Dua Hari Jalan Kaki Susuri Hutan dan Bukit

Dua Hari Jalan Kaki Susuri Hutan dan Bukit

  Senin, 22 April 2019 11:27
JALUR EKSTREM: Puluhan petugas mengangkat logistik pemilu di Desa Kereho, Putussibau Selatan, Kapuas Hulu. Untuk sampai ke desa ini petugas harus berjalan kaki menyusuri hutan. Selain itu, petugas harus menumpang perahu melewati sungai berarus deras.

Berita Terkait

Beratnya Perjuangan Mengirim Surat Suara ke Pedalaman 

Proses pendistribusian logistik pemilu di wilayah pedalaman bukan perkara mudah. Butuh waktu berhari-hari berjalan kaki menyusuri hutan demi mengantar surat suara. Bagaimana prosesnya?  Berikut laporan wartawan Pontianak Post Arief Nugroho dari Dusun Belatung, Kabupaten Kapuas Hulu.

Setidaknya ada 993 tempat pemunggutan suara (TPS) yang tersebar di 282 desa dan kelurahan di 23 kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

Salah satunya adalah Kecamatan Putussibau Selatan. Di daerah ini terdapat 76 TPS, sepuluh TPS diantaranya berada di wilayah perhuluan Sungai Kapuas, yang harus ditempuh menggunakan alat transportasi air seperti perahu.  

Sabtu (13/4) pagi, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Putussibau Selatan bersama petugas kepolisian dan TNI terlihat sibuk menyiapkan logistik pemilu yang akan didistribusikan di daerah mereka. Di antaranya di Desa Beringin Jaya, Bunga Jaya, Desa Tanjung Lokang dan Desa Kereho. 

Hari itu setidaknya ada dua perahu yang mengantar logistik ke desa tujuan. Saya berada di salah satu perahu itu, dengan tujuan Dusun Belatung. Dusun Belatung merupakan satu dari tiga dusun di Desa Kereho. Letaknya berada di daerah terpencil di hulu Sungai Bekohuk, perbatasan dengan dua provinsi di Kalimantan, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Untuk mencapai ke dusun ini setidaknya dibutuhkan waktu perjalanan selama tiga hari dengan menyusuri alur sungai dan menembus hutan belantara.

Sebelum sampai di Dusun Belatung, perahu pembawa logistik pemilu singgah ke dua dusun sebelumnya, yakni Dusun Sepan dan Dusun Salin dengan menempuh perjalanan sungai kurang empat sampai lima jam dari ibukota kabupaten, Putussibau dengan melintasi riam-riam arus deras. Salah satunya Riam Benda’.

Di riam ini, seorang motoris dan juru batu diuji ketangguhannya. Sedikit saja meleset, maka risikonya perahu bisa menabrak batu dan karam.

Riam Benda’ yang berada di antara Dusun Sepan dan Dusun Salin ini memang cukup terkenal dengan kecuramannya. Batuan ukuran besar yang berada di sekitar riam juga membuat alur sungai menjadi sempit. Perahu yang akan melintasi riam ini harus ditarik menggunakan tali tambang oleh sepuluh sampai belasan orang.  

Demikian juga dengan perahu yang saya tumpangi. Satu persatu barang bawaan, termasuk logistik pemilu harus diturunkan. Dipikul dan dipindahkan. Sementara, perahu harus ditarik agar bisa melintasi riam itu.

Sore itu kami harus bermalam di Dusun Salin, karena hari mulai gelap. Ditambah hujan yang turun begitu derasnya. Dusun Salin merupakan dusun persinggahan sementara, sebelum melanjutkan perjalanan ke Dusun Belatung yang harus ditempuh dengan berjalan kaki selama dua hari.

Keesokan harinya, Minggu (14/4), cuaca masih sama seperti saat kami tiba di dusun itu. Hujan belum juga reda.

Meski kondisi cuaca tidak bersahabat, saya bersama lima orang lainnya, yakni  Briptu Budi Utomo anggota Polsek Putussibau Selatan dan Pratu Muhammad Taufiq, anggota Koramil Kota 12O6/PSU, petugas PPS, Panwas dan seorang warga lokal, Yohanes Rani harus melanjutkan perjalanan.

Maklum, hari pemungutan suara semakin dekat. Sementara kami masih harus menempuh perjalanan selama dua hari dengan berjalan kaki. Sehingga, sebelum tanggal hari H pencoblosan, logistik harus sudah sampai di TPS 003 di Dusun Belatung.

