Dua Dekade Lebih Yayasan Kakak Perjuangkan Nasib Korban Kekerasan Seksual

Dua Dekade Lebih Yayasan Kakak Perjuangkan Nasib Korban Kekerasan Seksual

  Minggu, 7 July 2019 09:07
PENDAMPINGAN: Salah satu korban kekerasan seksual tengah berkonsultasi dengan Ketua Yayasan Kakak, Shoim Sahriyati didampingi aktivis Yayasan Kakak, Intan HR di Kantor Yayasan Kakak, Solo. SEKARING RATRI/Jawa Pos

Berita Terkait

Banyak yang Tidak Sadar Mereka Sebenarnya Korban

Pendampingan anak-anak korban eksploitasi seksual komersial termasuk yang paling sulit. Pencegahan juga dilakukan lewat edukasi di sekolah, komunitas, dan lokasi rawan. 

SEKARING RATRI, Solo

MINUMAN itu ditenggaknya tanpa curiga meski pria yang menyodorkan baru saja dikenalnya lewat Facebook. Tak lama kemudian, kepalanya mendadak pusing. ”Lalu saya tidak ingat apa-apa. Tahu-tahu di kasur itu ada darah,” ujar Lia (bukan nama sebenarnya). 

Itulah awal horor yang dialami Lia di usianya yang baru 16 tahun. Dia menjadi korban kekerasan seksual. Tak hanya sekali, tetapi sampai empat kali. Ia bahkan hampir dijual. 

Namun, Lia berhasil kabur dan kembali ke rumah. Pelaku kemudian dilaporkan oleh pihak keluarga Lia ke polisi. Tak lama kemudian, ia pun ditangkap. Pelaku lantas menjalani proses hukum hingga akhirnya divonis. Sedangkan Lia mendapat pendampingan dari Yayasan Kakak, Solo untuk melawan trauma atas kejadian yang kelam itu. 

Yayasan Kakak sudah berdiri sejak lebih dari dua dekade lalu. Banyak Lia lain yang telah didampingi. Tak sedikit di antara mereka yang mengalami horor yang lebih mengerikan.

Misalnya Upik (13), penyandang tunagrahita di Solo. Tak berselang lama setelah tetangga kiri rumah yang melakukan kekerasan seksual divonis, tetangga kanan rumah yang sudah berusia lanjut juga melakukannya. Semua kebiadaban itu terjadi ketika ibunda Si Upik tengah bekerja sebagai buruh cuci. 

”Kami sampai nggak habis pikir, si pelaku itu selalu ada saat kami melakukan pendampingan. Kok kayak nggak ada rasa takut. Padahal, tetangga sebelahnya aja bisa diproses hukum,” ungkap Rita Hastuti, Sekretaris Yayasan Kakak.

Kekerasan seksual pada anak masih rentan terjadi di Indonesia. Pada 2017, misalnya, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan ada 393 korban dan 66 pelaku. 

Dibentuk pada 1997, awalnya Yayasan Kakak menyasar anak-anak yang kerap menjadi objek konsumen. ”Jadi, mereka ini objek konsumen, tapi mereka tidak punya perlindungan. Misalnya jajanan-jajanan itu, kalau mereka sakit ya tanggung sendiri,” jelasnya. 

Dalam perkembangannya, lanjut Rita, pendampingan terhadap anak juga dilakukan terkait bahaya merokok. Berikutnya, perhatian Yayasan Kakak semakin meluas dengan menyasar anak-anak korban eksploitasi seksual komersial anak. 

”Kami mulai melakukan pendampingan untuk anak-anak yang jadi korban prostitusi itu pada tahun 1999. Karena tahun 1997-1998 itu awal munculnya iklan-iklan handphone yang memengaruhi anak-anak remaja dan perilakunya menjadi konsumtif,” papar Rita.

Akhirnya Yayasan Kakak pun menyelami lebih jauh kehidupan anak-anak korban eksploitasi seksual komersial anak itu dengan melakukan wawancara. Ternyata mereka bisa berada di situasi tersebut karena pernah menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan orang terdekat. Ada yang pakde sendiri, ada pula yang pacarnya. 

”Akhirnya mereka minggat dan ketemu teman-teman yang menopang kehidupannya dengan berada di dunia prostitusi tadi. Dari situ kami tidak hanya fokus pada isu konsumen, tapi juga perlindungan anak,” ungkap perempuan 43 tahun tersebut.

Para korban yang mendapat pendampingan Yayasan Kakak umumnya berasal dari sekitar eks Karesidenan Solo. Untuk pendeteksian kasus, untuk prostitusi anak, para aktivis Yayasan Kakak biasanya terjun langsung ke kantong-kantong prostitusi. 

