Ekspedisi Sintang 2015, Tulisan Akan Dibukukan

Ekspedisi Sintang 2015, Tulisan Akan Dibukukan

  Sabtu, 21 November 2015 11:15
MARSITA/PONTIANAK POST

Bertemakan Ekspedisi Sintang 2015, Club Menulis IAIN Pontianak yang terdiri dari Pembimbing dan 14 anggotanya melakukan perjalanan dari Pontianak menuju Sintang, tepatnya di Kampung Raja untuk menuliskan kearifan lokal yang ada di tempat tersebut. Nantinya, data yang didapat akan dibukukan.

 

Oleh : Marsita Riandini

DIPILIHNYA Kampung Raja sebagai tempat ekspedisi lantaran Kampung Raja merupakan kawasan yang bernilai sejarah yang dapat dijadikan objek penulisan oleh para peserta. Sebelum keberangkatan, para peserta sudah menetapkan tema-tema yang akan diteliti agar data yang diambil lebih bervariasi dan narasumber yang ditanya lebih beragam. Para peserta didampingi oleh Yusriadi, salah satu peneliti Kalbar yang memang konsen di bidang kepenulisan, terutama yang berkaitan dengan kearifan lokal.

Menariknya, para peserta diajak merasakan langsung penginapan di lanting yang berada di belakang pasar Junjung Buih. Ini menjadi pengalaman baru bagi mereka, menginap di rumah atas sungai. Beragam pula yang terjadi. Beberapa peserta pun turut menyebur ke sungai, menikmati sejuknya air kapuas.

Lanting tersebut berukuran cukup besar. Terdiri beberapa kamar yang dapat dipesan oleh pengunjung. Satu kamar sebenarnya hanya cukup untuk dua orang. Tetapi boleh saja tiga sampai empat orang, namun pasti berhimpitan.

Di dalam setiap kamar lanting tersebut tersedia kamar mandi yang dapat digunakan untuk mandi dan kakus. Tetapi bagi yang tidak terbiasa tentu tidak leluasa dengan hal tersebut. Satu kamar biaya menginapnya sebesar limapuluh ribu rupiah. Dilengkapi pula kipas angin kecil untuk mengusir panas.

Suasana lanting cukup ramai. Sebab lanting tersebut juga secara tidak langsung menjadi terminal bagi motor air. Setiap  paginya banyak perahu yang terparkir. Motor yang melakukan bongkar muat dikenakan biaya lima ribu rupiah, sementara motor yang hanya tertambat tarifnya dua ribu rupiah. Jika motor diinapkan harganya lima ribu rupiah, sementara speed boat sepuluh ribu rupiah. “Disini hampir setiap hari ada pengunjung yang menginap. Bahkan ada lanting yang disewakan untuk satu kelurga,“ ucap Titin pemilik lanting.

Meski sudah berkurang, namun di Sintang masih menyediakan jasa penyeberangan menggunakan perahu yang beratapkan terpal. Tempat duduknya dibuat memanjang, sehingga penumpang bisa duduk berhadap-hadapan. Masyarakat di sana menyebutnya tambang. “Saya sudah lebih dari 10 tahun nambang, hanya saja sekarang sudah sepi. Sehari bisa sepuluh  kali putaran. Dulu itu jumlah penambang bisa 40 sampai 50 orang, tetapi sekarang tinggal 4 saja,” kata Pak Wi, salah satu penambang.

Berukuran sedang sekira untuk belasan orang, tambang tersebut melaju mengantarkan para penumpangnya dari pasar junjung buih ke tempat yang dituju. Ini pun dirasakan pula para peserta Ekspedisi Sintang  yang membawa mereka menuju Kampung Raja.  Per orang dikenakan biaya tambang sebesar enam ribu rupiah.

Tiba di Kampung Raja, berbekal buku catatan dan pena mereka pun dibagi beberapa titik. Setiap rumah yang dikunjungi hanya boleh beberapa orang saja. Rata-rata narasumber yang dipilih mereka yang sudah usia di atas lima puluh tahun, karena dianggap lebih memahami sejarah tempat tersebut.

Tak hanya rumah warga saja, mereka juga mengunjungi keraton Sintang dan Masjid Jamik Sultan Nata yang berada di Kampung Kapuas Kiri Hilir. Arsitektur Masjid Sultan Nata ini seperti rumah panggung yang menjadi ciri khas rumah di pinggir sungai. Sebab posisi masjid tersebut memang terletak di pinggiran sungai. Bangunan masjid tampak berdiri kokoh, meski konstruksi bangunan hampir semuanya terbuat dari kayu. Sementara keratonnya berada persis di sebelahnya. Objek sejarah ini pun tak luput dari penelitiaan para peserta. Mereka menemui narasumber yang memahami seluk beluk tempat tersebut. (*)