FemaleGeek PHP Indonesia, Tempat Perempuan Pegiat IT Berbagi Informasi

FemaleGeek PHP Indonesia, Tempat Perempuan Pegiat IT Berbagi Informasi

  Kamis, 9 May 2019 09:15
FOTO BERSAMA: Anggota FemaleGeek PHP Indonesia berfoto usai pertemuan komunitas beberapa tahun lalu. Dokumentasi FemaleGeek PHP Indonesia

Berita Terkait

Di Sini, Yang Kurang Percaya Diri Jadi Tak Merasa Sendiri 

FemaleGeek diinisiasi atas kesadaran masih minimnya kiprah perempuan di dunia informasi dan teknologi. Anggota termudanya masih duduk di bangku SMP dan sudah membikin aplikasi. 

VIRDITA RIZKI RATRIANI, Jakarta 

SEPERTI pohon, bibit kebaikan yang disemai Anne Regina Nancy Toar itu terus bercabang. Menjalar ke mana-mana. Menyebarkan kebaikan yang sama.

”Bahkan, ada yang sudah bisa bikin aplikasi untuk pendataan peminjaman buku di perpustakaan,” tutur Anne dengan berbinar. 

Pohon yang dia semai itu bernama Blind Coding. Hasil kerja sama PHP Indonesia dengan perusahaan teknologi informasi dan Yayasan Mitra Netra. 

Dia mengajari sejumlah tunanetra menggunakan aplikasi NVDA yang mampu membacakan apa pun yang mereka ketik di keyboard komputer. Untuk mengetikkan flowchart menggunakan huruf braille. 

Pesertanya 6 orang, 4 di antaranya tunanetra. Tiap akhir pekan mereka digembleng. Dari sana, para peserta itu kemudian mendistribusikan ulang ilmu yang didapat kepada rekan-rekan sesama tunanetra. ”Begitu terus, kian menyebar luas,” kata perempuan 27 tahun itu.  

Anne adalah inisiator FemaleGeek PHP Indonesia. Ajang berkumpul para perempuan pegiat information technology (IT). FemaleGeek merupakan subkomunitas dari PHP Indonesia atau komunitas pencinta dan pengguna PHP. 

PHP alias hypertext preprocessor adalah bahasa pemrograman untuk pembuatan dan pengembangan situs website. Berdiri pada 2 Februari 2016, dari awalnya hanya 10 orang, kini komunitas tersebut telah memiliki 800-an anggota. Tersebar di 11 kota.  

Anne tergerak mendirikan FemaleGeek menyusul masih minimnya perempuan yang berkiprah di dunia IT. Dunia IT selama ini memang identik dengan laki-laki. Sebuah riset dari Microsoft Asia pada awal 2017 menemukan, hanya satu di antara lima perempuan dunia yang bekerja di bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics).

Di tempat Anne bekerja, salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia, misalnya, jumlah karyawan perempuannya masih minim. Hanya 30 persen. 

Padahal, kemampuan perempuan di bidang teknologi tidak bisa dipandang sebelah mata. Peluangnya pun terbuka lebar lantaran hampir semua aspek kehidupan manusia saat ini memanfaatkan IT. 

Selain untuk berbagi informasi tentang perkembangan bidang yang terus berubah itu, FemaleGeek jadi sarana untuk saling mendukung dan berbagi tip. ”Lebih banyak untuk mentoring dulu. Sehingga bagi yang merasa kurang percaya diri, dia merasa tidak sendiri,” imbuh perempuan kelahiran Manado, Sulawesi Utara, itu.

Anggota termuda kelompok tersebut masih duduk di bangku SMP (sekolah menengah pertama), tapi telah berhasil menciptakan aplikasi sendiri. Para anggota aktif berkomunikasi dan bertukar informasi melalui aplikasi chatting Telegram. 

Dengan berorganisasi, para perempuan pegiat IT itu juga jadi bisa lebih leluasa berkegiatan. Blind Coding yang berlangsung sejak 2016 sampai sekarang itu salah satunya. 

Acara lain, misalnya, yang dihelat dalam rangka Hari Kartini lalu. Di antaranya, Unicorn Women of DevC: Sharing and Workshops with Female Engineers from Unicorn Startups. Hadir dalam ajang itu enam Srikandi IT: Atimas Nurahmad (product manager Go-Jek), Gabriella Kawilarang (product owner Tokopedia), Tiffany Adriana (business intelligence architect Bukalapak), Anita Yustisia (co-founder & CCO Assemblr), Nurlaili Fajriyah (program manager Traveloka), dan Anne Regina (engineer manager Bukalapak). 

Mereka lulusan universitas terbaik dan memiliki keahlian di bidang IT. Serta berkarir di perusahaan teknologi terbesar di Indonesia. Nah, di ajang tersebut mereka mendorong kalangan perempuan untuk tak ragu terjun di bidang IT. 

”Justru paling menguntungkan untuk working mom (ibu bekerja), bisa working remotely (kerja jarak jauh), working from home (kerja dari rumah). Bisa kerja di rumah asalkan sesuai target,” urai Product Manager Go-Jek Atimas Nurahmad.

Atimas mencontohkan pengalamannya sebagai seorang ibu dari anak yang masih balita. Bekerja di perusahaan rintisan memberikan keleluasaan baginya untuk mengasuh anak sambil bekerja.

”Tidak ada kebutuhan di kantor, ya tidak usah ke kantor. Tetap bisa lanjut kerja di rumah dengan environment yang sangat mendukung,” terangnya. 

FemaleGeek bermula ketika Anne dan para anggota FemaleGeek bertemu di komunitas PHP Indonesia sejak masih bekerja di Manado. Setelah pindah ke Jakarta, dia bertemu langsung dengan beberapa orang. Mereka bersepakat membuat e-magazine yang menjadi cikal bakal komunitas FemaleGeek. 

Anggotanya pun bukan hanya developer aplikasi maupun programer. Tetapi juga analis, project manager, dan siapa pun yang berminat di dunia IT. Meski, mayoritas anggota mereka adalah programer.

Anne mengaku tidak sulit menggaet anggota agar bergabung ke FemaleGeek. Tiap kali menjadi pembicara sebuah acara di suatu kota, dia sekaligus menawari mereka yang hadir dan berminat untuk bergabung di komunitas tersebut. 

”Lewat komunitas itu, jaringan bisa diperluas. Ingat, programer pertama di dunia pun cewek, Ada Lovelace,” terangnya.

Kedekatan yang dibangun Anne dan para pendiri serta anggota lain tentu tak semata berdasar kebutuhan kerja. Tapi, juga personal. Dia dan sejumlah kawan di FemaleGeek kerap bepergian bareng setelah menghadiri sebuah acara bersama.

Dewi Rohmani, salah seorang pendiri FemaleGeek, merasakan betul manfaat berjejaring lewat komunitas tersebut. ”Di sini bisa cepat dapat update perkembangan teknologi,” ujarnya. 

Setiap minggu mereka berbagi ilmu IT melalui aplikasi chat Telegram atau disebut kulgram alias kuliah Telegram. ”Di sana banyak senior yang sudah berpengalaman lama di dunia IT. Ada sharing season, mentoring, coaching,” ungkapnya. 

Itu belum kesempatan untuk berbuat bagi sesama. Seperti yang dilakukan lewat Blind Coding. Dari enam trainer yang bergantian mendidik beberapa orang, ilmu yang dibagikan tersebut kini menyebar ke banyak orang. Bercabang-cabang seperti pohon. 

”Asyik banget. Menyenangkan sekali,” kata Anne. (*/c10/ttg)

Berita Terkait