Ekspor Perikanan Capai Ratusan Miliar

Ekspor Perikanan Capai Ratusan Miliar

  Kamis, 13 June 2019 12:17
Pengecekan : Salah satu petugas dari BKIPM Pontianak saat melakukan pengecekan terhadap ikan Arwana yang akan dilalulintaskan./Foto Doc BKIPM Pontianak

PONTIANAK – Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu  (BKIPM) Pontianak mencatat kenaikan yang cukup signifikan ekspor ikan hidup Kalimantan Barat melalui stasiun tersebut. Di tahun ini, hingga Mei 2019, nilai ekonomi yang dihasilkan dari transaksi perdagangan internasional tersebut, lebih dari ratusan miliar rupiah.

“Hingga Mei 2019, untuk ekspor komoditas hidup, nilai ekonominya sudah mencapai Rp144,8 Miliar, sementara produk perikanan segar, beku, dan basah, mencapai Rp23,8 Miliar,” ungkap Kepala BKIPM Pontianak, Miharjo, Selasa (11/6).

Miharjo merinci, hingga Mei 2019, sebanyak 252,7 ribu ekor komoditas hidup, dan 262,5 ton produk perikanan dalam bentuk segar, basah, dan beku, telah diekspor ke sejumlah negara. BKIPM Pontianak sendiri, mendata lalu lintas perdagangan hasil perikanan melalui Pelabuhan  Pontianak dan Bandara Supadio Pontianak.  Sementara wilayah kerjanya mencakup, Ketapang, Kayong, Kubu Raya, Landak, Pontianak, Singkawang, dan  Kubu Raya.

BKIPM Pontianak mencatat, komoditas yang paling banyak diekspor di antaranya adalah, Arwana, Tiger Fish, Arwana Super Red, Live Tropical Fish, Arowana Banjar Red, dan Arowana Golden, untuk komoditas hidup. Sementara, produk perikanan yang paling banyak diekspor dalam bentuk segar, basah, dan beku, adalah Bawal Hitam, Udang Dogol, Udang Wangkang, dan Ikan Tenggiri. 

Sebagai gambaran, pada bulan April 2019, beberapa komoditas yang diekpsor adalah Arwana sebanyak tujuh ribu ekor, Tiger Fish sebanyak tiga ribu ekor, Udang Dogol 26 ribu kg, serta bawal hitam 41 ribu kg.

Adapun beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar, yakni China, Taiwan Jepang, Hongkong, Singapore, Vietnam, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Filipina. Miharjo mengatakan, ikan Arwana menjadi salah satu komoditas yang paling banyak dicari, dengan nilai ekonomi yang cukup menjanjikan. Ekspornya, kata dia, paling banyak ke negara China. Karena itu, permintaanya cenderung mengalami peningkatan jelang momen Imlek.

“Untuk ekspor arwana, sedikit menonjol pada bulan Januari dan Februari. Hal ini mungkin dikarenakan adanya momen Imlek, yang merupakan hari besar bagi orang China,” jelas dia.

Miharjo menambahkan, ekspor produk perikanan melalui BKIPM Pontianak cenderung meningkat selama tiga tahun terakhir. Hal itu tercermin dari nilai ekonominya yang mengalami kenikan disetiap tahunnya. Untuk komoditas hidup, nilai ekonomi yang berhasil direalisasikan pada tahun 2016 tercatat sebesar Rp138,7 Miliar, pada 2017 sebesar Rp185,7 Miliar, dan 2018 sebesar Rp248,2 Miliar. Sedangkan untuk komoditas segar, basah, dan beku, di tahun 2016 sebesar Rp119,23 Miliar, pada 2017 turun drastis hingga hanya Rp7,5 Miliar, dan tahun 2018 kembali naik menjadi 277,7 Miliar. (sti)