The Era of Take Away Coffee

The Era of Take Away Coffee

  Jumat, 4 May 2018 11:00

Berita Terkait

AS a social drink, kopi enak dinikmati dengan kolega. Menghargai kebersamaan sembari menyesap kopi yang masih panas punya sensasi tersendiri. Tetapi, kini tren ngopi mengalami pergeseran. Masyarakat modern punya gaya hidup yang serbacepat dan instan. Apalagi, nggak semua orang menyukai cita rasa kopi yang terlalu strong dan pahit. Berawal dari dua hal tersebut, lahirlah solusinya: takeaway iced coffee!

Sebenarnya, konsep itu telah diusung brand besar seperti Starbucks. Namun, belakangan ini, takeaway iced coffee menjadi fenomenal. Brand-brand lokal bermunculan dengan harga lebih terjangkau seperti Kopi Tuku di Jakarta Selatan. Kopi Tuku sempat dikunjungi Presiden Joko Widodo bersama keluarganya pada 2 Juli 2017.

Keberhasilan Kopi Tuku pun menginspirasi lahirnya takeaway iced coffee di kota-kota besar lainnya. Dengan kemasan yang rata-rata berupa gelas plastik bening, visual yang menarik, dan varian yang beragam, iced coffee pun tampak memikat, baik bagi pencinta kopi maupun non pencinta kopi.

Hal yang sama dituturkan Anggi Dita, founder Komunitas Kopi Nusantara. “Segmentasi iced coffee, adalah para remaja dan mereka yang baru mencoba menikmati kopi. Pahit kopinya nggak terlalu strong dan disajikan dalam kondisi dingin, jadi mudah diterima masyarakat umum,” tuturnya.

Anggi pun mengungkapkan bahwa tren kopi tengah mengalami perubahan. Mulai kopi tubruk yang digemari kalangan berusia di atas 30 tahun, latte art yang cantik secara visual, hingga cold brew yang disajikan dalam kondisi dingin.

“Tetapi, kembali lagi. Selera orang dalam meminum kopi berbeda-beda. Baik disajikan dalam kondisi panas atau dingin, semua kembali ke preferensi pribadi,” tegas Anggi. Well, kalau kamu sendiri, lebih suka kopi konvensional atau takeaway iced coffee yang kekinian nih? (nen/c22/fhr)

  1.  

Berita Terkait