Edukasi Petani Buka Lahan Tanpa Bakar

Edukasi Petani Buka Lahan Tanpa Bakar

  Jumat, 30 September 2016 10:24

Berita Terkait

TIDAK hanya mencegah kembali terjadinya kebakaran hutan dan lahan, saat ini cukup banyak pihak yang berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan termasuk memberdayakan dan mengolah hasil alam dengan cara ramah lingkungan. Misalnya saja Yayasan Titian Lestari, yang sejak beberapa tahun lalu telah berupaya mengedukasi dan mendorong masyarakat untuk membuka lahan lahan tanpa bakar dan mengolah lahan pertanian dengan cara yang lebih ramah lingkungan. 

 
“Untuk tahap awal tidak mudah memberikan pemahaman atau edukasi bagi masyarakat dalam mengolah lahan dengan cara yang ramah lingkungan, seperti membuka lahan tanpa bakar,” kata Direktur Yayasan Titian Lestari, Sulhani kepada Pontianak Post.

Pria yang akrab disapa Icunk ini menceritakan sejak beberapa waktu lalu, Yayasan Titian Lestari bersama pihak terkait lainnya memberikan pendampingan dibeberapa desa di Kecamatan Matan Hilir Selatan Kabupaten Ketapang. Beberapa Desa tersebut yakni Desa Pematang Gadung, Pelang, Sungai Besar. Dia mengakui, untuk tahap awal memang cukup berat mengarahkan masyarakat menggunakan cara ramah lingkungan dalam mengolah lahan, karena selain memerlukan biaya yang cukup banyak, waktu yang digunakan untuk membuka lahan secara manual dan ramah lingkungan juga lebih lama. “Memang awalnya ada sebagian petani yang protes, namun setelah diarahkan secara bertahap banyak lahan yang diolah dengan menggunakan pupuk organik, saat ini cukup banyak hasil panen petani lokal yang mulai memuaskan,” katanya.

Kawasan percontohan yang diarahkan untuk mengembangkan pembukaan lahan tanpa bakar dan ramah lingkungan adalah kawasan lahan gambut. Agar upaya yang dilakukan maksimal, maka pihaknya juga mengembangkan mekanisme restorasi gambut melalui penanaman pohon di sekitar sekat kanal yang dibangun, dengan jenis pohon yang sesuai dengan karakter hutan rawa gambut.

Rehabilitasi lahan menggunakan jenis tumbuhan yang secara alami berada di ekosistem lahan gambut dan dapat memberikan manfaat hasil hutan bukan kayu jangka panjang kepada masyarakat.

Menurutnya, penerapan sistem pertanian dan perkebunan berbasis lahan basah (paludiculture) tanpa bakar yang dapat mengurangi oksidasi gambut, sekaligus menyediakan panen berkelanjutan dalam upaya perbaikan ekosistem gambut dan peningkatan hasil ekonomi masyarakat desa.

Sistem paludiculture yang benar dan berkelanjutan akan diterapkan pada lahan-lahan pertanian dan perkebunan masyarakat yang pernah terbakar di sekitar areal proyek untuk meningkatkan produktivitas dan perekonomian masyarakat, serta mengurangi pembalakan hutan yang tersisa di areal proyek. “Pembentukan kelompok petani, pelatihan dan asistensi dalam implemtasinya akan dilakukan untuk memastikan sistem pertanian ini diterapkan oleh masyarakat,” terangnya.

Selain mengolah lahan pertanian tanpa bakar, pihaknya juga meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu melalui kegiatan agroforestry berbasis gender, kegiatan ini akan dilakukan dengan membentuk kelompok perempuan. “Kegiatan pelatihan dalam pengembangan bibit unggul agroforestry, seperti karet dan cara pengolahannya akan diberikan kepada mereka dengan harapan dalam implementasinya ini akan menjadi penghasilan keluarga,” terangnya.

Pihaknya juga membentuk beberapa kelompok perempuan yang terdiri dari 10 orang di tiap desa. Kelompok tersebut kemudian dilatih dan didorong untuk mengembangkan agroforestry (karet dan tanaman hutan lainnya). Pada kebun-kebun warga dan pada sejumlah areal kritis serta bekas kebakaran yang ada pada areal kerja hutan desa. Secara umum, kata Icunk, sebelumnya masih banyak petani dibeberapa desa Matan Hilir Selatan yang mengunakan cara tradisional dalam bercocok tanam, bahkan sebagian masih belum paham memilih bibit, pupuk yang sesuai dengan kondisi lahan yang ada. “Jadi selain mengarahkan untuk membuka lahan tanpa bakar dan mengembangan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan, bersama pihak terkait lainnya kami juga memberikan pemahaman bagi petani agar bisa memilih pupuk, bibit dan sejenisnya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lahan,” bebernya.

Petani Desa Pelang, Suharna mengakui awalnya cukup sulit menerapkan membuka lahan tanpa bakar. Apalagi di desanya sudah menjadi kebiasaan petani setempat membuka lahan dengan cara tradisional, cepat dan praktis. “Maklumlah, kami di sini orang kampong. Jadi semula memang masih membuka lahan dengan cara membakar, karena kami pikir lebih praktis, tapi setelah diberikan pemahaman secara bertahap para petani di desa kami sudah mulai beralih membuka lahan tanpa membakar dan mengolah pertanian dengan cara lebih ramah lingkungan,” paparnya.

