Empat Hari Empat Hutan Terbakar

Empat Hari Empat Hutan Terbakar

  Kamis, 14 July 2016 09:45
MEMBARA: Kebakaran lahan sempat mengejutkan warga di Sembuai Darat, Desa Parit Raja Kecamatan Sejangkung. OZY/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SAMBAS - Warga Dusun Sembuai Darat, Desa Parit Raja Kecamatan Sejangkung dikejutkan munculnya kepulan asap dari lahan kebun yang tak jauh dari pemukiman. Berbagai upaya dan dengan alat seadanya dilakukan untuk memadamkan kebakaran lahan yang terjadi pada Rabu (13/7) sekitar pukul 14.00 WIB.

 
Kepulan asap terlihat semakin membesar dan terus membesar. Hal ini dikarenakan kondisi rumput yang kering lantaran hujan sudah lama tak turun di wilayah tersebut. Kepanikan pun makin bertambah, tatkala angin yang berhembus mempercepat meluasnya kebakaran lahan yang terjadi.

Warga yang ada pun, memangkas rumput dan membuat saluran di sekitar lahan yang terbakar. Menyemprotkan air menggunakan semprotan rumput. Dengan tujuan, bisa memutus menjalarnya api yang ada.

“Apinya sempat mengecil, tapi tiba-tiba membesar kalau ada angin. Kita takut juga, karena dekat dengan rumah,” kata Isma, yang rumahnya berjarak sekitar 200 meter dari lahan yang terbakar.

Hal sama juga disampaikan Aci. Dirinya terkejut saat melihat asap membumbung tinggi. Dan ketika dilihatnya, ternyata ada kebakaran lahan. Meski demikian, dirinya dan warga lainnya belum mengetahui penyebabnya.

Selain kebakaran lahan di Sejangkung. Kebakaran hutan dalam minggu ini, sudah terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Sambas. Diantaranya di Kecamatan Selakau tepatnya di Gayung Bersambut, Jawai (Sarang Burung), Galing (Tempapan Hulu) dan Paloh (Mentibar).

“Kita sudah menerima laporan dari Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), telah terjadi kebakaran hutan (bukan lahan) di beberapa wilayah. Dan yang saat ini (Rabu), petugas dari dinas juga sedang turun ke Kecamatan Paloh untuk memadamkan kebakaran hutan yang terjadi,” kata Kasi Gangguan Usaha Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Kabupaten Sambas, H Suratmin, ditemui wartawan, Rabu (13/7).

Kebakaran hutan, sebutnya, terjadi dalam enam hari ini. Pihaknya pun belum bisa memastikan berapa luasan hutan yang terbakar. Pasalnya, petugas dari dinas yang turun ke lapangan belum bisa menghitungnya.

“Kejadiannya termasuk baru, jadi belum bisa dihitung jumlah luasan. Tapi yang pasti, itu terjadi di kawasan hutan,” kata Suratmin.

Dirinya juga mengakui, untuk melakukan pemadaman. Masih sangat kekurangan peralatan. Seperti yang dilakukan petugas saat turun ke Paloh. Dengan mengendarai sepeda motor dinas, dan dengan alat seadanya berusaha memadamkan api.

“Kita memang kekurangan prasarana. Sementara, hutan yang terbakar adalah kawasan gambut. Yang padam diatas tapi api masih menyala di bawah,” katanya. Minimnya sarana yang ada inilah yang terkadang menjadi kendala dalam melakukan upaya pemadaman. “Dan memang daerah-daerah yang hutannya terbakar, sudah menjadi langganan setiap musim panas datang. Dan ini seharusnya menjadi perhatian bersama, dan harus dilakukan upaya pencegahan sebelum terjadinya kebakaran tentu saja itu didukung dengan dana dan sarana,” katanya.

Terlebih, untuk Sambas. Sebanyak 153 desa masuk dalam rawan terjadinya kebakaran lahan maupun hutan. Sampai saat ini, baru ada empat KTPA terbentuk, yakni di Kecamatan Paloh ada tiga dan di Bukit Segoler (Tebas). “Salah satu upaya yang harus dilakukan, adalah menyiapkan sarana di wilayah tersebut, kemudian membuat saluran air atau embung,” katanya.(fah)

Berita Terkait