Fenomena Gaya Bahasa Anak Jaksel

Fenomena Gaya Bahasa Anak Jaksel

  Rabu, 26 September 2018 10:00

Berita Terkait

Question:

“Lo beli itu berapa, sih?”

Answer:

Anak Jaktim: “Lima rebu.”

Anak Jakbar: “Goceng.” 

Anak Jaksel: “Around fifty thousand gitu, deh.”

BEBERAPA bulan terakhir ini, linimasa media sosial sedang rame mempergunjingkan penggunaan bahasa Jaksel. Istilah Bahasa Jaksel yang dimaksud adalah bahasa pergaulan yang sering digunakan oleh generasi Z dan generasi Y di kawasan Jakarta Selatan. Penggunaan bahasa Jaksel ini merupakan pencampuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Namun, kata-kata bahasa Inggris yang dipake biasanya masih berjenis kata sambung, seperti literally, which is, even, basically, etc. Penggunaan bahasa anak Jaksel ini juga sudah dipraktikkan di beberapa daerah di luar Jakarta, termasuk Pontianak.

Sekilas perpaduan dua bahasa ini memang tampak keren. Yang jadi masalah adalah, bisa memengaruhi penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri nggak, sih?

Penyuluh Bahasa Indonesia Balai Bahasa Kalbar, Dedy Ari Asfar mengatakan fenomena mencampurkan dua bahasa dalam percakapan sehari-hari sudah lama muncul, bahkan sebelum fenomena bahasa anak Jaksel viral. Namun, campuran dua bahasa ini nggak terlalu viral dan memasyarakat. Hanya ada beberapa pesohor saja yang terbiasa menggunakan bahasa campur ini, seperti halnya Vicky Prasetyo dan Cinta Laura.

Bahasa anak Jaksel justru viral dan melekat pada generasi muda. Dedy cukup mengkhawatirkan hal tersebut. Persoalan utama dalam fenomena ini adalah bahasa Indonesia yang digunakan bercampur dengan bahasa asing yang belum baku dan belum diserap menjadi bahasa Indonesia yang benar. Seyogianya, generasi muda harus menghargai dan menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

“Jangan merusak bahasa negara ini dengan sok keinggris-inggrisan agar disebut keren dan beken. Sebagai generasi muda seharusnya memartabatkan bahasa Indonesia di rumahnya sendiri,” ujarnya.

Dedy menuturkan bahasa anak Jaksel ini nggak akan memengaruhi dan mengancam bahasa Indonesia jika nggak mendapat sambutan yang luar biasa dari pengguna bahasa. Pengaruh yang diberikan nggak akan meluas. Lain halnya, jika bahasa anak Jaksel ini sampai memasyarakat dan banyak diikuti oleh generasi muda sehingga jadi tren. Hal ini akan jadi peringatan untuk mewaspadainya.

Bahasa Indonesia yang sudah mapan menjadi bahasa nasional akan terdegradasi dengan adanya bahasa campur. Hal ini bukan pepesan kosong. Generasi muda bisa melihat contohnya di Malaysia. Masyarakat Malaysia pun mengenal istilah “bahasa Rojak”, yaitu bahasa campur seperti anak-anak muda di Jaksel. Perilaku masyarakat Malaysia yang sudah menganggap biasa bahasa Rojak atau campur pada akhirnya menciptakan kurangnya rasa bangga dan positif terhadap bahasa nasionalnya sendiri.

Nggak heran jika di Malaysia terbiasa melihat adanya pejabat publik dan masyarakat menggunakan bahasa campur ini. Dedy mengharapkan hal ini nggak terjadi di Indonesia. Menurut Dedy generasi muda perlu memahami dulu bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan situasi komunikasi, baik situasi resmi dan nggak resmi, maupun situasi siapa yang diajak berkomunikasi. Jika dalam ragam tulisan resmi, biasakan untuk menggunakan bahasa bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah bahasa.

“Pelajari pengetahuan tentang ejaan bahasa Indonesia dan tata bahasa baku untuk membantu menuntun bahasa tulis menjadi lebih benar. Rajin-rajinlah membaca kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) untuk mengetahui seluk-beluk kata yang baku di Indonesia,” pesannya. (ghe)

Berita Terkait