Drs. Sahroni Pustakawan Madya Dinas Kearsipan dan Keperpustakaan Provinsi Kalimantan Barat

Drs. Sahroni Pustakawan Madya Dinas Kearsipan dan Keperpustakaan Provinsi Kalimantan Barat

  Jumat, 26 April 2019 10:35

Berita Terkait

Manajer Ilmu Pengetahuan 

BANYAK yang mengira tugas seorang pustakawan hanyalah sebagai pelayanan untuk meminjam dan mengembalikan buku. Padahal, tugas pustakawan nggak hanya itu aja, guys! Sejatinya, pustakawan adalah manajer ilmu pengetahuan dan teman menjelajahi dunia. Bahkan, profesi ini memiliki banyak benefit untuk orang banyak, khususnya pemustaka. Nggak percaya? Kuy, dengerin chit chat tim Zetizen dengan Pustakawan Madya Dinas Kearsipan dan Keperpustakaan Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Sahroni. (ghe)

Apa saja tugas pustakawan?

“Secara teknis, tugas pustakawan mengelola informasi untuk kepentingan para pemustaka. Tentu ada teknisnya. Kaitannya dengan sumber informasi, bahan, serta koleksi perpustakaan yang menjadi domain perpustakaan itu sendiri. Secara garis besar pustakawan bisa menjadi jembatan antara sumber informasi yang dihasilkan oleh para pihak, seperti penerbit agar bisa  sampai ke pemustaka. Tentunya secara tepat, cepat dan mudah. Terlebih di era teknologi seperti saat ini. Pasti ada keterlibatan antara teknik kepustakawanan dan teknologi informasi. Selain itu, pustakawan juga bisa memberikan edukasi pada masyarakat bagaimana cara mendayagunakan perpustakaan dari mulai mencari, menyeleksi, kemudian meverifikasi, sampai mendayagunakan kembali.”

Apakah pustakawan wajib berada di perpustakaan?

“Sejatinya, pustakawan harus berada di perpustakaan, walaupun lembaga besarnya bisa saja bukan perpustakaan. Mungkin bisa perpustakaan (lembaga), atau bisa pusat dokumentasi dan informasi. Memang, dimana sumber informasi terhimpun, di situ ada pustakawan. Sumber informasi ada dua yang mungkin wujud fisiknya sama. Jika arsip lebih pada dokumen hasil transaksi, seperti surat menyurat. Pustakawan lebih ke dokumen atau sumber informasi yang diterbitkan untuk umum. Misalnya, buku, jurnal, dan lainnya. Bahkan sampai pada informasi yang bertebaran di dunia maya.”

Pustakawan menghadapi era teknologi?

“Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang ada, sudah pasti pustakawan harus bisa mengikutinya. Istilahnya, pustakawan jangan sampai gagap teknologi. Sekarang nggak bisa dipungkiri masyarakat lebih banyak memanfaatkan informasi dari media sosial. Pustakawan harus bisa menyesuaikan dan jangan terpaku dengan sumber informasi yang konvensional. Di perpustakaan harus tersedia sumber dari media sosial. Para pustakawan juga harus jeli memanfaatkan promosi perpustakaan di media sosial, misalnya melalui Twitter, Facebook, maupun lainnya. Ini dari sisi pemanfaatan promosi. Di sisi lain pustakawan juga memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat, misalnya terkait berita hoax. Menurut teorinya, informasi yang sudah masuk di perpustakaan sudah disaring oleh pustakawan melalui tahapan seleksi. Hingga nanti, hasil yang didapatkan benar-benar diperlukan oleh masyarakat.”

Adakah rencana menggandeng generasi Z sebagai pustakawan?

“Kaitan dengan keterlibatan generasi Z, pustakawan memang nggak bisa bekerja sendiri. Pustakawan harus bisa menggandeng para stakeholder usia generasi Z. Karena tanggung jawab pustakawan nggak hanya melayani, tapi juga mengedukasi dengan informasi yang ada. Kecenderungan generasi muda lebih senang dengan teknologi dan digitalisasi, seperti membaca buku atau komik secara nonkonvensional. Di sinilah pustakawan menggandeng generasi Z agar kembali tertarik membaca secara konvensional. Para pustakawan juga bisa membentuk kelompok kecil (klan) perpustakaan. Di beberapa daerah sudah banyak. Mulai dari kelompok membaca, keterampilan teknologi informasi (film pendek). Realisasinya bergantung kepada pustakawan yang bersangkutan. Apakah sudah memulai atau baru akan memulai. Untuk di perpustakaan provinsi Kalbar sudah dimulai sejak beberapa tahun belakangan. Baik kelas menulis, menggambar komik, dan lainnya.”

Apa yang perlu dipersiapkan sebagai pustakawan?

“Pustakawan adalah profesi, sama seperti  halnya guru, perawat, dan lainnya. Nggak ada persiapan khusus. Hanya jika ingin terjun, pertama perlu melihat minat yang bersangkutan. Kedua, dorongan dan melihat peluang ke depan (peluang pekerjaan). Kebetulan di Universitas Tanjungpura ada jurusan D-3 Ilmu Perpustakaan. Mungkin beberapa mahasiswa yang memilih jurusan ini memang didasari atas keinginan memperdalam ilmu, atau karena melihat peluang pekerjaan yang ada. Karena pustakawan cukup terbatas, baik di sekolah dan perguruan tinggi. Ini yang mungkin mendorong beberapa anak muda tertarik menempuh pendidikan di jurusan ini. Dulu pustakawan nggak populer, karena kerjanya hanya menunggu buku, meminjam, dan menerima pengembalian. Kenyataannya nggak demikian. Karena sebenarnya pustakawan adalah manajer ilmu pengetahuan yang mengatur lalu lintas antara ilmu pengetahuan dan pemustaka. Sangat benefit.” 

Berita Terkait