Dengan menggunakan perahu motor bermesin 40 Pk, kami diantar menuju Bukit Luwang Lujau, sebagai pintu masuk hutan menuju Dusun Belatung.

Perjalanan untuk sampai ke Dusun Belatung cukup menguras energi. Selain jarak tempuh yang sangat jauh, terpencil, juga miliki banyak risiko. Mulai dari tersesat di hutan, cedera, serangan binatang buas hingga resiko paling buruk sekalipun. 

Perjalanan ke Dusun Belatung harus ditempuh menyusuri jalan setapak, menaiki bukit, menerobos hutan belantara, melewati rawa, menyeberangi sungai dan puluhan anak sungai, meniti titian kayu, menuruni lembah, melewati bibir jurang serta melawan serangan binatang Pacet dan lintah yang setiap saat bisa menghisap darah kami.

Perjalanan ini, selain dibutuhkan mental dan tekat yang kuat, juga stamina dan fisik yang prima. Terutama saat menaiki bukit Luwang Lujau. Bukit yang dikenal oleh masyarakat lokal sebagai tempat bersemayamnya binatang buas ini, memiliki tanjakan dengan kemiringan hampir 100 derajat. 

Tentu saja membuat tenaga kami terkuras. Sementara perjalanan harus terus dilanjutkan agar bisa tiba ke dusun tujuan tepat waktu. Selain Bukit Luwang Lujau, masih banyak bukit-bukit yang lain yang kami lewati.  

Waktu terus berputar. Hari semakin gelap. Jarak pandang mulai berkurang. Sementara kami harus terus fokus pada jalur yang kami lewati. Terutama saat melewati bibir jurang. Sedikit saja lengah, risikonya akan terjatuh.

Hari itu kami memutuskan untuk bermalam di tengah hutan, tetapnya di pinggir Sungai Jae Hilir. Mendirikan tenda darurat menggunakan terpal sebagai atap dan karung beras alas tidur. 

Jae Hilir sangat cocok untuk mendirikan tenda. Selain lokasinya yang sedikit lapang, di sini juga terdapat sumber air yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

“Sementara malam ini kita menginap di sini,” ujar Yohanes Rani.

Yohanes Rani merupakan warga lokal Dusun Salin. Ia bertugas sebagai porter sekaligus penunjuk jalan menuju Dusun Belatung. 

Usianya sudah tidak muda lagi. Tahun ini umurnya menginjak setengah abad. Tapi, ia begitu lincah dan menguasai jalur menuju dusun yang akan kami tuju. Meskipun beberapa kali harus putar arah karena jalur yang kami lewati buntu dihadang pohon tumbang.

Keesokan harinya, Senin (15/4), usai sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Rute yang kami lalui nyaris sama seperti hari sebelumnya. Mendaki bukit, menyusuri lembah dan sungai serta melintasi bibir jurang.

“Hari ini, sebelum gelap kita harus sudah sampai di Dusun Belatung,” ujar Briptu Budi Utomo, anggota Polsek Putussibau Selatan yang ditugaskan mengawal surat suara ke Dusun Belatung. 

Bagi Budi, ini pengalaman keduanya dalam mengawal surat suara ke Dusun Belatung. Sebelumnya, ia juga ditugaskan untuk mengawal surat suara pada Pemilihan Kepala Daerah Kalimantan Barat tahun lalu. Sementara bagi saya dan rekan lainnya, adalah pengalaman pertama. Apalagi jalur yang kami lewati terbilang cukup ekstrem. 

Setelah melakukan perjalanan sehari penuh, akhirnya kami tiba di Dusun Belatung. Dusun yang terletak di pesisir Sungai Belatung yang berbatasan dengan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur itu.

Potret Dusun Belatung

Matahari berada persis di ufuk barat ketika kami sampai di dusun itu. Sepintas, dusun ini tidak jauh berbeda dengan perkampungan di pedalaman Kalbar pada umumnya. 

Dusun Belatung dihuni oleh masyarakat Dayak Punan. Kehidupan mereka boleh dikatakan sangat sederhana. Tinggal di rumah-rumah papan dengan ukuran kecil.

Dusun ini nyaris tak tersentuh pembangunan, tidak ada infrastruktur jalan, puskesmas, sambungan listrik dan jaringan telekomunikasi di sana. Satu-satunya yang menghubungkan mereka dengan dunia luar adalah televisi milik keluarga Kerawang, Ketua RT setempat. 

