Eselon Dua Termuda yang Dijuluki Ahli Staf

Eselon Dua Termuda yang Dijuluki Ahli Staf

  Jumat, 15 March 2019 10:42
KADIS : Kepala Dinas PMD Kalbar, HM Aminuddin saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (13/3). IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Perjalanan Karir Birokrat Aminuddin

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Kalbar Aminuddin baru dilantik oleh Gubernur Sutarmidji, Senin (11/3). Bagaimana kisah perjalanan karirnya sebagai birokrat dan apa harapannya dengan jabatan yang baru? 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

SAAT dilantik menjadi Kadis PMD Kalbar, sosok Aminuddin sempat menjadi bahan kelakar Gubernur Sutarmidji. Itu karena jabatannya yang sudah lebih dari lima tahun sebagai Staf Ahli Gubernur Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan. 

"Kami harus mengevaluasi pejabat yang telah menjabat lebih dari lima tahun dan diminta seperti itu aturannya sekarang. Sementara Pak Aminuddin sembilan tahun menjabat staf ahli dan benar-benar menjadi ahli," kata Sutarmidji sambil tertawa saat pelantikan, Senin (11/3). 

Saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (13/3), Aminuddin mengakui jabatannya sebagai staf ahli memang yang terlama. Bahkan bukan sembilan tahun, 10 tahun dua bulan, sejak 2009 sampai 2019.

"Itulah staf ahli saya menahun di situ, 10 tahun dua bulan. Makanya disebutnya (Gubernur Sutarmidji) ahli staf katanya, memang betul saya bukan staf ahli tapi ahli staf," katanya seraya tertawa. 

Aminuddin lantas menceritakan perjalanan karirnya sebagai birokrat yang dimulai dari tingkat kecamatan. Lulus dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Pontianak tahun 1984, ia tak langsung ditempatkan sebagai ASN. 

Sambil menunggu SK penempatan keluar, ia sempat magang di Kantor Gubernur Kalbar. Pertama kali ditugaskan di sekretariat MTQ Nasional, karena saat itu Kalbar ditunjuk sebagai tuan rumah, tahun 1985. "Jadi menunggu pengangkatan (sebagai ASN), setalah tamat (APDN) magang di beberapa tempat," katanya. 

Setelah itu beberapa waktu kemudian, SK pengangkatannya keluar dan setelah mengikuti prajabatan di Pontianak, ia langsung ditugaskan ke kecamatan. Yakni sebagai Sekcam di Kecamatan Belitang Hulu, Kabupaten Sanggau. 

Di daerah asalnya tersebut ia bertugas selama kurang lebih dua tahun. Mulai Januari 1986 sampai 1988. Sempat satu kali pindah dari Kecamatan Belitang Hulu ke Belitang Hilir. "Dua tahun lebih di lapangan saya ke Jakarta. Melanjutkan (sekolah) di IP (Ilmu Pemerintahan) Jakarta, dari 1988 sampai 1990," ceritanya. 

Setelah selesai melanjutkan sekolah tersebut, ia langsung ditempatkan di Pemprov Kalbar. Tepatnya di Biro Umum Kepegawaian. "Sejak itu saya tidak kembali ke daerah, karena saya ditahan oleh Gubernur di sini. Di biro umum saya dua tahun," ujarnya. 

Setelah dua tahun, Aminuddin kembali melanjutkan sekolah untuk mengambil gelar S-2. Ia berkuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) selama satu tahun setengah dari 1993 sampai 1995. Usai S-2 pun kembali lagi ke Kalbar, namun sempat tidak ada jabatan. 

"Lama saya menganggur, menunggu penempatan, hampir satu tahun saya menunggu penempatan, tidak ada jabatan," ungkapnya. 

Penempatan  pertamanya setelah S-2 adalah di Biro Organisasi Pemprov Kalbar mulai 1996 sampai 1998. Sebagai Kepala Bagian (Kabag) Tata Laksana di era kepemimpinan Gubernur Aspar Aswin. 

Hanya setahun lebih menjabat di sana, masuk era reformasi dan otonomi daerah, ia kemudian dipindahtugaskan ke Biro Kepegawaian, sebagai Kabag Kepegawaian. "Tahun 2001 biro berubah menjadi badan. Saya keliling dari Kabag umum, pindah ke mutasi, ke bidang pengembangan," ujarnya.  

Di Badan Kepegawaian ia bahkan sempat menjadi Plt kepala badan, sampai akhirnya menjabat defenitif di tahun 2005. "Saya masuk, jadi eselon II termuda saat itu. Kawan-kawan saya senior semua," imbuhnya. 

Aminuddin cukup lama bertahan dijabatan tersebut. Sampai pergantian gubernur di tahun 2008 ia masih menjabat sebagai Kepala BKD. Baru tahun 2009 pada 14 Januari ia pindah tugas sebagai staf ahli gubernur. Jabatan staf ahli adalah yang terlama ia emban, yaitu 10 tahun dua bulan, sampai 11 Maret 2019.  

"Jadi itu pengalaman karir saya keliling, tapi selama saya staf ahli banyak dapat pengalaman. Dua kali menjadi Plt Kadis. Di Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Kelautan dan Perikanan," ucapnya. 

Namun yang paling berkesan menurutnya ketika menjadi Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. Meski hanya enam bulan, tapi itu dianggap paling menyenangkan karena sesuai dengan hobinya. 

"Walaupun hanya enam bulan justru yang paling saya berkesan di Dinas Perikanan. Paling asik, karena perikanan itu saya hobi. Mulai dari budidaya sampai pengolahan saya bisa," ungkap pria 58 tahun itu.

Dijabatannya yang sekarang, ia berjanji tetap akan berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya. ASN yang akan memasuki purnatugas di akhir 2020 itu ingin bekerja dengan baik agar dapat meninggalkan kesan positif saat pensiun nanti. 

"Itulah intinya. Di sini (Dinas PMD) banyak tantangan yang membuat saya terangsang untuk berbuat," katanya. 

Salah satunya adalah dalam rangka mewujudkan program dan visi misi gubernur terkait pembangunan desa mandiri. Ia menilai, ke depan tak dimungkiri memang harus dimulai dari desa, sebagai ujung tombak pembangunan. 

"Semua harus bersama-sama mendorong ini. Membangun desa tidak bisa sendiri, harus gotong royong dengan OPD lain yang berkaitan, sama-sama sehingga bisa cepat diwujudkan. Indikator (desa mandiri) itu dibagi, ada tanggung jawab pusat, kami di provinsi, ada kabupaten dan desa," tutupnya.(*)

Berita Terkait