Empat Gadis Nyaris Jadi Budak di Tiongkok

Empat Gadis Nyaris Jadi Budak di Tiongkok

  Rabu, 26 June 2019 10:18
DITANGKAP: Pelaku, Mario, ketika ditangkap di Terminal Kedatangan 1A Bandara Cengkareng- Soekarno- Hatta. ISTIMEWA

Berita Terkait

Trafficking Bermodus Pengantin Pesanan Kembali Digagalkan 

PONTIANAK – Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Mempawah kembali menggagalkan upaya tindak pidana perdagangan orang (human trafficking) bermodus kawin pesanan. Empat perempuan asal Kalimantan Barat yang akan berangkat ke Tiongkok berhasil dicegah. 

Dua korban dicegah di Pontianak. Sementara dua lainnya dicegah ketika sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.  Para korban itu adalah Ts, warga Siantan, Kecamatan Pontianak Utara dan Ln, warga Jungkat, Kabupaten Mempawah. Keduanya berhasil dicegah berangkat ke Tiongkok setelah tim SBMI Kabupaten Mempawah menemuinya di Pontianak. 

Dua korban lainnya yang berhasil digagalkan berangkat adalah D, warga Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara dan Yv, wanita asal Dusun Dare Nandung, Desa Sempalai Sebedang, Kecamatan Sebawi, Kabupaten Sambas.

Keduanya berhasil diamankan SBMI bersama pihak Polres Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu 22 Juni lalu. Selain keempat korban tersebut, satu pelaku sindikat perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan juga berhasil ditangkap. Ia adalah Mario, warga Pontianak Utara. 

Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) SBMI Kabupaten Mempawah, Mahadir kemudian menjelaskan tentang kronologi pengungkapan kasus perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan ini. Menurutnya, pengungkapan bermula ketika ia mendapat informasi dari seorang sumber bahwa akan ada empat wanita asal Kalbar yang  akan dikirim ke Tiongkok. 

Ia bersama timnya kemudian melakukan pelacakan terhadap kebenaran informasi tersebut. Akhirnya, beberapa hari sebelum Sabtu 22 Juni, identitas dua orang korban, yakni Ts dan Ln berhasil didapat. Keberadaannya pun berhasil diketahui. 

“Setelah dapat identitas dan tempat tinggal mereka di Pontianak, kami langsung menemui korban,” ujar Mahadir, Selasa (25/6). Setelah itu, pihaknya kemudian memberikan penjelasan dan pemahaman kepada kedua korban tentang modus pengantin pesanan. Setelah dua hari diberikan pemahaman, akhirnya kedua korban pun membatalkan niat mereka berangkat ke Tiongkok. 

Usai melakukan pencegahan di Pontianak, lanjut Mahadir, timnya kemudian melakukan pengembangan terhadap korban-korban lainnya. Ia pun kembali mendapatkan informasi bahwa ada dua korban lainnya asal Pontianak dan Kabupaten Sambas, yang telah berangkat ke Jakarta untuk pergi ke Tiongkok. 

Berdasarkan informasi itu, pihaknya langsung bertolak ke Jakarta. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, tim langsung berkoordinasi dengan Polres Bandara. Tim menyampaikan bahwa ada seorang pelaku sindikat perdagangan orang bersama dua korbannya yang sedang berada di bandara untuk berangkat ke Tiongkok. 

Bersama polisi bandara, pencarian lantas dilakukan. Akhirnya seorang pria dan dua korban berhasil diamankan di Terminal Kedatangan 1 A Bandara Soekarno-Hatta. Dari hasil pemeriksaan polisi, dugaan bahwa kedua wanita tersebut adalah korban perdagangan orang pun terbukti. 

“Pelaku atas nama Mario langsung digiring ke Mapolres Bandara. Sementara kedua korban dibawa ke shelter SBMI di Jakarta,” ucapnya. Bagaimana para korban dapat terjerat sindikat perdagangan orang? 

Mahadir mengatakan, berdasarkan pengakuan korban D, semua ini bermula ketika ia mengenal seorang perempuan berinisial Ce pada Maret 2019 lalu. Ce tinggal tak jauh dari rumahnya. Korban melihat kehidupan keluarga Ce yang bersuamikan warga Tiongkok cukup mapan. 

“Melihat Ce ini hidup nyaman, korban tergiur. Ia lalu bertanya kepada Ce mengenai kehidupan di Tiongkok dan apa yang didapatnya,” cerita Mahadir. Setelah mendengar cerita-cerita dari Ce, muncul keinginan korban untuk menikah juga dengan laki-laki Tiongkok. 

“Ce ini jaringan sindikat. Setelah mendengarkan keinginan korban, ia pergi ke Tiongkok. Ia lalu memerintahkan seorang wanita berinisial S untuk menemui korban dan menanyakan apakah mau menikah dengan laki-laki asal Tiongkok. Korban pun mau dan menyatakan setuju,” jelasnya. 

Setelah mendapat persetujuan korban, seorang laki-laki asal Tiongkok berinisial Kl kemudian datang ke Pontianak. Dilakukanlah pertemuan antara pihak laki-laki dengan keluarga korban. Dalam pertemuan, ibu korban awalnya menyatakan tidak setuju lantaran kerap mendapat kabar bahwa pernikahan itu hanya modus. 

“Tapi korban terus meminta persetujuan ibunya hingga akhirnya keinginannya itu pun disetujui,” ungkapnya.  Mahadir mengatakan, setelah mendapat persetujuan, laki-laki Tiongkok itu lalu memberi uang sebesar Rp20 juta sebagai mahar, dan dilangsungkan pertunangan (tukar cincin). 

Setelah beberapa hari di Pontianak, laki-laki tersebut lalu kembali ke negara asalnya. Pada Mei 2019, korban berangkat ke Sintang untuk membuat paspor agar dapat menyusul calon suaminya di Tiongkok. Usai mengurus paspor, korban kembali ke Pontianak guna menunggu petunjuk selanjutnya dari S dan Mario (pelaku yang ditangkap di Bandara Cengkareng-Soekarno-Hatta). 

“Pada 20 Juni, korban mendapat informasi dari S untuk berangkat ke Jakarta guna mengurus visa. Pada 22 Juni korban bertemu dengan S di sebuah rumah. Di rumah itu korban bertemu dengan seorang korban lainnya,” ungkap Mahadir.

Dari Pontianak, mereka lalu dibawa menuju Bandara Supadio dan terbang ke Jakarta.  Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, mereka ditangkap. “Bersama polisi, barang bukti berupa empat buku paspor berhasil disita. Dari keterangan pelaku Mario, ia mendapat perintah dari seseorang untuk mengurus visa kedua korban di kedutaan China,” paparnya. 

Mahadir menyatakan, pihaknya akan terus mengawal kasus tersebut. Namun apakah pelaku telah ditetapkan statusnya sebagai tersangka, pihaknya belum mendapat informasi dari pihak kepolisian. (adg)

Berita Terkait