Dugaan Kerupuk Tempe yang Mengandung Boraks

Dugaan Kerupuk Tempe yang Mengandung Boraks

  Jumat, 17 May 2019 10:15
MENGANDUNG BORAKS: Kadinkes dan KB, A Kismed menunjukkan sampel kerupuk tempe yang diduga mengandung pengawet boraks di ruang kerjanya

Berita Terkait

Temuan Tim Saat Pengawasan Makanan di Pasar Tradisional

BBPOM Pontianak bersama Pemkot Singkawang melakukan pengawasan sekaligus mengambil sampel makanan/takjil yang dijual di Pasar Juadah Kota Singkawang. Juga ke beberapa pasar tradisional. Hasilnya? Ada makanan yang mengandung pengawet. 

Hari Kurniathama, SINGKAWANG

PEMKOT Singkawang bersama Satgas Pangan Polres Singkawang menemukan bahan makanan berupa kerupuk tempe, yang diduga mengandung boraks. 

"Dugaan temuan ini kita temukan pada saat tim keamanan pangan Singkawang melakukan pengawasan sekaligus mengambil sampel bahan makanan yang dipusatkan di Pasar Tradisional seperti Beringin dan Alianyang, Rabu (15/5) kemarin," kata Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, A Kismed, Kamis (16/5).

Dari pengawasan itu, tim mengambil sebanyak 40 sampel bahan makanan dari dua Pasar Tradisional tersebut. 

"Tapi setelah di uji sebanyak 39 sampel bebas dari bahan berbahaya, sedangkan satu sampelnya berupa kerupuk tempe diduga mengandung boraks," ujarnya.

Menurutnya, ada empat parameter yang diuji, antaralain, Rhodamin B (warna merah), Methanyl Yellow (warna kuning), Boraks dan Formalin. 

Mengenai satu temuan ini, akan pihaknya bawa ke BBPOM Pontianak untuk memastikan apakah bahan makanan berupa kerupuk tempe tersebut positip mengandung Boraks atau tidak. 

"Karena melalui tes awal memang mencurigakan, tapi untuk pastinya akan kita bawa ke BBPOM Pontianak," ungkapnya. 

Terkait dengan temuan itu, tim sudah melakukan penelusuran ke toko yang menjualnya. Hanya saja, alamat produsen yang diberikan oleh pedagang yang bersangkutan tidak jelas. Mungkin, pedagang yang bersangkutan merasa ketakutan untuk memberitahukannya. 

"Bahkan nomor izinnya pun sudah kedaluarsa. Jadi nomor izin yang sudah lama dipakai, sebaiknya harus diperbaharui," pintanya. 

Sehingga dirinya hanya bisa mengimbau, kepada produsen yang merasa memproduksi kerupuk tempe tersebut agar tidak menggunakan bahan atau zat yang dilarang. 

Kemudian, yang belum memiliki izin atau masa izinnya sudah kedaluarsa, tolong untuk diperbaharui. Gunakan label pada kemasan yang sudah ditentukan oleh BPOM. 

"Jadi jangan menggunakan label lama atau yang tidak jelas bahkan alamatnya pun harus jelas," pesannya. 

Mengenai persyaratannya baik itu permohonan izin dan sebagainya, bisa dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan setempat. 

"Kalau memang produsennya ada di Singkawang silahkan datang ke kita, tapi kalau produsennya berada di luar Singkawang silahkan datang ke Dinas Kesehatan yang ada di wilayahnya," imbaunya. 

Mengenai temuan tersebut, apabila BBPOM Pontianak menyatakan positip mengandung Boraks maka pihaknya agak sedikit keras kepada pedagang yang bersangkutan dalam hal memberikan alamat produsen. 

Menurutnya, dampak kesehatan dari mengkonsumsi Boraks akan sangat buruk karena akan merusak beberapa organ tubuh seperti hati, ginjal bahkan ada yang bersifat Karsinogenik (memicu kanker). 

"Oleh karena itulah bahan-bahan seperti itu dilarang," katanya. 

Meskipun dampak yang ditumbulkan tidak serta merta usai di konsumsi. Tetapi dampaknya akan timbul dalam jangka waktu yang lama. 

"Kepada masyarakat juga diimbau untuk berhati-hati dalam memilih ataupun mengkonsumsi makanan," ujarnya. Pada kesempatan yang sama, Kasi Pengendalian Makanan, Minuman dan Bahan Berbahaya Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, Rudy Susanto juga mengimbau baik kepada konsumen, produsen dan pendistribusian agar memperhatikan izin edar. 

"Izin edar yang diterbitkan di Indonesia itu adalah izin yang diterbitkan dari BPOM maupun Dinas Kesehatan," katanya. 

Kalau di BPOM itu berupa kode yang diawali dengan kode MD atau ML untuk makanan luar. Sedangkan untuk makanan dalam (produksi industri rumah tangga) kodenya PIRT yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan. 

Jadi, harapan dia kepada produsen bisa mengurus atau membuat izin yang dimaksud tergantung jenis usahanya. Kemudian bagi masyarakat penjual, hanya menerima atau menyediakan atau menjual produk-produk yang sudah terdaftar. 

"Sedangkan untuk masyarakat pengguna (konsumen), diharapkan selektif terhadap produk yang akan dibeli atau digunakan dengan memperhatikan izin edarnya sudah ada atau belum baik dari BPOM atau Dinas Kesehatan," ujarnya. 

Sebelumnya, BBPOM Pontianak bersama Pemkot Singkawang melakukan pengawasan sekaligus mengambil sampel makanan/takjil yang dijual di Pasar Juadah Kota Singkawang. 

Dari 23 sampel makanan/takjil yang diambil dari beberapa titik Pasar Juadah seperti di sekitaran Masjid Raya, Kelurahan Sekip Lama dan Kampung Jawa, setelah diuji hasilnya sebanyak 21 sampel dinyatakan memenuhi syarat atau tidak mengandung bahan berbahaya. 

Namun, dua sampel lainnya berupa manisan dicurigai mengandung bahan-bahan terlarang. Terhadap dua temuan itu pula, saat ini sudah dibawa ke Pontianak untuk di uji ke laboratorium BBPOM. (*)

Berita Terkait