Itu pun baru mereka nikmati beberapa tahun terakhir, setelah masuknya program panel tenaga surya. Hanya saja, tidak semua rumah dalam kondisi terang benderang kala malam tiba. Masih ada beberapa rumah yang mengandalkan Pelita sebagai penerangnya.

Dusun Belatung sendiri dihuni 29 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 97 jiwa. Mata pencaharian mereka mengandalkan hasil hutan di sekitar kampung mereka. Mengumpulkan makanan dan buah dari tengah hutan, berburu, serta berladang seadanya. Sebagian lainnya bekerja sebagai penjaga gua burung wallet dan pendulang emas.

Tahun 2014 lalu, dusun ini sempat mengalami paceklik akibat kemarau panjang. Mereka gagal panen. Tanaman di ladang mati kekeringan. 

Meski kondisinya, jauh dari akses dunia luar, namun mereka tetap bertahan. 

Menurut Kepala Adat Dusun Belatung Utun, kampung Belatung merupakan perkampungan yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, dari berbagai daerah. Bahkan, kampung tersebut merupakan salah satu kampung tertua di hulu sungai Bekohuk dan Kapuas.

Mereka hidup secara komunal di rumah betang. Hanya saja, sejak 1966, masyarakat lebih memilih untuk mendirikan rumah pribadi. Hidup berdampingan bersama keluarga masing-masing. Sementara sebagaian warga lainnya pindah ke perkampungan lain. “Hanya kami yang masih bertahan. Dan kami tidak pernah pindah,” kata Utun. 

Menurut Utun, Dusun Belatung masuk dalam administrasi Desa Tanjung Lokang. Namun, beberapa tahun terakhir, dusun tersebut berada di wilayah Desa Kereho. 

“Kami seperti anak ayam tanpa induk. Sejak dua setengah tahun ini kami tidak memiliki kepala desa. Sejak dulu dusun kami masuk di Desa Tanjung Lokang, tapi sejak 2,5 tahun ini, masuk di Dusun Kereho,” katanya.

“Kami menjadi binggung. KTP kami Desa Tanjung Lokang. Bukan Desa Kereho,” sambungnya.

Untuk itu, ia berharap pemerintah daerah mengkaji ulang tentang status administrasi dusun mereka.

Seperti daerah lainnya di Indonesia, Dusun Belatung yang berada di pedalaman ini juga menggelar pesta demokrasi untuk memilih pemimpin tertinggi negeri dan para wakil rakyat di parlemen. Dengan harapan daerah mereka turut diperhatikan.

Setidaknya ada 54 DPT dari 97 jiwa yang berdiam di dusun itu. Pagi itu, suara megaphone sayup-sayup terdengar dari ujung kampung. Memanggil warga dusun untuk segera datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Warga pun berbondong-bondong mendatangi TPS untuk menggunakan hak suara mereka.

Bagi masyarakat Dusun Belatung, pemilu memang bukan hal yang baru Hanya saja, pemilu kali ini sedikit berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Jika pemilu sebelumnya petugas PPS, Panwas serta petugas keamanan tidak pernah hadir di tengah masyarakat, kini mereka datang dan menyelenggarakan pemilu secara Jurdil. 

Menurut Kerawang, Ketua RT setempat, baru dua tahun terakhir ini, Dusun Belatung menyelenggarakan pemilu lengkap dengan TPS dan petugasnya. Pemilu sebelumnya pada saat pemilihan kepada daerah (Pilkada) pada tahun 2018 lalu, dan Pemilu serentak pada tahun ini.  

“Ini yang kedua kalinya ada TPS di sini. Biasanya pak Kadus yang mengambil surat suara di Tanjung Lokang,” aku Kerawang.

Dalam proses pencoblosan kali ini, hanya ada 36 orang yang menggunakan suaranya dari 54 DPT yang menggunakan hak pilihnya. 

“Sebagian masih kerja. Ada yang kerja emas, ada juga yang kerja di provinsi lain,” timpal Utun, yang saat itu ditunjuk sebagai Ketua KPPS TPS 003 Dusun Belatung.

Meskipun demikian, proses pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta legislative berjalan aman dan lancar. 

Keesokan harinya, usai perhitungan suara, kami pun meninggalkan dusun Belatung dengan melalui rute yang sama. Menyusuri jalan setapak, menaiki bukit, menerobos hutan belantara, melewati rawa, menyeberangi sungai, meniti titian kayu, menuruni lembah, melewati dan bibir jurang.

Setetelah melakukan perjalanan dua hari satu malam, akhirnya kami pun tiba di Dusun Salin, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Putussibau. (*) 

Berita Terkait