut. 

“Seperti kurangnya perhatian dalam keluarga dan lainnya. Apabila ini terjadi secara terus-menerus, bisa jadi remaja mengalami gangguan perilaku, salah satunya gangguan kepribadian anti sosial dan sebagainya,” ujarnya. 

Psikolog Yayasan Pontren AlQomar Mempawah ini mengungkapkan sugar baby berbeda dengan prostitusi. Menjadi sugar baby ini terikat dalam waktu yang lebih lama, biasanya berlangsung bertahun-tahun atau bisa katakan sugar baby layaknya ‘simpanan’. Sedangkan, prostitusi biasanya berlangsung pada waktu yang singkat. Misalnya, hanya satu malam atau sebagainya. 

Menjadi sugar baby dapat berakibat pada rusaknya rumah tangga pihak sugar daddy dan pasangan sahnya. D Islamiyah menyatakan perlu dilakukan pencegahan dalam keluarga. Orang tua bisa memberikan dan menanamkan pendidikan moral yang baik, serta pondasi agama yang baik pada anak sejak dini. Ketika anak beranjak dewasa ia akan mengetahui mana perilaku yang baik dan tidak baik.

Selain itu, perlu adanya keterbukaan dalam keluarga. Hal ini bertujuan agar buah hati yang telah beranjak remaja bisa lebih leluasa mengungkapkan perasaan pada orang tuanya. Orang tua dapat menjadi tempat berbagi (sharing) yang baik bagi buah hatinya. Dan, jangan lupa untuk memberi pemenuhan kebutuhan ekonomi pada anak. 

“Dengan begitu anak tak akan mencari pemenuhan ekonomi selain dari keluarga,” tutupnya.**

Berita Terkait