Dugaan Kerja Paksa Mahasiswa Indonesia di Taiwan

Dugaan Kerja Paksa Mahasiswa Indonesia di Taiwan

  Sabtu, 5 January 2019 08:45
BANTAH KERJA PAKSA: Perwakilan Kantor Dagang dan Ekonomi Taiwan di Indonesia Jhon C Chen (tengah) memberikan keterangan terkait 300 mahasiswa RI diduga menjadi korban kerja paksa di Taiwan, Jumat (4/1).

Berita Terkait

Ada Kemungkinan Pakai Agensi

JAKARTA - Taipei Economic and Trade Office (TETO) atau Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei akhirnya kemarin (4/1) mengkonfirmasi berita mahasiswa Indonesia yang mengikuti program kuliah sambil kerja di Taiwan. 

Pada tahun awal, TETO mengakui bahwa ada kemungkinan Pemerintah Taiwan kecolongan dengan adanya agensi yang memanfaatkan untuk mencari tenaga kerja murah. Meski demikian, menurutnya pemerintah telah melakukan investigasi terkait hal ini. 

Representative TETO di Indonesia John Chen kemarin mengatakan program beasiswa diberikan untuk anak-anak yang tidak mampu. Pemerintah Taiwan juga mensubsidi sebanyak 3.000 NT pertahun. ”Jika ekonominya cukup maka pada tahun kedua tidak wajib mengambil pekerjaan itu,” ujarnya. Selain itu, jika mahasiswa bisa membiayai, maka bisa mengambil di kuliah reguler. 

Dia mengatakan bahwa program magang tersebut hanyalah 20 jam. Itu untuk satu tahun pertama. Tahun kedua, mahasiswa boleh ambil part time (paruh waktu) namun tak boleh lebih dari 20 jam. Artinya, maksimal bekerja hanya 40 jam. Selain itu, program magang juga dihitung dalam SKS.

Setiap harinya, mereka bekerja selama delapan jam. Selanjutnya, ada dua jam untuk istirahat. Sehingga total 10 jam di pabrik. 

John menjamin bahwa perusahaan tempat magang linier dengan program studi yang ditempuh oleh mahasiswa. Tujuannya agar ada pengalaman kerja dengan teknologi yang mumpuni.

Dia menjelaskan bahwa perusahaan tempat bekerja sudah dipilihkan oleh pihak universitas dan Kementerian Pendidikan Taiwan. ”Program ini sukarela, kalau ada komplain silahkan tuliskan surat ke Kementerian Pendidikan,” tuturnya. Pemerintah Taiwan juga tengah melakukan investigasi kepada pabrik maupun universitas terkait. 

Salah satu sumber menjelaskan bahwa ada perbedaan brosur yang ditawarkan ketika di Indonesia dengan kenyataan di Taiwan. Menanggapi hal ini, John menjelaskan bahwa hal tersebut kemungkinan adalah permainan dari agensi. Dia mengakui bahwa pada tahun pertama ada kemungkinan agensi ikut terlibat. Sehingga pemerintah maupun universitas tidak bisa menyeleksi. Agensi yang dimaksud adalah mereka yang ingin mencari pekerja murah dengan mempekerjakan mahasiswa magang. Sekarang agensi tidak boleh turut campur dalam pendidikan.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa program magang sudah disosialisasikan sejak di Indonesia. Namun belum ada kontrak. ”Baru ada tanda tangan kontrak setelah diterima,” kata John.

Kemarin Pemda Bangka Belitung mencabut perjanjian kerjasama pengiriman mahasiswa dengan Hongfung International Technology. John justru belum mengetahui pembatalan tersebut. Dia  menjelaskan kemungkinan kerjasama itu hanya dengan universitas sehingga pemerintah tidak mengetahuinya.

Kepala Bidang Perlindungan WNI dan Pensosbud KDEI Taipei Fajar Nuradi kemarin juga mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan advokasi. Pihaknya telah melakukan kunjungan ke kampus-kampus dan pendampingan kepada mahasiswa magang. ”Selain itu akan berkoordinasi dengan otoritas terkait setempat untuk mengambil langkah sesuai aturan hukum,” tuturnya. 

KDEI Taipe memang sedang mendalami permasalahan tersebut. mereka berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Taiwan untuk mengungkap masalah ini. 

Terkait adanya agensi penyalur, KDEI menjelaskan bahwa pihaknya tidak mengetahui. Namun hal tersebut bisa saja terjadi, apalagi ada pengakuan dari TETO. ”Selama ini KDEI tidak mengetahui sistem perekrutannya seperti apa untuk kasus yang terjadi,” ujar Fajar. 

Menristekdikti Mohamad Nasir mendengar kabar bahwa sampai ada mahasiswa Indonesia dipaksa makan babi adalah hoax. Apalagi Taiwan saat ini juga sedang menyambut pemilihan presiden. "Hampir seperti kita lah. Itu (berita bohong, Red) muncul terus, intinya  bagaimana lawan itu bisa menghancurkan lawannya dengan berita itu," tutur Nasir.

Meskipun begitu Nasir mengatakan Kemenristekdikti tetap akan menggali informasi lebih detail. Rencananya hari Selasa (8/1) nanti dia akan bertemu dengan TETO, selaku perwakilan Taiwan di Indonesia. Nasir menduga yang jadi persoalan di Taiwan bukan murni urusan pendidikan atau kuliah. Tetapi lebih pada urusan ketenagakerjaan dan bukan ranah Kemenristekdikti.

Nasir menjelaskan terkait kabar mahasiswa Indonesia sampai dikasih makan babi, ternyata tidak benar. Bahkan menurut dia, Taiwan ramah terhadap umat Islam. Seperti kampus menyiapkan Musala untuk mahasiswa muslim beribadah. "Jadi disana sangat terbuka. Saya heran Taiwan itu dalam melakukan tenaga kerja sangat baik," tutur dia. (Lyn/wan)

Berita Terkait