e-Warong Kurang Dikenal, Distribusi Masih Tersendat

e-Warong Kurang Dikenal, Distribusi Masih Tersendat

  Jumat, 8 February 2019 10:15
WARONG ELEKTRONIK: Abdul, pemilik warong elektronik melayani salah satu penerima manfaat. MARSITA RIANDINI/ PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Beli Rastra di e-Warong dapat Telur

Warung elekronik gotong royong (e-warong) sudah diterapkan tahun 2019 ini dari program bantuan pangan nontunai. Distribusinya hingga saat ini belum lancar karena masih banyak keluarga penerima manfaat belum mengetahuinya mekanisme program pengganti beras rakyat sejahtera itu. 

MARSITA RIANDINI, Pontianak

SUDAH beberapa bulan ini, e-Warong milik Abdul Fattah beroperasi. Warung ini khusus melayani pembeli dari program keluarga harapan (PKH) dan Non-PKH. Abdul dipercaya dinas sosial menjadi salah satu pengelola e-warong untuk mendistribusikan di wilayah Kelurahan Sungai Beliung. Ada 300 penerima yang dilayani Abdul. 

Selama pendistribusian ini, kata dia, masih banyak masyarakat yang belum membelanjakannya. “Kalau mereka punya android kan lebih mudah. Kami bisa buatkan grup. Tapi kan ini penerima dari keluarga yang tidak mampu. Jadi kesulitan menginformasikan,” katanya.

Biasanya Abdul menitip pesan kepada yang sudah mengambil untuk menginformasikan ke tetangga. Ada juga yang baru mendapatkan kartu, sehingga ketika pengambilan menjadi banyak. 

Menurut Abdul, kerja sama ini membolehkan pihaknya untuk pengadaan beras.Tetapi ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Bahkan sampel beras diambil dan diperiksa oleh dinas sosial.  

“Berasnya harus premium. Tidak boleh medium, sekali pun berasnya bagus,” katanya. 

Mekanisme belanjanya seperti jual beli pada umumnya. Warga membawa kartu yang sudah berisi uang Rp110 ribu. Untuk sementara, bahan pokok yang dibelanjakan berupa beras dan telur. Pembagian uang belanjanya, Rp100 ribu untuk beras, dan Rp10 ribu untuk telur. Jumlah telur juga disesuaikan dengan harga pasaran. 

“Harga dipatok dari Dinsos itu kayak gitu,” katanya. 

Abdul sempat bertanya jumlah telur yang disediakan untuk setiap kantongnya. Ini mengacu pada harga telur yang berubah-ubah, juga bergantung ukuran besar kecilnya telur. Dia meminta arahan dari pihak terkait, hingga kemudian disepakati jumlahnya lima butir. 

“Kalau ndak sama kan susah. Karena di dekat saya juga ada agen. Nanti kalau saya isi enam, agen dekat saya isi lima nanti warga sana marah. Kalau dia isi enam, saya isi lima nanti saya yang kena marah. Jadi saya minta patokkan isi telurnya,” katanya. 

Kemudian pihaknya akan melakukan transaksi melalui mesin electronic data capture (EDC) yang difasilitasi pemerintah. Jika transaksi selesai, beras dan telur sudah bisa dibawa pulang. Tak banyak kendala dalam transaksi ini. Hanya saja, ada yang sudah mengganti PIN kartu. 

“Kadang tuh mereka datang, kemudian tidak mengabari PINnya sudah diubah. Begitu saya coba dengan PIN umum, ternyata tidak bisa. Setelah tiga kali terblokir, mereka harus mengurus ke bank lagi,” ulasnya. 

Etix Dwi, warga Kelurahan Sungai Beliung ini baru satu kali mengambil beras dan telur di e-warung yang ditunjuk. Etix tidak tahu, jika program ini didistribusikan setiap bulan. “Tidak tahu kalau diambil setiap bulan. Saya hari ini ambil, karena tahu dari tetangga,” katanya. 

Lama tidak mengambil, Etix mendapatkan tiga karung beras dan tiga kantong telur. “Kalau setiap bulan itu hanya satu karung beras sama satu kantong telur saja,” katanya. 

Etix merupakan penerima manfaat dari jalur Program Keluarga Harapan (PKH). Tak hanya bantuan beras dan telur, Etix juga menerima bantuan uang tunai yang diterima secara terpisah per tiga bulan. Menurut Etix, berubahnya rastra menjadi e-warong sama-sama memberikan manfaat. 

“Programnya sama-sama membantu. Cuma bedanya kalau rastra dulu, kalau kena yang bagus, bagus sekali.  Kalau jelek-jelek sekali. Kalau ini berasnya bagus dan ada telurnya juga,” katanya. 

Zuriah belum lama ini baru mendapatkan kartu penerima manfaat. Ketika beras datang pada Februari ini, ia langsung menerima empat karung beras dan empat kantong telur. “Baru dapat setelah ada yang melakukan pendataan, kemudian disuruh mengurus ke Bank BRI untuk membuat rekening,” katanya. 

Akhmad TH, Lurah Sungai Beliung mengatakan perubahan rastra menjadi e-warong menjadi kewenangan Dinas Sosial. Pendataan dan pendistribusian dilakukan langsung kepada masyarakat. Pihaknya hanya melakukan pemantauan, dan melakukan usulan bagi warga yang berhak mendapatkannya.  

“Kami cuma melakukan pendataan dan mengusulkan saja. Tetapi validasi dan verifikasi data tetap dilakukan oleh dinsos,” katanya. 

Ada lima e-warong yang ditunjuk untuk distribusi wilayah Kelurahan Sungai Beliung. Hanya saja memang masih ada warga penerima manfaat yang tidak mengetahui lokasi e-warongnya. “Jadi agak terlambat,” ulasnya. 

Menurut dia, program ini lebih tepat sasaran dibanding sistem rastra. Dari 1.464 KK keluraga penerima rastra, hampir separuhnya tidak lagi menerima PKH dengan sistem e-warong ini. 

“Ini karena setelah verifikasi data, ternyata mereka tidak berhak lagi menerima. Meski pun masih ada warga yang kami usulkan karena tidak tercantum dalam daftar penerima manfaat,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait