Dosa Sosial

Dosa Sosial

Senin, 26 February 2018 08:55   314

 DARI prespektif sosial, ternyata banyak diantara kita, baik secara individu maupun kelompok bergelimang dosa, Mahatma Gandhi menyebutnya “Tujuh Dosa Sosial” meliputi: (1) politik tanpa prinsip; (2) kekayaan tanpa kerja keras; (3) perniagaan tanpa moralitas; (4) kesenangan tanpa nurani; (5) pendidikan tanpa karakter; (6) ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan. Dan (7) peribadatan tanpa pengorbanan, dikutip dari Media Indonesia, 23 Februari 2018. 

Bapak Kasman Singodimejo, seorang pahlawan pergerakan nasional mengatakan bahwa “Tanpa politik, Indonesia sulit menyatakan kemerdekaannya, barangkali tanpa politik Indonesia belum merdeka hingga saat ini. Namun sayangnya sistem dan perilaku politik sangat pragmatis atau politik tanpa prinsip. Asumsi tersebut sangat jelas ketika menjelang penetapan pasangan calon kepala daerah pada pilkada tahun 2018 ini.  

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bekerja di dunia politik atas pertimbangan “Aku Dapat`Apa?”. Sebaliknya partai politik dan perilaku politisi yang sangat kuat memegang prinsip atau idealisme justru ditinggalkan oleh konstituennya atau tidak laku jual. Oleh karena itu jangan heran jika ada yang mengatakan bahwa politik itu mahal, kemenangan dalam dunia politik membutuhkan dana yang tidak sedikit, diraih melalui politik uang ibarat kentut atau politik balas budi. Sekalipun bangkrut, politik tanpa prinsip tersebut selalu dilakukan oleh mereka yang memiliki ambisi kekuasaan, kita berdoa semoga saja setelah memperoleh kekuasaan, memberi manfaat yang banyak bagi kesejahteraan masyarakat. 

Mochtar Lubis seorang budayawan dalam bukunya “Manusia Indonesia” sudah sejak lama menegaskan bahwa beberapa karakteristik atau ciri mentalitas manusia Indonesia, antara lain; mentalitas menerabas, atau jalan pintas, yakni mereka memperoleh atau mencapai prestasi di banyak bidang kehidupannya termasuk di dalamnya memperoleh kekayaan tanpa melalui kerja keras.

Misalnya, sekalipun telah ditetapkan merit system dalam promosi jabatan bagi aparatur sipil negara, tidak jarang promosi jabatan tersebut diberikan kepada seseorang melalui proses jual beli jabatan.  

Bapak Joko Widodo selaku presiden RI mencanangkan budaya kerja keras menjadi kesadaran kolektif seluruh rakyat Indonesia. Beliau berkeyakinan tanpa kerja keras bangsa ini sulit mencapai kemajuan, demikian sebaliknya.

Bagi mereka yang telah memiliki budaya kerja keras, tidak pernah menyesali hidupnya sekalipun mereka sering mengalami kegagalan. 

Sering kali kita mendengar ungkapan di tengah masyarakat terkait perniagaan ini bahwa “Tidak jujur saja sulit, apalagi harus jujur”.

Padahal jujur adalah kunci mencapai kesuksesan apapun profesi kita.

Dalam perniagaan, harus ditanamkan sebuah prinsip moral bahwa perniagaan yang kita lakukan karena alasan ingin membantu sesama umat manusia atau ingin win-win solution, dan prinsip moralitas perniagaan tersebut harus didasarkan rasa tulus ikhlas. 

Saat ini usaha perniagaan tidak akan berkelanjutan apabila diantara tidak saling percaya. Singkat kata, kepercayaan menjadi moralitas utama dalam perniagaan. Allah SWT tidak melarang semua orang untuk menikmati kesenangan dalam hidupnya dan bahkan ada sebuah ungkapan menyatakan bahwa;,“Bersenang-senang dahulu, sukses kemudian”, artinya semua orang sukses karena mereka memulai dan menjalaninya atas dasar rasa senang. 

Agama mengajarkan agar umat manusia tidak memperoleh kebahagian di atas penderitaan orang lain. Penulis sudah banyak menemui kasus dimana seseorang menderita dalam hidupnya akibat perbuatan zholim yang dilakukannya terhadap orang lain. Bahkan penulis dalam banyak kesempatan mengatakan, “Bersabarlah terhadap perilaku tidak menyenangkan yang dilakukan orang lain kepadamu, percayalah, di tempat dan di saat ini engkau dihinakan, di tempat dan di waktu lainnya engkau dimuliakan dan ditingkatkan derajatmu oleh Allah SWT”.  

Kembali penulis kutip pandangan Mahatma Gandhi yang mengatakan “Segala Sesuatu karena Karakter”. Sudah sejak lama dicanangkan pentingnya pendidikan berbasis karakter tersebut, jauh sebelum negeri ini merdeka, KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 melalui Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari melalui Nahdatul Ulama, bapak presiden RI pertama Ir. Soekarno mencanangkan “Character Building” dan saat ini, bapak Joko Widodo selaku presiden RI ke-7 mencanangkan “Revolusi Mental”. 

Namun dalam implementasinya, pendidikan berbasis karakter belum berjalan secara efektif. Beberapa bukti ketidakefektifan pendidikan karakter selama ini: (1) Kesalahan konseptual dimana pendidikan karakter adalah sebuah mata pelajaran, tanpa terintegrasi terhadap mata pelajaran lain; (2) Pendidikan karakter harus dilakukan secara prioritas dan konsisten, faktanya selama ini terlalu banyak nilai karakter yang harus ditanamkan tanpa menentukan prioritas nilai mana yang sangat diperlukan; dan (3) Pendidikan karakter tidak dilakukan melalui pembiasaan dan ketauladanan, 

Ilmu pengetahuan lahir ke dunia ini memiliki misi mulia untuk tugas kemanusiaan. Pemanfatannya sangat tergantung kepada para pengguna ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, ibarat pisau bermata dua.

Ketika terjadi dekadensi moral generasi muda sekarang ini, tidak sedikit diantara kita mengatakan perilaku menyimpang tersebut adalah dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti internet, televisi dan sebagainya. Kesalahan kita selama ini, seringkali menyalahkan ilmu pengetahuan dan teknologi hanya ingin membela dosa-dosa para pengguna ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.

Peribadatan dalam Islam berdimensi sosial, kaum muslimin diwajibkan  berpuasa secara ritual dan puasa sosial. Tanpa memisahkannya dengan ibadah shalat. Karakteristik orang mukmin lebih berdimensi sosial dibanding dimensi individual. Oleh karena itu, semua  ibadah yang dilakukan wajib memberi dampak kepada kemanusiaan. *

Penulis: Dosen FKIP UNTAN

 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019