Selain menanam padi di sawah, Surhana mengaku banyak warga di desanya yang menanam sayur-sayuran di sekitar pekarangan rumah masing-masing. Beberapa jenis sayur-sayuran tersebut cabai, tomat, ganbas, golden mama. “Di samping menanam sayur-sayuran sebagian dari warga juga ada yang beternak sapi. Jadi, kotorannya juga bisa digunakan sebagai pupuk untuk tanaman pekarangannya,” jelasnya.

Jika dibandingkan dengan sistem sebelumnya, Suharna mengakui, meskipun awalnya memerlukan waktu dan biaya yang cukup besar, namun membuka lahan tanpa bakar hasilnya juga tak kalah produktif dibanding membuka lahan dengan membakar.

Sementara itu petani Desa Sungai Besar, Mariana mengakui hal serupa yang mengakui banyak manfaat yang didapat dengan membuka lahan tanpa bakar. “Lahan yang diberikan pupuk organik dan diolah dengan cara ramah lingkungan secara tak langsung bisa memberikan hasil panen yang cukup baik. Agar kedepan hasil panen kami lebih baik memang sepertinya kami harus lebih intensif mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak terkait,” terangnya.

Sebelumnya, Titian juga mengembangkan beberapa kegiatan dalam mendukung program kerja UNDP REDD+ Partnership seperti melaksanakan restorasi pada lahan yang kritis baik gambut ataupun bukan gambut, bekas kebakaran seluas 15 hektar di areal kerja hutan desa oleh tiga kelompok restorasi yang merupakan anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa dengan total bibit yang ditanam adalah bibit jengkol, petai, mahoni dan cempedak.

Melaksanakan pertanian tanpa bakar pada lahan gambut bekas terbakar berbasis gender (perempuan) untuk mengurangi oksidasi, sekaligus menyediakan panen berkelanjutan dalam upaya perbaikan ekosistem gambut dan peningkatan hasil ekonomi masyarakat desa seluas 3 hektare yang dilaksanakan oleh 9 kelompok. Mengembangkan agroforestry berbasis karet, jengkol dan cempedak yang ditanam pada lahan bekas terbakar seluas 10 hektare yang dilaksanakan oleh 3 kelompok.

Untuk melanjutkan kegiatan tersebut di atas, kata Icunk, Yayasan Titian juga akan melaksanakan beberapa kegiatan tambahan untuk mendukung dan memperkuat inisiatif  yang sudah dilakukan sebelumnya seperti memperluas areal restorasi pada lahan gambut kritis di Areal Kerja Hutan Desa Pelang seluas 10 hektare. “Kegiatan restorasi akan difokuskan pada lahan gambut kritis di Areal Hutan Desa Pelang yang akan ditanami dengan bibit-bibit tanaman hutan yaitu pulai, gelam dan bibit tanaman jengkol. Kegiatan restorasi ini akan dilakukan oleh kelompok yang sama yang sebelumnya sudah melakukan restorasi,” paparnya.

Sementara itu, Koordinator Pengurangan Kebakaran Hutan dan Lahan UNDP REDD+ Partnership, Heracles menyatakan, pihaknya sangat mendorong upaya pembukaan lahan tanpa bakar, karena hal tersebut dinilai dapat mencegah potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan dalam jumlah yang lebih besar. “Dengan membuka lahan menggunakan cara tanpa bakar dan ramah lingkungan secara tak langsung, juga memberikan manfaat bagi masyarakat karena kelestarian alamnya bisa lebih terjaga,” terangnya.

Menurutnya, UNDP REDD+ Partnership bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan gencar melakukan berbagai program, termasuk membagikan bibit pohon  bagi sejumlah kawasan yang dinilai banyak memiliki lahan gambut dan kerap terjadi kebakaran hutan dan lahan. “Salah satu usaha yang kami gencarkan saat ini yakni mengoptimalkan tindakan preventif untuk menekan kasus kebakaran hutan dan lahan. Salah satunya dengan menggencarkan program pembagian bibit pohon termasuk mengedukasi masyarakat untuk membuka lahan tanpa bakar dan ramah lingkungan,” ucapnya.

Disinggung soal upaya lain yang bisa dilakukan dalam menekan laju emisi, kata Heracles, pada dasarnya setiap pemerintah daerah mulai saat ini bisa memuat kebijakan dengan mengarahkan atau membuat iklim investasi menjadi investasi yang jauh lebih sehat. “Membuat iklim investasi yang lebih sehat. Artinya bisa dengan cara membuat peraturan investasi yang pro kepada masyarakat luas dan berusaha keras menumbuhkan perekonomian masyarakat dari bawah,” ungkapnya.

Heracles juga menambahkan saat ini UNDP REDD+ Partnership juga telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pemerintah daerah untuk menyamakan persepsi dalam hal menjaga pelestarian lingkungan dan sama-sama menekan laju emisi, salah satunya dengan melakukan penanaman bibit pohon. “Kami berharap program penghijauan dengan melakukan penanaman pohon agar iklim investasi menjadi lebih sehat dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Kedepannya program ini juga menjadi salah satu prioritas setiap pemerintah daerah,” pungkasnya. (ash)

 

Berita Terkait