Kalau yang kekerasan seksual, biasanya ada permintaan pendampingan korban dari polisi, instansi pemerintah, atau panti rehabilitasi. Mengenai durasi pendampingan, beragam, bergantung kasus. 

”Kalau pelakunya dewasa, umumnya dari penangkapan sampai selesai proses hukumnya sekitar enam bulan. Kalau pelakunya kabur, ya sampai pelakunya tertangkap,” kata Intan H.R., salah seorang aktivis Yayasan Kakak. 

Tapi, ada pula kasus yang korban dan pelakunya sama-sama anak-anak. Direktur Shoim Sahriyati mengungkapkan, pernah ada satu kasus dengan pelaku berusia 11 tahun yang duduk di bangku SD dan si korban murid TK berumur 4 tahun. Keduanya bertetangga dan kerap bermain bersama. 

Awalnya korban mengadu pada ibunya bahwa alat kelaminnya terasa sakit. Namun, sang ibu belum curiga. Sampai akhirnya terjadi infeksi di alat kelamin putrinya. Si ibu baru mengetahui bahwa anaknya mengalami pelecehan seksual. 

”Ibunya langsung kemari dan nangis meraung-raung. Saya bilang, ibu di sini boleh nangis, tapi di depan anaknya nanti harus senyum saat menanyakan kronologi kejadian itu,” tutur ibu dua anak tersebut.

Sesuai instruksi Shoim, sang ibu tidak lupa menanyakan apa yang dirasakan putrinya saat itu. Jawabannya mengejutkan: si putri mengaku menikmati! ”Sangat penting menanyakan itu. Supaya kami tahu bagaimana cara healing-nya," jelas dia. 

Mengutip Komnas Perempuan, ada 15 jenis kekerasan seksual. Di antaranya pemerkosaan, intimidasi seksual (termasuk ancaman atau percobaan pemerkosaan), pelecehan seksual, eksploitasi seksual, dan perdagangan perempuan untuk tujuan seksual. 

Juga perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan (termasuk cerai gantung), pemaksaan kehamilan, dan pemaksaan aborsi. Termasuk pula pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi, penyiksaan seksual, penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan, serta kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

Saking beragamnya jenis kekerasan seksual, bahkan setelah bertahun-tahun memberikan pendampingan, Shoim mengaku masih kerap bergidik saat membaca BAP (berita acara pemeriksaan). ”Tapi ya harus tetap dilakukan,” katanya. 

Di antara semua jenis kekerasan seksual, proses pendampingan anak-anak korban eksploitasi seksual komersial termasuk yang sangat sulit. Sebab, mereka sudah terbiasa mendapatkan pendapatan tinggi meski risiko yang dihadapi juga tinggi.

Pendekatan kepada mereka tak boleh frontal. Sebab, banyak di antara mereka yang memiliki perilaku agresif dan meledak-ledak. Otomatis para aktivis Yayasan Kakak harus memiliki kesabaran ekstra. Mereka juga mesti siap merogoh kocek karena gaya hidup anak-anak itu cukup tinggi. 

”Kenalannya kami biasanya di kafe tempat mereka bekerja (menjajakan diri, Red). Tapi, ketemunya atau ngobrol lamanya di luar kafe. Biasanya di tempat kos atau di restoran karena mereka nggak mau makan di warung tenda,” terang Rita. 

Biasanya, lanjut Rita, dijelaskan dulu hak-hak anak dan soal kesehatan reproduksi. ”Sebab, mereka ini kan nggak tahu kalau mereka sebenarnya korban,” ujarnya.

Menurut Rita, meski cukup sulit, tidak sedikit yang akhirnya memilih menjalani hidup yang lebih baik. Ada yang kembali ke sekolah. Ada pula yang menjalani profesi yang sangat terhormat seperti guru. 

Sementara bagi yang belum mentas, meski masih aktif di dunia prostitusi, mereka yang merupakan binaan Yayasan Kakak tidak akan sembarangan memilih klien. Jika calon kliennya masih usia anak-anak atau di bawah 18 tahun, mereka akan tegas menolak. ”Ngopo kowe mrene, mulih kono, sinau (ngapain kamu kemari, pulang sana, belajar, Red),” ungkap Rita menirukan ucapan salah seorang binaan Yayasan Kakak. 

Di samping pendampingan proses hukum dan upaya pemulihan psikis anak korban kekerasan seksual, Yayasan Kakak gencar melakukan upaya pencegahan. Yakni dengan fokus pada pendidikan dan advokasi anak di area dekat lokalisasi, wilayah kumuh, dan lokasi-lokasi berisiko tinggi terhadap kekerasan seksual anak. 

Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan komunitas anak di sejumlah kelurahan di Solo. ”Kami berikan edukasi tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak serta melatih mereka menjadi konsumen cerdas,” kata Shoim. (*/c9/ttg) 

Berita Terkait