Eks Pekerja Tuntut Pesangon

Eks Pekerja Tuntut Pesangon

  Selasa, 21 May 2019 11:41
TUNTUT HAK: Puluhan pegawai PT Sumber Batu Layang Indah melakukan demo di depan kantor mereka. Mereka menuntut hak mereka yang telah dijanjikan perusahaan namun belum dipenuhi.

Berita Terkait

PONTIANAK – Sejumlah eks karyawan PT. Sumber Batu Layang Indah menuntut hak setelah diberhentikan sepihak oleh perusahaan, yang berlangsung di kantor pusat, Jalan Barito, Kecamatan Pontianak Selatan, pada Senin (20/5). Ada 80 orang eks karyawan menilai pihak perusahaan tidak punya hati dengan memberikan pesangon yang jauh dari kategori layak.

Koordinator aksi, Markus yang bekerja sebagai Satpam di PT. Sumber Batu Layang Indah mengatakan, aksi ini dilakukan lantaran pemberhentian kerja sementara yang dilakukan perusahaan telah berlangsung sejak 6 April 2019, dan hingga saat ini baru ada kejelasan terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak oleh pihak perusahaan. 

Dia menyebutkan alasan yang diberikan perusahaan kepada karyawannya adalah terkait kerugian yang dialami perusahaan selama tiga tahun belakangan. Atas alasan tersebut, semua karyawan yang berjumlah kurang lebih 80 orang tersebut diberhentikan.

"Kami semua karyawan ikuti kemauannya untuk diberhentikan, baik itu karyawan, staf, sampai petugas pengamanan. Jadi saat ini perusahaan tidak produksi, yang bertugas menjaga di sana orang dari Kodam," ujar Markus, kemarin.

Markus menyebut, eks karyawan sangat menyayangkan pengambilan sikap dari pihak perusahaan yang tiba-tiba memberhentikan pekerjaan, tanpa melakukan audit terlebih dahulu. Uang pesangon yang diberikan pihak perusahaan jauh dari ekspektasi dan sangat tidak masuk akal dengan peraturan yang berlaku. Atas dasar ini, Markus beserta karyawan yang diberhentikan lainnya melakukan aksi ini sebagai wujud permintaan hak.

"Namun iktikad kami untuk mencapai hak kita terkait uang gaji bulan terakhir kerja, pesangon, dan THR tidak diindahkan oleh pihak perusahaan. Kemarin pihak perusahaan ada memberi uang, namun sebatas kompensasi saja yang tak masuk diakal. Karena jika sesuai aturannya uang yang harus kami terima di atas Rp60 juta, tapi yang diberikan hanya kisaran belasan juta," jelasnya.

Terkait alasan pihak perusahaan yang mengalami bangkrut akibat rugi yang dialami selama tiga tahun berturut-turut, Markus membeberkan karena pemasaran yang tidak memenuhi target dan juga beberapa faktor lainnya. Menanggapi hal tersebut, dia lantas menyalahi pihak perusahaan yang dianggapnya tidak memenuhi standar kualitas dalam penyediaan bahan dasar untuk produksi biskuit.

"Sebenarnya dari pihak perusahaan juga yang salah, mereka memberikan bahan baku yang tidak masuk standar, misalnya tepung, telur, gula, dan lainnya. Karena yang namanya kue kalau tidak dibuat dengan bahan yang kualitasnya baik, akan berpengaruh terhadap kualitas kue itu sendiri. Dibuatnya dari bahan yang tidak bagus, wajar saja tidak laku," jelasnya.

Sementara terkait hasil negosiasi yang telah dilakukan, Markus mengatakan diskusi berjalan alot dan tak menemui titik terang hingga saat ini. Mengingat dari pihak perusahaan sampai saat ini masih meminta agar eks karyawannya tersebut untuk sabar dan mengerti dengan kondisi yang dialami perusahaan saat ini.

"Mereka minta kami mengerti, tapi dari mereka tidak mau mengerti kondisi karyawannya. Contoh dari kompensasi yang diberikan tak masuk akal, dari Rp60 juta jadi tinggal belasan juta, tidak masuk diakal," lanjutnya.

Dia mengatakan saat ini pihaknya masih akan mengikuti prosedur yang diberikan oleh pihak perusahaan. Sementara karyawan yang menjadi korban pemecatan sepihak ini masih percayakan kasus ini kepada pengacara dari serikat. 

"Sebenarnya, kami sudah tekankan untuk dapat jawaban pasti sore ini juga. Tapi dari pihak perusahaan mengatakan tidak bisa instan dan harus diproses, jadi kami percayakan kepada serikat kita sementara waktu," pungkasnya. 

Sementara itu saat hendak dikonfirmasi, pihak perusahaan PT. Sumber Batu Layang Indah enggan berkomentar terkait aksi yang dilayangkan oleh eks karyawannya tersebut. (sig) 

Berita Terkait