Elpiji Subsidi Masih Digunakan Pelaku Usaha

Elpiji Subsidi Masih Digunakan Pelaku Usaha

  Kamis, 13 December 2018 09:49
SIDAK: Petugas pemkot Pontianak memeriksa gas yang digunakan pedagang di kawasan Jalan Gajah Mada kemarin. Penggunaan tabung gas tiga kilogram masih kurang tepat sasaran. Masih banyak rumah makan menggunakan tabung gas yang diperuntukan untuk rakyat kecil ini. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak kembali menggelar inspeksi mendadak terhadap sejumlah rumah makan dan restoran yang masih menggunakan elpiji tiga kilogram Rabu (12/12). 

Tim gabungan yang juga diikuti dari pihak PT Pertamina (Persero) Wilayah Kalbar serta Polresta Pontianak itu, menyasar rumah-rumah makan yang ada di Kota Pontianak dan sekitarnya. Seperti di kawasan Jalan Gajah Mada, Diponegoro, dan Patimura. 

"Hasilnya ada sekitar lima sampai enam rumah makan, hampir semuanya masih menggunakan elpiji bersubsidi tiga kilogram," ungkap Executive Elpiji PT Pertamina (Persero) Pontianak, Sandy Rahadian. 

Masih banyaknya pelaku usaha kuliner yang menggunakan elpiji tiga kilogram ini, kata Sandy, menjadi salah satu penyebab kelangkaan gas tabung melon tersebut. Semestinya, sektor usaha di luar usaha mikro, harus menggunakan elpiji nonsubsidi misalnya yang 5,5 kilogram ke atas.

Untuk itu, pihaknya sudah menggagas program tukar tabung (trade-in) dengan cara menukar dua buah tabung elpiji tiga kilogram dengan satu tabung elpiji 5,5 kilogram. Pemilik usaha cukup membayar isi ulangnya dengan harga Rp75 ribu. 

"Untuk program tukar tabung ini, bisa dilakukan di agen-agen resmi Pertamina. Kami imbau pelaku usaha, terutama pelaku usaha di luar usaha mikro segera menukarkan tabung elpiji 3 kilogram dengan yang 5,5 kilogram di agen-agen resmi Pertamina," imbuhnya.

Sidak ini merupakan kesekian kalinya dan rutin dilakukan oleh tim gabungan. Dalam kesempatan ini, hasil temuan penggunaan elpiji tiga kilogram masih dilakukan pembinaan. Artinya, ketika menemukan pelaku usaha yang menggunakan elpiji tiga kilogram, dengan dasar edaran Pemkot maka diminta menukar dengan yang 5,5 kilogram.

"Jadi kami mengajak, merangkul para pelaku usaha tersebut supaya mereka beralih dari elpiji bersubsidi ke nonsubsidi," harapnya. 

Ke depan, menurut Sandy jika masih ditemukan penggunaan elpiji tiga kg oleh pelaku usaha, maka pihak Diskumdag Kota Pontianak akan menerapkan sanksi tegas. 

"Sejauh ini dari hasil pantauan, pelaku usaha yang pernah disidak dan beralih ke elpiji nonsubsidi, tidak lagi menggunakan elpiji bersubsidi atau yang tiga kilogram,” tuturnya.

Diakuinya hal itu bisa menjadi salah satu faktor langkanya elpiji tiga kilogram. Karena hampir semua pelaku usaha yang kedapatan menggunakannya. Untuk mendapatkannya para pelaku usaha ini tidak membeli langsung ke pangkalan atau agen resmi yang bekerja sama dengan Pertamina.

Akan tetapi ada oknum pengecer yang menyuplai. Caranya dengan datang langsung menawarkan secara keliling ke tempat-tempat usaha kuliner dengan harga eceran. "Ada indikasi oknum pengecer yang sengaja mengepul dari pangkalan-pangkalan yang melakukan demikian," ucapnya. 

Untuk itu tidak hanya terhadap pelaku usaha,  pihaknya juga akan melakukan monitoring terhadap pangkalan elpiji. Terlebih menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru akhir bulan ini.

"Ke depan untuk pembeli yang tiga kilogram, kami terapkan penanda dengan jari yang dicelup tinta seperti yang dilakukan pada pilkada. Itu salah satu monitoring kami memastikan elpiji ini bisa diterima oleh yang berhak dan tepat sasaran," cetusnya.

Pihaknya akan lebih selektif lagi dalam hal pendistribusian dengan menggunakan cap jari dengan tinta. Hal ini paling tidak bisa memilah dan menandai mana warga yang sudah membeli dan mana yang belum. Sebab terindikasi dalam satu hari ada orang-orang yang sengaja membeli di beberapa tempat untuk kemudian dijual kembali. 

"Jadi kami prioritaskan yang belum mendapatkan elpiji tiga kg, kami fokus kepada mereka yang belum mendapatkan," pungkasnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Diskumdag Kota Pontianak Hariyadi S Triwibowo mengakui, memang masih banyak ditemukan pelaku usaha yang menggunakan elpiji bersubsidi. Meski rantai distribusi yang berjalan selama ini sudah sesuai SOP.

"Yang jadi masalah, beberapa bulan lalu banyak spekulan yang mengambil dan menjual kembali sampai saat ini," terangnya.

Kemudian, pihaknya juga menemukan di lapangan bahwa ada unsur kesengajaan oleh pelaku usaha. Mereka yang semestinya menggunakan elpiji non subsidi 5,5 kilogram tetapi masih saja menggunakan elpiji tiga kilogram.

"Kalau usaha itu disiplin, tentu mereka menolak dari tawaran pengecer. Artinya, ada kesengajaan. Kami akan laporkan pada wali kota dan tentu mereka harus diberi tindakan tegas," tutupnya.(bar)

Berita Terkait